Puskesmas Jila Sedang Tangani 9 Kasus Stunting

Bagikan Bagikan
Pemberian makanan tambahan saat pelayanan Posyandu di Puskesmas Jila beberapa waktu lalu (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Pihak Puskesmas Jila saat ini sedang menangani 9 kasus stunting atau kondisi kurang gizi kronis.

Hal ini disampaikan Kepala Puskesmas Jila, Mesak Pekei kepada Salam Papua di Timika, Sabtu (22/5/2021).

Ia mengatakan, 9 kasus stunting yang dialami Balita di Jila ini diketahui pada akhir Tahun 2020 lalu dan penanganannya masih dilakukan hingga saat ini.

“Kami ketahui kasus ini saat melakukan Posyandu, dari kondisi fisik anak yang lebih pendek atau kerdil dari anak seusianya dan ada juga yang sakit, begitu diperiksa diketahui memang kurang gizi. Saat ini kami masih lakukan penanganan dan Kondisi sembilan Balita ini sudah lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.

Dikatakan, penanganan dilakukan dengan cara pemberian vitamin setiap hari dan pemberian makanan tambahan yang bergizi oleh pihak Puskesmas 3 kali dalam seminggu di Posyandu.

“Jadi pelayanan Posyandu sebenarnya satu bulan sekali tapi khusus anak-anak kurang gizi kami lakukan tiga kali dalam seminggu,” ujarnya. 

Menurutnya dalam penanganan kasus stunting pihaknya menggunakan dana dari Puskesmas.

Selama ini tidak ada bantuan dana dari kampung untuk pelayanan Posyandu termasuk penanganan stunting.

“Sudah lebih dari 10 tahun saya jadi kepala Puskesmas di Jila ini tidak pernah ada bantuan dana dari kampung untuk pelayanan kami,” ujarnya.

Selain stunting pihaknya juga menangani dua kasus TB. Kedua orang yang menderita TB ini diketahui saat berobat di Rumah Sakit Mitra Masyarakat Timika, dan saat ini masih konsumsi obat program dalam pengawasan pihak Puskesmas.

“Kami tetap awasi mereka dalam konsumsi obat dan rutin mengontrol kondisi mereka,” ujarnya.

Diungkapkan juga, selain resiko TB masyarakat di Jila rentan dengan resiko gangguan pernapasan karena rumah yang ditempatinya bukan rumah sehat.

“Rata-rata masyarakat di Jila tinggal dalam honai mereka belum memiliki rumah sehat. Dalam honai sirkulasi udara kurang bagus ditambah kondisi daerah yang dingin sehingga masyarakat menghangatkan badan dengan menyalakan api dalam rumah. Asap api yang terus dihirup itu yang membuat masyarakat rentang dengan gangguan pernapasan,” pungkasnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar