Warga Terjebak di Yalimo Papua Dilaporkan Sakit dan Kelaparan

Bagikan Bagikan

Para sopir yang terjebak di Yalimo. (Foto-Antara)

SAPA (WAMENA)
- Sejumlah warga yang terjebak karena pemalangan atau penutupan jalan setelah kerusuhan di Kabupaten Yalimo Provinsi Papua, dilaporkan mulai terserang penyakit dan kelaparan. 

Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Provinsi Papua Edie Rante Tasak ketika dihubungi di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Kamis, mengatakan mereka yang terjebak adalah para sopir dan kondektur lanjuran yang melintasi jalan trans Papua, Jayapura-Yalimo-Jayawijaya. 

"Kondisi saudara-saudari kita sopir dan kondektur di sana memprihatinkan. Informasi yang kami dapat, mereka di sana sudah banyak jatuh sakit, kekurangan bahan makanan, tidur tidak layak karena mereka di tenda-tenda saja," katanya. 

IKT Papua sebelumnya melakukan pertemuan bersama pejabat kepolisian daerah Papua di Jayapura, Sekda Papua terkait warga ini namun tidak ada solusi sehingga IKT berupaya lagi ke DPR Papua tetapi juga tidak mendapat respons. 

Akhirnya, kata Edie Rante Tasak, pihaknya bertemu Danrem untuk meminta pendapat dan mereka disambut dengan baik serta diberikan masukan untuk situasi yang mereka hadapi. 

"Selama ini kami berharap pemerintah daerah akan turun tangan menyelesaikan masalah ini tetapi nyatanya tidak seperti itu akhirnya kami harus menyampaikan keprihatinan ini kepada Presiden RI melalui Menteri Polhukam karena sesuai UUD 45 Negara wajib melindungi warga negaranya," katanya. 

Dandim 1702 Jayawijaya Letkol Inf Arif Budi Situmeang mengatakan setelah melakukan koordinasi dengan pemerintah, DPRD dan massa pemalangan jalan, pada hari ini 400 kendaraan yang terjebak akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan. 

"Kami melakukan pembukaan ini untuk mengeluarkan 400 kendaraan yang ingin menuju ke Jayapura, sama juga dengan pemalangan di ruas jalan yang menuju ke Jayawijaya," katanya.

Ia mengatakan pemalangan yang dilakukan satu minggu lebih itu akhirnya dibuka untuk sementara waktu karena mereka membangun koordinasi yang baik dengan massa. 

"Kami belum bisa pastikan apakah pembukaan palang ini seterusnya atau sementara saja, kami masih terus melakukan koordinasi dengan masyarakat, terutama tokoh-tokoh adat," katanya. (Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar