33 Karyawan PT. Freeport Indonesia di Tembagapura Diamankan Polisi

Bagikan Bagikan
Screenshoot foto dan video aksi pemalangan oleh karyawan di mile 72 yang diunggah ke salah satu akun Facebook pribadi warga di Mimika (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) – Kurang lebih 33 orang karyawan PT. Freeport Indonesia (PTFI) di Tembagapura diamankan aparat kepolisian lantaran melakukan aksi penolakan vaksinasi covid-19 dengan memalang jalan menggunakan alat berat serta membakar api di tengah jalan di ridge camp mile 72.

Kapolsek Tembagapura, Iptu Manase Sayori,S.E saat dihubungi via telepon mengatakan bahwa aksi ini terjadi saat sore hari hingga malam pada tanggal 27 Juni lalu dan puluhan karyawan diamankan ke mile 32 sebagai upaya tindakan penegakan hukum, mengingat mereka melakukan aksi tanpa mengantongi izin dari kepolisian, dalam hal ini Polsek Tembagapura.

Puluhan karyawan ini diamankan agar tidak mempengaruhi karyawan lainnya, sehingga masalah serupa tidak terus menerus terjadi.

“Memang dalam UU mengatur bahwa siapapun berhak menyampaikan pendapat, tetapi aksi mereka itu tidak meminta izin. Mereka juga lakukan pemalangan jalan dengan alat berat dan bakar-bakar di tengah jalan. Itu tentunya sangat menghambat aktivitas,” kata Iptu Manase, Selasa (29/6/2021).

Selain itu, aksi pemalangan juga dibubarkan secara paksa lantaran sejumlah karyawan terkait tidak mau membuka palang. Kepolisian dan manajemen PTFI telah lakukan pertemuan dan menjelaskan bahwa pihak kepolisian hadir mengingat yang dilakukan adalah aksi pemalangan, sehingga mengganggu aktivitas.

Dijelaskan, vaksin yang dilakukan memang tanpa ada paksaan, tetapi hal tersebut merupakan anjuran Pemerintah dengan tujuan untuk menyelamatkan setiap orang dari pandemi Covid-19.

Menurut dia, usai mendapat penjelasan, puluhan karyawan ini juga menuntut adanya MoU agar tidak lagi dilakukan rapid test saat hendak naik pesawat. Namun, permintaan tersebut sangat bertentangan dengan peraturan pemerintah dalam upaya menekan kasus covid-19.

“Kami jelaskan bahwa vaksin ini tidak ada paksaan, tapi kenapa sampai buat aksi pemalangan? Mereka juga tuntut MoU agar tidak ada rapid test untuk naik pesawat, tapi kalau soal itu tidak bisa kita paksakan, karena berkaitan dengan aturan penerbangan. Kami minta untuk buka palang tapi mereka bersih keras tidak mau buka. Saya bicara dengan mereka hampir lima jam, karena aksi itu dari pukul 16.30 WIT sampai 23.30 WIT. Puluhan orang yang dianggap sebagai provokator itu kita bawa ke Timika sekitar jam 01.00 WIT dini hari tanggal 28 Juni itu,” tuturnya.

Iptu Manase juga menjelaskan bahwa dalam aksi pemalangan ini sempat ricuh, sehingga ada beberapa karyawan yang mengalami luka-luka lantaran ulah sendiri yang berlarian hingga terjatuh ke tebing. Untuk itu, diharapkan masyarakat tidak terpancing dengan foto-foto yang saat ini tersebar di media sosial.

“Palingan foto-foto yang tersebar itu ulah oknum yang sengaja buat supaya seolah-olah mengerikan. Intinya tindakan yang dilakukan aparat itu terukur dan tidak ada tindakan yang sampai fatal. Yang namanya manusia, pasti ingin cari alasan sendiri dan membuat heboh, tapi sebagai aparat, kita punya alasan jelas,” tegasnya.

Informasi aksi penolakan vaksinasi ini juga tersebar di akun Facebook pribadi dan grup beranggotakan ribuan pengikut di Mimika. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar