Kalangan Pelajar Menjadi Pengguna Narkotika Terbanyak di Timika, Pengguna Narkotika Golongan I

Bagikan Bagikan

Kompol Mursaling,S.H.,M.H (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Kalangan pelajar merupakan pengguna narkotika terbanyak di Timika, dan parahnya yang digunakan adalah narkotika golongan I.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Mimika, Mursaling, S.H.,M.H kepada Salam Papua di Timika, Selasa (20/7/2021).

Ia mengatakan, sejak tahun 2020 hingga saat ini sudah 20-an pelajar yang direhabilitasi BNN Kabupaten Mimika.

Menurutnya jenis narkotika yang digunakan pelajar adalah sinte atau jenis cairan yang disemprotkan ke tembakau atau dimasukan dalam cairan lain.

“Selama ini yang kita tangani menggunakan sinte mulai dari 2020 sampai sekarang ada 20-an pelajar yang kita rehabilitasi di sini. Untuk tempat rehabilitasi tidak bisa kami sebutkan sifatnya rahasia,” katanya.

Narkoba jenis sinte, lanjut dia, lebih banyak digunakan pelajar karena mudah didapat dan harganya terjangkau.

“Banyak pelajar yang gunakan sinte karena mudah didapat dan harga terjangkau. Narkotika jenis ini lebih banyak dari Makassar dan Jakarta masuk ke Timika,” ujarnya.

Untuk itu ia mengimbau kepada orangtua agar menjaga dan mengawasi pergaulan anaknya. Jika anak sudah ketahuan ketergantungan narkotika dilaporkan ke BNN untuk direhabilitasi.

“Oleh karena itu perlunya orangtua untuk menjaga dan mengawasi anak-anaknya dan melaporkan ke BNN untuk direhabilitasi jika ada ketergantungan seperti ganja dan sinte,” tuturnya.

Dijelaskan dalam ketentuan Undang-undang Narkotika nomor 35 tahun 2009 dalam pasal 54 bilamana ada ketergantungan kecanduan kewajibannya direhabilitasi bukan diproses hukum.

“Mudah-mudahan masyarakat lebih memahami lagi supaya dilaporkan anaknya atau keluarganya kalau ketergantungan untuk direhabilitasi secara sosial oleh BNN Kabupaten Mimika,” ujarnya.

Masih menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dijelaskan, pengertian narkotika ialah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Lebih jelas lagi, dalam Pasal 6 Undang-Undang tersebut dipaparkan pula pembagian narkotika menjadi beberapa golongan yakni golongan satu, dua dan tiga. 

Narkotika golongan satu ini hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

“Contohnya heroin, kokain, daun kokain, opium, ganja, jicing, karinon, MDMDA/ekstasi, dan lebih dari 65 macam jenis lainnya termasuk sinte yang digunakan banyak pelajar di Timika,” ujarnya.

Dikatakan untuk narkotika golongan dua  berkhasiat untuk pengobatan, namun digunakan sebagai pilihan terakhir dan sesuai resep dokter. Selain itu, dapat digunakan untuk terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.

“Yang masuk dalam golongan dua ini morfin, petidin, fentanil, metadon,” sebutnya.

Kemudian narkotika golongan 3 berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

“Yang masuk golongan tiga itu seperti kodein, buprenorfin, etilmorfina, nikokodina, polkodina, propiram, dan ada tiga belas macam termasuk beberapa campuran lainnya,” sebutnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar