Tony Wenas: Lingkungan dan Masyarakat Sekitar Harus Tumbuh Bersama Freeport

Bagikan Bagikan
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas saat kegiatan Kompas Talks Restorasi Ekosistem untuk Keberlanjutan Keanekaragaman Hayati (Foto:screenshoot)

SAPA (TIMIKA) – PT. Freeport Indonesia (PTFI) berkomitmen agar lingkungan di sekitar perusahaan dan masyarakat harus tumbuh bersama PTFI.

Hal ini disampaikan Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, pada kegiatan Kompas Talk yang diselenggarakan oleh Harian Kompas bersama PTFI dengan tema “Restorasi Ekosistem untuk Keberlanjutan Keanekaragaman Hayati” melalui live on zoom dan live streaming, Selasa (6/7/2021).

Ia mengatakan, PTFI konsisten terhadap lingkungan hidup, terhadap pembangunan ekonomi, terhadap masyarakat sekitar.

“Jadi kami percaya bahwa lingkungan sekitar kita dan masyarakat di sekitar kita harus tumbuh bersama-sama dengan kami. Jadi itu komitmen kita menjadi bagian dari Sustainable Development Goals (SDGs),” kata Tony.

Ia mengungkapkan, ada beberapa item dari SDGs itu sudah dilakukan mengenai keanekaragaman hayati dan pelestarian lingkungan.

“Ada banyak hal yang sudah kita lakukan mulai dari reklamasi, contohnya di pusat penelitian keanekaragaman hayati di dataran rendah yang disebut dengan Mil 21. Di situ kita buktikan bahwa lahan telling, lahan sisa pasir bekas tambang itu tumbuh subur kembali,” ungkapnya.

Dijelaskan, PTFI terus melakukan restorasi di lahan bekas tambang operasionalnya meliputi reklamasi dan rehabilitasi yang sudah mulai dilakukan sejak 1999.

“Reklamasi dari tahun 1999 sampai tahun lalu itu sudah lebih dari 2.800 hektar yang kita tanami kembali. Itu di area Grasberg, Tembagapura, Kuala Kencana dan beberapa wilayah lagi,” ujarnya.

Dikatakan, pada semester pertama tahun ini sudah ditanami kembali satu juta pohon dengan cakupan luas 400 hektar. Bahkan rencananya tahun 2021 ini bisa mencapai 2,7 juta pohon di lahan sekitar 2000 hektar.

Menurut dia, keberlangsungan ekosistem hayati menjadi penting, mengingat aktivitas tambang akan berhenti pada masa mendatang.

"Suatu saat aktivitas tambang akan berhenti, dan kita perlu meyakinkan masyarakat setelah menambang di sana, masyarakat di sekitar kita dapat terus melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik lagi," tutur dia.

Selain melakukan restorasi, PTFI juga fokus melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar terkait keberlanjutan ekosistem hayati.

Tidak kalah pentingnya pendidikan mengenai keanekaan keanekaragaman hayati ini dan mengenai lingkungan sehingga pihak PTFI menerbitkan 12 jenis buku untuk mengedukasi siswa-siswa mulai dari SD, SMP dan SMA.

“Siswa-siswi diberikan kesempatan berkunjung ke wilayah konservasi kami supaya mereka mengerti mengenai keanekaragaman hayati di Papua yang kaya ini dan juga bagaimana belajar caranya kita memperlakukannya di masa depan,” ujar Tony.

Kegiatan yang dipandu moderator Nitias Anisa, news anchor Kompas TV ini, juga menghadirkan panelis lain selain Tony Wenas, yakni Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem KLHK RI, Wiratno, Dewan Pembina Yayasan Kehati, Erna Witoelar, Public Figure dan Penggiat Lingkungan, Nugie, dan Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat, Charlie D. Heatubun. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar