Mengusung Tas Noken Menjadi Ikon PON XX Papua

Bagikan Bagikan

Mama-mama asli Papua sedang berjualan tas noken. (Foto-Antara)

SAPA (JAYAPURA)
-Tas noken hasil kerajinan tradisional masyarakat asli Papua bakal dijadikan ikon cendera mata pada penyelenggaraan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON)  XX Papua yang akan berlangsung 2-15 Oktober 2021 sebagai karya budaya kearifan lokal daerah. 

Berdasarkan SK KONI Nomor 29 tahun 2021 PON XX Papua dijadwalkan berlangsung 2-15 Oktober 2021 pada empat kluster penyelenggara pertandingan di antaranya Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Mimika dan Kabupaten Merauke melombakan 37 cabang olahraga, 56 disiplin pertandingan, 681 nomor pertandingan dan diikuti 6.496 atlet. 

Dijadikannya tas noken sebagai cendera mata bagi peserta PON XX Papua, yang merupakan hasil karya kebudayaan asli milik masyarakat Papua itu, merupakan sebuah nilai yang sangat hakiki melambangkan sebuah identitas daerah. 

Noken merupakan salah satu karya kerajinan tradisional berupa anyaman dari warga di Papua yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan, seperti pandan, anggrek, dan lain-lain. 

Orang asli Papua (OAP) dengan tas noken memiliki ikatan sosial dan emosional yang sangat kuat karena telah melahirkan hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara yang membuat, benda yang dibuat, dan penggunanya. 

Dengan demikian, ikatan batin antara pengerajin, noken, dan penggunanya tak terpisahkan sebab dalam kerajinan tersebut telah membentuk hubungan yang saling memiliki. 

Tas noken sebagai kerajinan tradisional memiliki peran yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat, seperti hubungan ikatan antara manusia dengan alam. 

Selain ikatan batin manusia dengan alam, ikatan batin juga melekat kepada penggunanya. Seperti kaum Perempuan di Papua mereka membuat noken biasanya sebagai alat untuk diperuntukan untuk kebutuhan anak-anaknya. 

Tas noken digunakan untuk mengangkut barang dan anak karena berfungsi juga untuk menumbuhkan rasa kecintaan antara ibu dan anak[1]sebagai pakaian untuk kaum perempuan yang melambangkan ikatan batin antara ibu dengan anak. 

Selain itu, tas noken juga untuk merangsang tumbuh kembang si anak untuk senantiasa mencintai tanah kelahirannya serta menjaga keaslian budaya orang asli Papua. 

Jadi ketika anak Papua sedang merantau ke luar kota maka tas noken yang digunakannya sebagai alat untuk menumpahkan perasaan rindu pada mama dan tanah leluhurnya. 

Perasaan rindu ini mereka representasikan dengan cara membawa noken yang dikalungkan ke anggota badan karena dapat melambangkan identitas khas masyarakat orang asli Papua. 

Noken sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua. Bahkan tak hanya ketika pemilu, dalam beberapa pengambilan keputusan apa pun di masyarakat wilayah adat noken rutin digunakan. 

Noken Papua sebagai warisan tak benda, yang diwarisi oleh sebagian besar perempuan Papua dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, menjadi sesuatu artefak yang melekat dengan identitas perempuan Papua. 

Dari siklus lahir, hidup, dan mati dari perempuan Papua selalu menyatu dengan Noken Papua. Keberadaan Noken Papua menjadi penanda identitas perempuan Papua untuk dihargai sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia yang berjenis kelamin perempuan dan sebagai makhluk Tuhan. 

Tradisi orang Papua 

Noken merupakan kerajinan tradisional yang dimiliki orang Papua karena hampir semua suku yang ada di Papua memiliki kerajinan sejenis ini dengan motif dan fungsi yang beragam sesuai dengan kondisi setiap wilayah. 

Tas Noken kearifan lokal ini merupakan warisan budaya orang Papua yang sudah lama ada sejak masa lalu, dan telah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam kehidupan mereka. 

Bagi orang Papua noken memiliki banyak makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya sehingga kerajinan ini dijadikan simbol identitas. 

Dalam kehidupan orang Papua kemahiran membuat noken, mereka peroleh melalui seperangkat pengetahuan dan praktik-praktik yang berasal dari pengalaman hidup yang dilakukan secara terus menerus dengan alam (Ahimsa-Putra, 2008:12). 

Melalui pengalaman[1]pengalaman inilah dapat melahirkan pengetahuan lokal (local knowlegde) masyarakat dalam hal upaya membentuk berbagai kerajinan yang dapat menunjang kehidupan mereka, salah satunya noken. 

Kerajinan tradisional noken lahir melalui proses yang alami ketika mereka membutuhkan alat untuk menyimpan, mereka membuat kantung sebagai alat untuk menyimpan barang. 

Inisiatif untuk membuat noken sangat diprakarsai karena adanya ide yang ada di dalam pikiran manusia, baru kemudian mereka mencari bahan yang akan digunakan. 

Oleh karena itu, ketika muncul ide membuat tempat untuk menyimpan hasil berburu maupun berladang, mereka mencari bahan[1]bahan yang ada di hutan, lalu membentuknya menyerupai kantung yang berfungsi untuk menampung hasil bumi yang mereka dapat. 

Bahan dasar pembuatan kantung atau noken pada masa lalu masih sangat tradisional dan berasal dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitar mereka, seperti pohon pakis-pakisan, kelapa, dan lain-lain. 

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat, secara bertahap bahan-bahan untuk pembuatan noken beralih menggunakan bahan yang lebih kuat,seperti serat kayu dan tumbuhan rerumputan. 

Bahan dasar serat kayu dan rerumputan banyak digunakan masyarakat, karena tumbuhan tersebut sangat kuat dan mudah ditemui di dalam hutan alam di Papua. 

Pada proses pembuatan noken di setiap daerah sangat beragam. Ada yang dilakukan dengan cara pengambilan langsung pada pohon, ada yang dijemur terlebih dahulu, direbus, dan ada yang dengan cara dipukul hingga terlihat serat kulit kayunya. 

Setelah serat kayu terbentuk baru dilakukan pemintalan hingga membentuk benang, kemudian proses selanjutnya adalah pewamaan. 

Bahan dasar untuk pewarnaannya pun masih sangat tradisional, yakni dengan kapur, kulit bia (kulit kerang yang sudah ditumbuk halus), arang, kunyit dan bahan alam lainnya. 

Salah satu pengrajin noken Papua Merry Dogopia mengatakan, kini hasil kerajinan serat kulit kayu tidak hanya dimanfaatkan untuk membuat tas tradisional Noken. 

"Kerajinan serat kayu juga dibuat untuk anting-anting, gantungan kunci, gelang tangan, kalung, dan pakaian," katanya. 

Ia mengakui, tas noken yang diproduksi mama-mama Papua tidak hanya mendatangkan uang untuk dijual, tetapi noken juga bisa menjadi identitas budaya daerah masyarakat adat asli Papua. 

"Dari aspek ekonomi memang menghasilkan uang ketika noken laku dijual tetapi secara adat kami ikut menjaga kelestarian budaya orang asli Papua," kata Merrey Dogopia. 

Ikon PON Papua 

Wali Kota Jayapura Benhur Tommi Mano mengakui, Pemkot Jayapura sudah membina sejumlah pengrajin tas tradisional noken Papua untuk mendukung PON XX Papua. 

Pengrajin tas noken yang telah dibina dinas terkait di Kota Jayapura sudah didorong untuk memproduksi tas noken dalam jumlah banyak guna memenuhi kebutuhan PON XX Papua.

 

Tas tradisional noken, menurut dia, akan menjadi salah satu ikon daerah untuk penyelenggaraan PON XX Papua sehingga Pemkot Jayapura terus mendorong para pengrajin noken meningkatkan jumlah produksi tas lebih besar. 

"Kita harapkan selama pelaksanaan iven olahraga nasional di tanah Papua para mama-mama Papua yang menjual tas noken bisa mendapatkan banyak penghasilan dari menjual tas noken," katanya 

Ia mengakui saat ini peminat tas noken sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat Indonesia di luar Papua karena sudah dikenal sejak ditetapkan warisan dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Paris, Prancis 4 Desember 2012. 

"Noken yang umum dikenal sebagai tas hasil rajutan khas dari Papua diakui sebagai warisan budaya dunia tak benda (intangible cultural heritage)," katanya. 

Noken dikenal di semua suku bangsa di tanah Papua, yakni  di Provinsi Papua dan Papua Barat. Fungsi sehari-hari noken pun sangat beragam sesuai dengan ukuran dan juga jenis bahan yang dipakai. 

Seperti noken ukuran besar adalah digunakan untuk membawa hasil kebun, hasil laut, kayu, bayi, hewan kecil, belanjaan, dan juga sebagai tempat menyimpan barang yang digantung di dalam rumah. 

Sedangkan noken dengan ukuran kecil untuk membawa barang pribadi antara lain HP, uang, pinang sirih, makanan, buku dan barang kebutuhan sebagainya. 

Penggunaan saat memakai noken ini pun bervariasi seperti ada yang digantung di depan dada, diselempang disamping kiri dan kanan, dan diikat di kepala. 

Noken dimaknai juga sebagai ”rumah berjalan” yang berisi segala hal kebutuhan bagi masyarakat orang asli Papua. 

Bagi orang asli Papua, tas noken merupakan suatu lambang kebanggaan dan kebesaran hati sebab secara tidak langsung kerajinan ini telah melahirkan kemahiran dan pemahaman tentang kebudayaan adat Papua. 

Staf Kantor Staf Presiden Della Amran dalam webinar penyelenggaraan PON XX Papua mengajak semua kementerian, lembaga, media serta masyarakat di tanah Papua untuk mendukung penyelenggaraan PON XX Papua. 

Ia mengajak, pada peluncuran 100 hari menjelang PON XX Papua untuk menggunakan tas noken tradisonal Papua sebagai bentuk dukungan menyukseskan agenda olahraga nasional di Papua. 

"Mari kita bersama-sama memakai noken tas tradisonal khas Papua ketika launching 100 hari jelang PON XX Papua dijadwalkan 24 Juni 2021," katanya. (Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar