Di Timika Banyak Faskes Swasta Belum Kantongi Ijin Lingkungan dan TPS Limbah B3

Bagikan Bagikan
Kasi Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kab. Mimika, Maks Gainau (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika melalui Kasi Limbah B3, Max Gainau mengaku hingga saat ini banyak fasilitas kesehatan swasta di Timika yang belum mengantongi ijin tempat penyimpanan sementara (TPS) khusus limbah bahan beracun dan berbahaya (B3).

Menurut Max, tidak adanya ijin limbah B3 ini menjadi hal yang dilematis lantaran setiap Faskes juga  belum mengantongi izin lingkungan.

Padahal dalam aturannya, limbah B3 tidak bisa tercampur dengan limbah atau sampah biasa, dimana pengelolaannya harus bekerjasama dengan RSUD, RSMM maupun PT. Freeport Indonesia (PTFI) yang telah memiliki incinerator. Khusus untuk klinik-klinik dengan kapasitas limbah B3 hanya sedikit, bisa dibakar di incinerator milik RSUD, RSMM dan PTFI kalau memang ada kerjasama.

“Khusus untuk Faskes swasta baru RS Kasih Herlina yang mengurus, sedangkan yang lainnya belum sama sekali. Padahal kami selalu menyampaikan surat imbauan. Ketika dicek soal ijin limbah B3 mereka alasan belum ada ijin lingkungan. Tapi kalaupun belum ada ijin lingkungan, tetap kami imbau agar pengelolaannya harus terkontrol sesuai Undang-undang,” tuturnya saat ditemui Salam Papua di ruang kerjanya, Jumat (23/7/2021).

Sedangkan untuk perusahaan lainnya hanya PTFI, PLN dan PT. PAL yang telah miliki ijin TPS limbah B3.

Dijelaskan juga bahwa Ijin lingkungan itu merupakan ijin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (PPLH) yang terdiri dari 13 ijin di dalamnya. Namun dari antara belasan itu yang paling penting ialah ijin pengelolaan air limbah (IPAL) dan TPS Limbah B3.

Ijin lingkungan berbeda dengan ijin pengelolaan limbah. Dalam hal ini, diurutkan mulai dari ijin lingkungan, lalu ijin pengelolaan limbah.

“Limbah B3 itukan sangat berbahaya. Jadi kalau dibuang di TPS umum, maka masyarakat atau petugas pengangkut sampah yang akan kena dampaknya. Kalau kuman dari sampah lain mungkin hanya bisa gatal-gatal di kulit ataupun gangguan pernapasan, tapi kalau dari jarum suntik bisa saja ada sisa darah AIDS dan penyakit menular lainnya. Itu Itu namanya limbah infeksius dan berbahaya. Belum lagi kalau anak-anak lihat adanya spoit, pasti mereka ambil dan jadikan mainan,” ujarnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar