Timika Zona Merah, Rata-Rata 5 Orang Meninggal Dalam Sehari Akibat Covid-19

Bagikan Bagikan
Mobil jenazah di RSUD Mimika yang membawa pasien Covid-19 ke tempat pemakaman (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Timika sudah masuk dalam zona merah kasus Covid-19 bahkan dalam satu minggu terakhir ini rata-rata terjadi lima kasus kematian perhari.

“Kematian rata-rata adalah lima kasus perhari sementara jumlah infeksi baru bukannya turun malah meningkat. Kemudian positif PCR masih tetap di atas 25 persen bahkan kalau per layanan bisa mencapai 50 persen di wilayah Kota Timika,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra saat ditemui Salam Papua di Hotel Grand Mozza Timika, Jumat (30/7/2021).

Ia mengatakan, Timika saat ini ada dalam zona merah bahkan dengan meningkatnya kasus kematian sudah ada di zona hitam.

Sejak 1 Juli sampai 30 Juli 2021 ini sudah ada 60 kasus kematian termasuk tenaga kesehatan.

“Kemarin juga ada satu tenaga kesehatan yang meninggal, jadi dalam tahun ini ada satu tenaga kesehatan yang meninggal. Tahun lalu juga ada satu orang tenaga kesehatan yang meninggal, saat ini juga ada beberapa tenaga kesehatan yang terpapar Covid dan semuanya menjalani isolasi mandiri,” kata Reynold.

Namun Reynold optimis kasus Covid-19 di Timika masih bisa dikendalikan asal masyarakat mau bekerja sama.

Menurutnya, pengadaan oksigen, tempat tidur dan membuat rumah sakit darurat dalam penanganan pasien Covid-19 bukanlah solusi, namun solusi sesungguhnya yakni mematuhi protokol kesehatan, hindari kerumunan dan hentikan mobilitas.

“Yang bisa mulai terkendali itu ada di wilayah Tembagapura. Kalau untuk wilayah Kota Timika sendiri kita lihat lebih dari 900 pasien isolasi mandiri. Apa yang harus dibuat untuk mengatasi ini? Kami akan mulai melakukan test dan tracing,” ujarnya.

Dijelaskan, untuk pelaksanaan test dan tracing ada tim terpadu yang melibatkan pihak RT dan pimpinan agama di wilayah dilakukan test dan tracing.

“Intinya adalah untuk mengendalikan penyebaran kasus ini dengan cara kerumunan harus dihindari, isolasi mandiri dan pengobatan harus diawasi,” ujarnya.

Ia menyebutkan saat pemberlakulan PPKM skala mikro memang memberikan dampak menahan laju penularan namun belum optimal.

Sehingga mulai 1 Agustus sampai 14 Agustus 2021 dilakukan PPKM level 4.

“Yang hari ini kami coba lakukan sampai 14 hari ke depan, kami dan masyarakat perlu bekerja sama menerapkan protokol kesehatan secara ketat, yang kedua melakukan tracing dan testing,” ungkapnya. 

Dinas Kesehatan juga mulai meminta Puskesmas-Puskesmas melakukan rapid antigen untuk semua yang datang di dalam layanan maupun di luar layanan, baik pasien ibu hamil, pasien dengan malaria, dan pasien dengan gejala pneumonia, pihak Puskesmas melakukan tes antigen.

Sementara untuk di luar fasilitas kesehatan yaitu dengan melakukan tracing dan testing.

“Bagi mereka yang positif, kita akan tempel stiker di rumah mereka,” tuturnya.

Dia menambahkan, untuk kebutuhan oksigen medis sudah terbantu. Pihak Dinas Kesehatan sudah menandatangani surat rekomendasi untuk industri gas medis dan sudah mulai diproduksi PT. Freeport Indonesia.

“Terima kasih untuk PT. Freeport Indonesia yang dalam satu tahun terakhir ini kita sama-sama menangani Covid-19,” tuturnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar