Litbangkes Papua Mulai Periksa Varian Delta COVID-19

Bagikan Bagikan

Kepala Litbangkes Papua dr. Antonius Oktavian. (Foto-Antara)

SAPA (JAKARTA)
- Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Papua sudah mulai memeriksa ada atau tidaknya varian Delta COVID-19 yang menjangkiti warga di provinsi itu. 

Memang betul kami sudah mulai melakukan pemeriksaan setelah terkumpul 48 sampel yang berasal dari pasien COVID-19, kata Kepala Litbangkes Papua dr. Antonius Oktavian di Jayapura, Minggu. 

Dikatakan, sampel yang diperiksa itu untuk mengetahui apakah varian Delta sudah menyebar di Papua atau belum dan hasilnya baru diketahui sebulan kemudian. 

Ada empat petugas laboratorium yang bertugas menangani pemeriksaan sampel tersebut, kata dr. Anton seraya menambahkan sampel yang diperiksa itu berasal dari pasien yang terinfeksi ulang dengan gejala berat, sudah divaksin dan terinfeksi berat, anak-anak dengan CT rendah atau gejala berat dan penyebaran yang masif. 

Sementara itu Kepala Labkesda Papua Sally Ajawaila secara terpisah mengakui walaupun secara laboratorium belum dipastikan adanya varian Delta namun kondisi yang ditemukan dari hasil pemeriksaan laboratorium terungkap CT pasien positif COVID-19 rendah. 

Namun untuk memastikan kita masih menunggu hasil pemeriksaan dari Litbangkes Papua, kata Sally Ajawaila seraya menambahkan, penularan yang terjadi saat ini lebih cepat misalnya kalau satu orang ditemukan satu orang positif maka yang kontak erat setelah diperiksa hasilnya 90 persen positif. 

Karena itu pihaknya berharap masyarakat benar-benar mematuhi protokol kesehatan, harap Sally Ajawaila, 

Jubir Satgas Pencegahan dan Penanganan COVID-19 Papua dr. Silwanus mengakui, peningkatan kasus COVID-19 saat ini cukup signifikan sehingga masyarakat diharapkan benar-benar menerapkan prokes. 

Secara komulatif hingga Jumat (16/7) kasus positif COVID-19 tercatat 29.463 orang, 23.191 orang sembuh, 4.945 orang dirawat dan 599 orang meninggal. 

"Sebanyak 16 kabupaten dan kota di Papua yang warganya ada yang terpapar COVID-19," jelas dr. Silwanus. (Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar