Sudah Divaksin Bukan Berarti Terhindar Dari Covid-19, Wabup Mimika: Masyarakat Patuhi Prokes Secara Ketat!

Bagikan Bagikan

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,M.M (Dok:SAPA)

SAPA (TIMIKA) – Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,M.M mengatakan bahwa setiap orang yang telah divaksin bukan berarti akan terhindar dari covid-19, untuk itu masyarakat diminta tetap patuhi protokol kesehatan (Prokes) secara ketat.

Wabup John mengungkapkan, Pemerintah terus menekan angka covid-19 dengan cara mengawasi penerapan Prokes dan mempercepat program vaksinasi kepada masyarakat.

Masyarakat perlu ketahui bahwa vaksinasi covid-19 diberikan bukan untuk membuat seseorang terhindar dari covid-19 tapi untuk meningkatkan imunitas tubuh manusia, dimana ketika seseorang sudah divaksin dan ternyata terinfeksi virus covid-19 maka pengaruhnya akan lebih ringan dibanding yang tidak divaksin.

“Ketika seseorang diberikan vaksin dosis pertama, imunitas tubuhnya bukan berarti langsung terbentuk. Setelah 28 hari kemudian diberikan vaksin dosis kedua, dan masih menunggu 1 bulan setelahnya baru imunitas tubuh orang itu terbentuk. Itu pun peningkatan imunitas tubuh setiap orang juga berbeda-beda setelah dirinya divaksin secara penuh (dua kali divaksin), karena ada yang ternyata sesudah divaksin imun tubuhnya belum terbentuk setelah 3 bulan. Itu tergantung dari tubuh masing-masing orang,” ungkapnya saat dihubungi Salam Papua melalui sambungan telepon pada Minggu malam (18/7/2021).

Untuk itu dia menegaskan supaya masyarakat Mimika tetap mematuhi Prokes secara ketat, bersedia memberi diri untuk divaksin, serta tetap menjaga imun tubuh.

“Jadi kita semua hati-hati, tetap jaga Prokes dan menghindari kerumunan. Bagi yang sudah divaksin tetap juga jaga Prokes. Imun tubuh tetap dijaga, makan makanan yang bergizi dan cukup. Covid itu ada, walaupun tidak kelihatan,” tegasnya.

Dirinya menyarankan bagi masyarakat yang sudah divaksin bisa memeriksakan imun tubuhnya ke fasilitas kesehatan yang dapat melakukan hal tersebut.

“Saya sarankan kepada masyarakat, kalau sudah lebih dari 1 bulan setelah melakukan vaksinasi yang kedua boleh ke laboratorium untuk memeriksa imun tubuhnya,” tutur Wabup John.

Dia menambahkan bahwa memang pemerintah tidak dalam posisi memaksakan setiap orang untuk divaksin, tetapi alangkah lebih baik setiap orang menjaga sesamanya agar tidak tertular covid-19 dengan cara melindungi dirinya melalui vaksinasi, sehingga nantinya terbentuklah herd immunity.

Wabup John bahkan memberi contoh seperti yang terjadi di Eropa, di mana 80% rakyatnya sudah divaksinasi dan akhirnya salah satunya mereka dapat menyelenggarakan pertandingan sepakbola piala Eropa yang dihadiri oleh ratusan ribu bahkan jutaan penonton yang sudah tidak lagi memakai masker dan menjaga jarak karena salah satu syarat untuk dapat masuk ke gedung pertandingan tersebut adalah dengan menunjukkan sertifikat vaksin.

“Pemerintah tidak pernah berkeinginan untuk membunuh atau menyengsarakan rakyatnya. Menolak untuk divaksin itu memang hak azasi setiap orang, tapi pemerintah bermaksud untuk membentuk herd immunity (kekebalan kelompok, Red) supaya masyarakat dapat hidup normal kembali dan memulihkan kembali ekonomi seperti yang terjadi saat ini di Eropa,” ungkapnya. 

Dia pun berharap supaya masyarakat tidak perlu takut dan cemas dengan berbagai berita tentang pandemi covid-19. 

“Yang terpenting masyarakat mematuhi berbagai anjuran pemerintah serta secara disiplin menjaga kebersihan dan kesehatan agar imunitas tubuh kita tetap terjaga dengan baik. Dan juga, bersama-sama baik pemerintah, masyarakat, maupun stakeholder bekerjasama untuk mencegah penyebaran covid-19 ini,” tutupnya. (Red)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar