Mungkinkah Kebahagiaan Warga Banti Hanya di Momen 17 Agustus?

Bagikan Bagikan
Warga Banti (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Melihat langsung kondisi dan mengingat deretan peristiwa yang menimpa warga Banti di Distrik Tembagapura tentunya menimbulkan keraguan dan tanda tanya ‘Mungkinkah Kebahagiaan warga Banti hanya di momen 17 Agustus?

Bagaimana tidak, berdasarkan pantauan wartawan Salam Papua, warga Banti masih terlihat berjalan kaki menempuh perjalanan dari Banti ke Tembagapura dan sebaliknya untuk urusan tertentu. 

Layanan kesehatan minim, sekolah dan tenaga pengajar tidak ada, dalam satu atap   harus dihuni lebih dari satu KK hingga harus  membeli makanan dan kebutuhan sembako yang diperdagangkan aparat dengan harga dua kali lipat.

Benar, mereka mengaku kini aman di tangan TNI dan Polri. Namun 24 jam kah itu?

Banti merupakan pintu masuk kelompok seberang. Takut kah, atau mereka aman-aman saja?

Benar mereka mengaku aman tidur dan bangun. Namun, isi perut mereka bagaimana?

Telah diakui bahwa satu kali seminggu ada layanan kesehatan. Namun, bagaimana dengan lansia kritis dan ibu melahirkan? 

Ya, urusan keamanan memang terjamin, karena sejak dipulangkan tanggal 20 Januari 2021 lalu, hingga kini tak ada lagi gangguan di sana. 

Dilihat saat peringatan HUT RI ke-76 tanggal 17 Agustus 2021. Di atas tanah emasnya mereka ikut berbaris menengada ke ujung tiang bendera Merah-Putih dan memberi hormat penuh arti.

Tertawa lepas dan senyum ramah mengembang dari bibir Mama-Mama dan remaja putri yang berbondong-bondong menerima bingkisan penopang hitungan hari itu. Teriakan riuh dan cekikan ketawa bocah-bocah di Banti seolah tak hilang sekukuh niat Mama-Mama mempertahankan tanah kelahirannya tersebut.

Kemeriahan tentunya kebahagiaan setiap Insan di muka bumi ini termasuk warga Banti. Namun, bagaimana jika itu hanya terjadi sehari saja?

Di hari itu pun, di tengah kegembiraan itu, di pinggiran jalan di sudut lapangan upacara ada pedagang yang bukan pedagang biasa berdiri dan tawarkan masakan jadi layaknya PSG di mall besar. Namun, bagi sebagian warga dilewati begitu saja entah karena tak ada uang atau merasa heran melihat pedagang-pedagang itu yang mereka tahu adalah bukan pedagang.

Kalau begini masyarakat harus bagaimana?

Ya, yang ada uang beli. Yang tidak ada uang terpaksa menelan ludahnya sendiri. Namun, bahagia dicintai kah itu? 

Mungkin saja itu cinta berbalas atau cinta karena duit?

Melihat warga Banti yang lahir di atas bumi, di samping gunung dan lembah berhawa emas murni tentunya tidak susah. Emas mereka hidupkan negara bahkan dunia. Namun, mereka hanya bisa melihat dan mendengar tentang indahnya tanpa merasakannya kekal.

Semoga kebahagiaan warga Banti bukan sehari di HUT RI saja. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar