Dinilai Buatan Kapitalis, Mahasiswa Asal Mimika Minta Bupati Omaleng Bubarkan Lemasa dan Lemasko

Bagikan Bagikan

Tampilan zoom meeting mahasiswa asal Mimika di dalam dan luar negeri (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Mahasiswa asal Mimika di seluruh kota studi se-Indonesia dan luar negeri meminta Bupati Mimika, Eltinus Omaleng,SE,MH agar segera membubarkan Lembaga Masyarakat Suku Amungme (Lemasa) dan Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) yang dinilai sebagai buatan kapitalis di Mimika.

Permintaan ini dideklarasikan melalui zoom meeting yang menghubungkan seluruh mahasiswa asal Mimika, baik di dalam maupun di luar negeri, yang bertepatan dengan peringatan hari Adat se-Dunia pada 9 Agustus 2021.

“Lemasa dan Lemasko buatan Kapitalis dinilai menamakan diri sebagai Lembaga adat di atas penderitaan rakyat saat ini,” ungkap Koordinator Umum Mahasiswa asal Mimika, Jhoni Jangkup dalam rilisnya kepada Salam Papua, Selasa (10/8/2021).

Menurut Jhoni, zoom meeting yang diselenggarakan oleh Mahasiswa asal Mimika dengan tema sentral. Dimana Darinus Mentekau yang berada di Australia selaku Host dalam Zoom tersebut mengharapkan agar PT. Freeport Indonesia, Pemerintah dan Para Elit Amungme segera mengembalikan Lemasa dan Lemasko kepada rakyat Amungme untuk Musdat, karena Kedua Lembaga adat ini “Bukan Uang”.

Hal senada disampaikan oleh Kertinus Bugaleng dan Lince O-Jangkup di Jakarta selaku Moderator dalam kegiatan itu.

Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai Mahasiswa asal Mimika tersebut, para moderator menyampaikan ulasan singkat mengenai status lembaga adat yang dahulu dibentuk dengan tujuan agar masyarakat luar yang masuk ke Mimika bisa menghargai dua suku asli sebagai Manusia melalui kedua Lembaga adat tersebut. Namun saat itu kedua Lembaga itu berbicara untuk Bagaimana PTFI sebagai Kapitalis dan Pemerintah Indonesia sebagai Kolonialis dengan tamengnya adalah kedua lembaga adat.

“Mereka bebas bereksploitasi dan eksplorasi di atas penderitaan rakyat adat. Intinya pada moment ini kami berani menyampaikan lembaga adat saat ini adalah buatan para kapitalis atau penguasa. Jadi tak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan mengakui mereka pimpinan (Lembaga adat saat ini sebagai Pimpinan). Kami mahasiswa, jika masih mengakui maka kami berdosa,” kata moderator kegiatan.

Dalam kesempatan itu juga  dilaksanakan berbagai kegiatan termasuk penyampaian puisi, lagu dan diakhiri dengan pernyataan sikap Mahasiswa asal Mimika. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar