Mimika Urutan Lima Tertinggi Temuan Kasus TBC

Bagikan Bagikan
Kepala Dinas Kabupaten Mimika, Reynold Ubra (Foto : SAPA/Acik N.)

SAPA (TIMIKA) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika melaporkan bahwa, saat ini Mimika masuk dalam urutan ke lima tertinggi atas penemuan kasus TBC (Tuberculosis) di Indonesia. 

Kepala Dinkes Mimika, Reynold Rizal Ubra saat pelaksanaan teleconference dalam rangka memperingati hari TBC sedunia diruang pertemuan lantai III Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Mimika, mengatakan, Mimika yang masuk urutan ke lima bukan karena kasus TBC saja, tetapi karena Dinkes gencar mencari kasus ini sejak tahun 2014.

“Jadi setiap mendapatkan laporan satu kasus, petugas puskesmas langsung mendatangi  rumah-rumah untuk memeriksa anak-anak yang ada didalam rumah dan tetangganya. Mendeteksi kasus saat ini semakin baik. Ini terbukti dengan bagaimana perjalanan penemuan kasus di Mimika,” kata Reynold.    

Di tahun 2018, tiap harinya di seluruh fasilitas kesehatan (faskes) pihaknya bisa menemukan lima hingga enam kasus TBC. Padahal, sebelum tahun 2014 kasus TBC tidak nampak dan bukan menjadi permasalahan. Tetapi setelah puskesmas semakin bertambah dan petugasnya mulai gencar mencari kasus TBC, sehingga hal itu mulai muncul ke permukaan.

Kemudian, dijelaskan perbandingannya dari 10 penemuan kasus ini terdapat 6-7 merupakan masyarakat asli Papua, sedangkan sisanya adalah masyarakat pendatang.

Khusus di Mimika, yang beresiko terkena TBC merupakan anak-anak berusia di bawah 14 tahun yag disebabkan oleh sarana dan prasarana pemukiman yang tidak memadai.

“Tahun ini kami targetkan bisa menemukan 200 kasus TBC. Cari kasus TBC ini sama dengan proses di penambangan emas yang harus dicari sampai ke perut bumi. Bisa dipastikan kalau kita lakukan screening didalam ruangan ini, ada empat sampai lima orang yang diduga TBC,” katanya.

Yang menjadi permasalahan sehingga Indonesia berada di urutan ke tiga kasus TBC ialah persoalan sanitasi, dan hal itu juga yang terjadi di Mimika.

Selain itu, budaya yang melekat di masyarakat, menunggu sakit barulah mengunjungi fasilitas kesehatan untuk berobat.

“Padahal kita sudah ada BPJS kesehatan. Pemeriksaan juga dilakukan secara berkala. Obat juga sampai saat ini masih tersedia,” ujarnya.

Reynold mengatakan untuk menekan penemuan kasus TBC di Mimika tentu membutuhkan anggaran. Di mana, untuk satu pasien TBC yang menjalani pengobatan selama enam bulan, pemerintah harus menyediakan anggaran sebesar Rp2,9 juta hingga pasien sembuh. Namun, dari jumlah biaya tersebut, ada juga yang hanya sebesar Rp175  ribu harus ditanggung pasien.

“Ini yang menjadi masalah kalau pasien atau keluarganya tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tidak mempunyai jaminan kesehatan. Terutama ketika pasien ini harus kembali mengambil obat, berarti dia harus bolak balik dengan ongkos transportasi,” tuturnya.

Solusi untuk mengatasi persoalan ini yakni dengan memanfaatkan kader-kader kesehatan. Kemudian Dinas Pemberdayaan Perempuan juga dapat memanfaatkan kader sebagai pendamping guna melakukan sosialisasi terutama di kampung-kampung. Selebihnya, setiap masyarakat wajib mengenakan masker agar tidak mudah terpapar dengan penderita TBC.

Selain itu, mengingat TBC berdampingan dengan HIV dan Diabetes (Penyakit gula), saat ini imunisasi lanjut usia (lansia) dilakukan sekaligus dengan pemeriksaan TBC. Karena TBC bukan hanya menyerang paru-paru, tetapi ada juga TBC kelenjar, TBC kulit dan TBC otak.

Meski demikian, menurut dia, perlu di syukuri karena dari 29 kabupaten/kota se-Provinsi Papua, Mimika merupakan kabupaten yang pertama menerbitkan regulasi terkait dengan penanggulangan TBC melalui Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 18  tahun  2017, tentang rencana aksi daerah penanggulangan TBC.

Ia mengaku, hasil Rapat Kerja Kesehatan Nasional tahun 2019, Pemerintah Pusat berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota guna menemukan pengendalian penyakit menular, seperti misalnya diabetes, sakit jantung, hipertensi dan termasuk TBC. Penyakit TBC  merupakan prioritas kedua yang wajib dilakukan oleh Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota se-Indonesia.

Berdasarkan data dunia menunjukan bahwa, epidemi penyakit menular TBC di Indonesia berada di urutan ke tiga tertinggi setelah sebelumnya berada di urutan ke lima. Sedangkan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengharapkan agar di tahun 2035 kasus TBC bisa diturunkan hingga 90 persen dan kematian bisa ditekan hingga 95 persen.

“Sedangkan beberapa waktu lalu, Presiden Indonesia telah mengatakan bahwa  pelayanan kesehatan bisa baik jika didukung dengan infrastruktur yang memadai. Selain itu, juga dibutuhkan infrastruktur bagi tenaga kesehatan baik rumah, transportasi termasuk fasilitas penunjang lainnya,” tuturnya. (Acik)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar