10 Anak Sekolah Asrama Taruna Papua Hadiri Sidang di PN Timika

Bagikan Bagikan
Anak-anak korban pelecehan seksual didampingi ketua Yayasan dan guru saat mendatangi PN Timika (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – 10 orang yang menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum guru di Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) menghadiri sidang di Pengadilan Negeri (PN) Timika, Kamis (12/8/2021).

Selain 10 anak usia SD dan SMP tersebut, juga hadir Ketua Yayasan dan seorang guru.

“Hari ini jadwalnya sidang pemeriksaan saksi-saksi dipimpin langsung Kepala PN. Ada 10 orang anak dan satu ketua yayasan serta seorang guru,” ungkap Kasubsi Penyidikan Tindak Pidsus PN Timika, Ico Anreas H. Sagala,S.H usai persidangan pemeriksaan saksi di kantor PN Timika, jalan Yos Sudarso, Kamis (12/8/2021).

Sidang dilaksanakan kurang lebih selama dua jam, sehingga hakim pun mengetahui fakta-fakta yang terungkap dari anak-anak selaku korban. Dalam hal ini, anak-anak terkait mengaku mengalami pencabulan serta kekerasan. Yang diakui para korban juga seperti yang terungkap dalam hasil penyelidikan pihak Polres Mimika.

“Sebetulnya anak-anak yang menjadi korban sebanyak sekitar 20 anak, tapi karena mempersingkat waktu persidangan maka kita ambil sampelnya dari 10 anak itu. Pemeriksaan untuk anak-anak itu tidak bisa terlalu lama juga,” ungkapnya.

Ico mengatakan, usai pemeriksaan para saksi, tanggal 24 Agustus nanti akan digelar sidang pemeriksaan terdakwa.

“Terdakwa saat ini ada di Rutan Polres Mimika di mile 32. Tanggal 24 Agustus nanti baru jadwal sidangnya,” katanya.

Selanjutnya dijelaskan, jika kemudian tidak ada pembelaan dari terdakwa maka sidang biasanya dilakukan tiga kali lagi. Namun jika ada pembelaan dari terdakwa, maka bisa dipastikan sidang masih berlanjut empat atau lima kali lagi.

Untuk diketahui, perlakuan bejat oknum guru berinisial DFL itu baru diketahui tanggal 9 Maret 2021 setelah kepala sekolah mendapati salah seorang anak menangis. Namun, setelah diinterogasi, anak-anak tersebut mengaku bahwa pelecehan seksual disertai kekerasan tersebut telah terjadi sejak bulan November tahun 2020 lalu. Usia anak-anak yang mengalami pelecehan berkisar 6 hingga 13 tahun. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar