50 Persen Guru di Timika Tolak Vaksinasi Merupakan Guru di Sekolah Negeri

Bagikan Bagikan
Reynold Ubra (Dok:SAPA)

SAPA (TIMIKA) - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra mengungkapkan, jumlah guru di Kabupaten Mimika, baik itu Sekolah Negeri maupun Sekolah Swasta yang terdiri dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA yang akan divaksin mencapai 2.000 orang.

Namun dari jumlah tersebut, Reynold mengaku, 50 persen guru menolak untuk menerima vaksinasi covid-19.

“Guru-guru yang menolak untuk divaksin ini rata-rata dari guru-guru yang ada di sekolah negeri, sekolah swasta lebih patuh untuk menerima vaksinasi,” ungkap Reynold, Rabu (9/6/2021).

Dia menambahkan, dari 50 persen guru yang menolak untuk divaksin mengemukakan alasan bahwa memiliki penyakit penyerta seperti asma, namun secara medis pada saat dilakukan pemeriksaan tidak ditemukan penyakit demikian.

“Bahkan ada juga guru yang merasa takut dan tidak percaya, apalagi adanya isu-isu atau informasi- informasi hoax yang beredar di media sosial. Semua orang punya hak untuk menolak, tapi ini sudah menjadi syarat ketika sekolah harus kembali melakukan tatap muka, dan ini juga akan menjadi bahan Dinkes untuk melakukan sosialisasi lebih luas kepada masyarakat dan guru terkait vaksinasi,” terangnya.

Dia menyebutkan, agar semua guru bisa divaksin, Dinkes akan melakukan rapat koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika.

“Keputusan sekolah kembali tatap muka itu datang dari tim Satgas, kami dari Dinkes akan merekomendasikan kepada Satgas agar sekolah tidak diperbolehkan untuk tatap muka jika guru-gurunya belum divaksin,” ujarnya.

Di samping itu, dia juga mengemukakan bahwa pelaksanaan vaksinasi di Kabupaten Mimika sudah mencapai 65 persen atau kurang lebih 26 ribu orang di Kabupaten Mimika telah divaksinasi.

Dirinya mengaku, ada beberapa orang mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang terjadi setelah vaksinasi covid-19 menggunakan vaksin sinovac, namun hanya bergejala ringan.

Rey yang ditemui di Hotel Grand Tembaga, Rabu (9/6/2021) menerangkan, dari 26 ribu orang yang sudah divaksin, terdapat 6 orang yang memiliki gejala namun hanya ada satu orang yang memiliki gejala serius sedangkan 5 di antaranya tidak memiliki gejala serius.

“KIPI yang agak serius itu dikarenakan penyakit (meningitis) bersangkutan kambuh bersamaan dengan ketika disuntik vaksin. Jadi itu bukan karena divaksin tapi karena ada penyakit bawaan bersangkutan, sementara 5 orang lainnya hanya panas biasa,” terang Rey.

Selain KIPI, 12 orang juga terpapar covid-19 pasca vaksinasi, namun hanya bergejala ringan.

“Ini menunjukan bahwa orang yang sudah divaksinasi dan ketika terpapar covid-19, 90 persen hanya bergejala ringan,” ungkapnya.

Dia mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak takut dan tidak termakan informasi-informasi hoax, karena pada intinya vaksinasi diberikan untuk memberikan kekebalan tubuh bagi setiap orang. Namun ia juga meminta agar masyarakat yang belum menerima vaksinasi maupun yang telah menerima vaksinasi tetap menjaga protokol kesehatan. (Jefri Manehat) 

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar