Harga RT PCR di Mimika Turun 45 Persen

Bagikan Bagikan
Direktur RSUD Mimika, Antonius Pasulu, M. Kes, Sp. THT-KL (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Kementerian Kesehatan telah menetapkan tarif tertinggi pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) sebesar Rp 495 ribu untuk pulau Jawa dan Bali, serta Rp 525 ribu untuk luar pulau Jawa dan Bali dari tarif sebelumnya Rp 900ribu.

Dengan demikian Harga pemeriksaan RT PCR turun sebanyak 45% dari harga sebelumnya.

Untuk itu saat ini pihak RSUD Mimika sedang berkoordinasi dengan pihak Kemenkes terkait waktu pasti untuk pemberlakukn tarif RT PCR yang baru tersebut.

“Kita koordinasikan dulu ke Kemenkes mengenai surat edaran itu, kapan mulai diberlakukan tarif yang baru kalau diinstruksikan besok kami mulai besok. Kami juga akan menyurati Bupati Mimika untuk dibuatkan Perbupnya,” kata Direktur RSUD Mimika, Anton Pasulu, M.Kes,Sp.THT-KL, saat ditemui Salam Papua, Selasa (17/8/2021), di Pelataran Kantor Pusat Pemerintahan, SP3, Timika Papua. 

Ia mengatakan, tarif RT PCR yang ditetapkan ini khusus untuk pelaku perjalanan, sementara untuk pasien pelayanan RT PCR gratis.

“Untuk pasien semua tetap gratis, dari dulu tetap gratis,” kata Antonius.

RT PCR dikenakan tarif karena memang komponen reagen yang mahal seharga Rp 70 juta untuk 1 kit.

“Satu kit reagen ini kita bisa mengetes 96 pasien. Jadi 3 jam bisa dapat 96 pasien,” ucapnya.

Menurutnya, selama tarif  RT PCR sebesar Rp 900 ribu ini sudah disubsidi oleh pemerintah. Dengan semakin murah tarif RT PCR tentu saja subsidi dari pemerintah juga semakin besar. 

“Yang Rp 900 ribu itu sudah ada komponen subsidi dari pemerintah kalau di turunkan jadi Rp 525 ribu tentu saja ada komponen subsidi dari pemerintah yang lebih besar. Karena selain konmponen reagen ada bahan habis pakai, bahan medis, bahan listrik dan lainnya. Semua itu kalau kita hitung di Timika seharusnya tarif RT CR Rp 1,3 juta atau Rp 1,4 juta,” ujarnya.

Selain itu ia menyebutkan saat ini ada 32 pasien yang dirawat di ruang isolasi RSUD Mimika.

Dari 32 pasien itu, 30 positif Covid-19 dan 2 orang probable artinya masih menunggu hasil PCR.

“Sekarang ini dari 30 orang yang positif Covid-19, empat orang kritis menggunakan ventilator,” sebutnya.

Antonius yang pernah mengikuti program dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan ditempatkan menjadi Kepala Puskesmas Potowayburu pada tahun 2005 sampai tahun 2007 ini menyebutkan, dalam 3 hari terakhir ini tidak ada pasien Covid-19 di RSUD yang meninggal dunia.

“Puji Tuhan tiga hari terakhir ini yang positif meninggal tidak ada, mudah-mudahan ke depan sudah tidak ada lagi. Mudah-mudahan kritis bisa sembuh, beberapa waktu lalu yang kritis berhasil kita tangani ada beberapa yang gunakan ventilator sudah sembuh dan sekitar tiga atau empat orang sudah kita pulangkan,” katanya.

Menurut Antonius yang pernah menjadi relawan untuk menolong korban gempa dan tsunami di Kabupaten Nias selama 6 bulan ini, untuk kebutuhan oksigen di RSUD Mimika sudah memadai. 

“Sudah cukup  sementara dalam perjalanan 560 tabung, ada dalam 2 kontainer dijadwalkan tanggal 28 Agustus sudah tiba di Pelabuhan Pomako. Cadangan oksigen  hari ini 221 tabung begitu juga ada bantuan setiap hari kita terima kasih kepada PT Freeport Indonesia 20 tabung per hari, itu juga sangat membantu,” sebutnya.

Ia menambahkan, vaksin moderna untuk booster tenaga kesehatan (Nakes) untuk vaksin ketiga ini sudah tiba dan sedang diatur jadwal untuk vaksin Nakes.

"Vaksin moderna hanya untuk Nakes, saat ini sedang dilakukan penyusunan jadwal dan pelaksanaannya ditentukan oleh Dinas Kesehatan. Sementara untuk masyarakat umum masih menunggu instruksi dari Kementerian Kesehatan," pungkasnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar