Shalat Id di Wilayah PTFI Terbatas Untuk Karyawan dan Keluarganya

Bagikan Bagikan
 Suasana Shalat Id di Masjid Raya Baitur Rahim Kuala Kencana Timika (Foto:SAPA/Jefri Manehat)

SAPA (TIMIKA) – PT. Freeport Indonesia (PTFI) membatasi karyawannya melakukan shalat Idul Fitri 1442 H bersama di wilayah Kuala Kencana Timika, Kamis (13/5/2021).

Shalat Id ini hanya diperuntukan bagi karyawan dan keluarga karyawan, sedangkan yang bukan karyawan dilarang.

Ketua Panitia sekaligus Ketua YMM Lawland, Muhammad Isnadi mengungkapkan, shalat id di wilayah PTFI tersebar pada beberapa titik yakni Area Highland atau daerah dataran tinggi yang dilaksanakan di lapangan sepak bola Tembagapura, sedangkan Area Lawland atau dataran rendah dilaksanakan di 4 titik, yakni Masjid Raya Baitur Rahim Kuala Kencana, Masjid Anni'mah MP38, Masjid Al Istiqmah Base Camp,  dan Masjid Al Ikhlas Portsite.

Isnadi menuturkan, shalat id di wilayah PTFI tersebut sesuai dengan protokol kesehatan (Prokes) dan sengaja dibatasi agar tidak terjadi kerumunan, sebagaimana komitmen PTFI untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Dari pantuan Salam Papua, setiap orang yang masuk ke wilayah Kuala Kencana untuk melakukan shalad Id harus memiliki ID PTFI dan setiap karyawan yang akan melakukan shalat harus memiliki barkot, sehingga bagi jamaah yang tidak memiliki ID dan barkot tidak diizinkan untuk masuk ke wilayah kuala kencana.

Shalat id di Masjid Raya Baitur Rahim Kuala Kencana  itu dipimpin KH. Khairul Muttaqin LC. Al Hafiszh.

Selaku Khatib dan Imam Dalam Khotbah KH. Khairul Muttaqin LC. Al Hafiszh mengatakan agar seusai bulan Ramadhan umat muslim tetap menjaga hati, sikap dan perilaku, dan selalu mengintrospeksi diri agar Ramadhan tidak berlalu begitu saja tanpa sebuah perubahan bagi umat muslim.

“Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah bagi umat Muslim untuk membenah diri, sehingga jangan biarkan ramadhan berlalu begitu saja, tanpa ada pengampunan diri atau perubahan dalam diri. Bulan ramadhan telah berakhir, namun kehidupan kita harus tetap mencerminkan ramadhan,” ujar KH. Khairul Muttaqin LC. Al Hafiszh dalam ceramahnya.

Ia berpesan agar umat Muslim tidak menganggap ramadhan sebagai musim kebaikan dan musim ketaatan kepada Allah, tetapi selepas ramadhan semua kebaikan dan ketaatan itu ditinggalkan.

“Kita sebagai manusia tidak selamanya berada pada waktu yang sama, kita tidak bisa dipungkiri itu, perubahan waktu membuat kita untuk selalu mengevaluasi dan mengkaji diri. Tetaplah berbuat baik seakan ramadhan tidak pernah meninggalkan kita, perbuatan baik yang telah terbangun selama bulan ramadhan tetaplah dijaga sehingga menjadi bukti suskesnya ramadhan,” tuturnya. (Jefri Manehat)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar