Wawancara Eksklusif Dengan Pendeta yang Bakar Masker dan Botol Vaksin Bersama Ribuan Orang di Timika

Bagikan Bagikan

Pendeta Hosea Yolemal, STh

SAPA (TIMIKA) - Banyak orang tidak mempercayai adanya virus Covid-19 termasuk masyarakat di Distrik Kwamki Narama, Timika, Papua. Padahal virus ini sudah merenggut banyak nyawa.

Sejak masuknya Covid-19 di Mimika pada Bulan Maret 2020 lalu, tidak pernah ada masyarakat di Kwamki Narama yang terpapar padahal mereka tidak pernah mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes), hal itu yang membuat mereka semakin tidak yakin kalau Covid-19 itu ada.

Sementara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah semakin marak menyerukan agar semua masyarakat divaksin untuk membentuk herd immunity bahkan ada Pemberlakukan Pembatasan Kegiatah Masyarakat (PPKM) yang sebelumnya level mikro kini menjadi level 4 yang salah satu pointnya adalah menutup sementara tempat ibadah.

Hal ini yang membuat masyarakat di Kwamki Narama merasa keberatan dan meminta hamba-hamba Tuhan melakukan aksi bakar masker dan botol vaksin sambil menyampaikan bahwa mereka tidak percaya adanya Covid-19, dan memprotes keputusan dari pemerintah yang menutup sementara tempat ibadah selama masa PPKM level 4.

Selengkapkanya cerita mengenai video aksi bakar masker dan botol vaksin, dan ungkapan dari hamba Tuhan Pendeta Hosea Yolemal, STh yang sebelumnya sama sekali tidak percaya adanya Covid-19 namun kini sudah mempercayai adanya virus yang sudah merenggut banyak nyawa itu.

Berikut hasil wawancara eksklusif Salam Papua dengan Ketua Klasis Daerah Kwamki Narama Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII), Pendeta Yolemal STh di Kantor Klasis Daerah Kwamki Narama, GKII, Rabu (4/8/2021).

----‐---‐-----------------------

Siang itu, sekitar Pukul 11.30 WIT, Pendeta Hosea Yolemal, S.Th menjawab telepon saya dengan sangat ramah. “Syalom selamat siang, ini dengan ibu siapa?” tanya Pendeta Yolemal dari seberang.

“Siang juga Pak saya Yosefina Wartawan Salam Papua Pak,” saya memperkenalkan diri.

Singkat cerita saya menyampaikan tujuan saya menemui beliau dan ia memperbolehkan.

Awalnya saya berkeinginan mengajak Pendeta Yolemal bertemu di Kota Timika karena ada rasa cemas ke Kwamki Narama yang selama ini sering dikenal sebagai daerah merah di Timika.

Saya jujur menyampaikan ke Pendeta Yolemal kalau saya takut ke Kwamki Narama tapi dia meyakinkan saya kalau kondisi kampung itu sangat kondusif.

“Di sini aman ibu tidak apa-apa ke sini saja saya tunggu di kantor,” kata Pendeta Yolemal.

Setelah itu saya menelpon Abeth, videografer Salam Papua dan mengajaknya menemani saya dan juga mengambil video saat wawancara.

Siang itu cuacanya mendung dan sedikit gerimis sekitar Pukul 14.00 WIT kami berangkat dari Timika ke Kwamki Narama, kampung itu tidak jauh dari kota tapi karena mencari alamat, hampir setengah jam kami tiba di kantor klasis.

Rupanya Pendeta Yolemal sudah menunggu kami di pinggir jalan.

Saya belum pernah mengenalnya namun begitu melihat kami muncul ia langsung melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah kami.

“Syalom ibu,” sambil mengulurkan tangannya menyalami kami dan sambil mengajak kami masuk ke dalam Kantor Klasis itu.

Sejak Pandemi Covid-19 saya hampir tidak pernah berjabat tangan dengan orang tapi karena saya takut melukai perasaannya saya pun berjabat tangan. Temanku pun mengikuti apa yang saya lakukan. Tapi saya selalu patuhi Prokes dalam tas tidak pernah ketinggalan handsanitizer. Jadi setelah bersalaman saya langsung menggunakan handsanitizer tapi tidak di hadapan Pendeta Yolemal. Saya meminta izin ke toilet dan memakai handsanitizer di sana.

“Sehat-sehat Pak?” saya berbasa-basi sebelum memulai wawancara.

“Puji Tuhan sehat, ibu sendiri bagaimana,” tanyanya.

“Puji Tuhan saya juga sehat Pak,” jawab saya.

Sementara teman saya yang videografer sibuk mempersiapkan peralatan untuk merekam saat wawancara.

Saat saya mewawancarai terkait berederarnya video pembakaran masker dan botol vaksin serta ada pernyataan tidak mempercayai adanya virus corona, ia pun menjelaskan kronologis terjadinya peristiwa itu secara detail.

“Jadi 3 bulan yang lalu kami dari GKII Klasis Daerah Kwamki Narama ini sudah programkan KKR di daerah ini, karena kami melihat bahwa di daerah ini ada orang-orang yang selalu bikin kacau, selalu ada pembunuhan, selalu melakukan  kejahatan. Dengan KKR ini kami ingin merangkul mereka masuk dalam gereja karena mereka yang melakukan kejahatan ini bukan orang dari luar tapi warga gereja di Kwamki Narama ini,” katanya.

Ia menyebutkan program KKR ini sudah ditetapkan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) GKII Kwamki Narama Tahun 2019 lalu.

Setelah  melakukan persiapan selama 3 bulan KKR mulai dilakukan pada tanggal 1 Juli 2021.

“Jadi KKR yang kami lakukan ini tidak akbar tapi kami lakukan di semua gereja yang masuk dalam wilayah GKII Klasis Daerah Kwamki Narama. Jadi tanggal 1 Juli kami KKR di Gereja GKII Jemaat Yudea di SP5 yang masih masuk di Klasis Daerah Kwamki Narama, setelah itu ke jemaat Damai Samaria, Galilea, Bukit Sion, kemudian di Jemaat Tiberias SP2, Jemaat Petra, Jemaat Silo, Jemaat Anugerah, Jemaat Eklesia, Jemaat Eden, Jemaat Efata, Jemaat Yeriko, Jemaat Emaus sampai hari terakhir di Jemaat Samaria. Jadi di gereja kami lakukan KKR selama dua hari keliling semua gereja sampai selesai,” ujar Yolemal.

Pada KKR hari terakhir di GKII Jemaat Samaria, setelah selesai ibadah ada seorang Anggota DPRD Mimika, Aser Murib menemui hamba-hamba Tuhan dan menyampaikan bahwa anaknya sedang sakit paru-paru dan butuh didoakan.

Hamba-hamba Tuhan ini sudah siap naik mobil untuk ke rumah Aser Murib tapi ditahan oleh sekitar 2 ribuan jemaat yang sudah mempersiapkan kayu bakar, minyak tanah sejumlah masker dan botol vaksin.

Jemaat meminta hamba-hamba Tuhan membakar masker, botol vaksin dan memberikan pernyataan bahwa mereka tidak mempercayai Covid-19.

“Jemaat datang ke kami lalu mereka bilang kami daerah Kwamki Narama atas nama Gereja Kemah Injil Indonesia kami tolak Covid-19. Jadi kami akan bakar masker dan botol vaksin tapi mereka bilang harus ketua daerah dan Ketua KKR bicara akhirnya kami mau bicara seperti ada dalam video yang beredar itu,” cerita Yolemal.

Walaupun belum ada konsep kalimat yang harus disampaikan namun karena desakan dari jemaat dan warga ia bersama hamba Tuhan yang lainnya mau melakukan hal itu.

“Kami bilang selama Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, kami di Kwamki Narama, gereja atau ibadah Raya belum pernah tutup. Itu fakta yang terjadi dan sampai hari ini masyarakat Kwamki Narama tidak pernah kena covid. Dan saat itu kami juga nyatakan tolak virus corona dan penyakit menular apapun dalam nama Allah, Yesus dan Roh Kudus. Darah Kristus membersihkan kami dan tutup bungkus kami orang percaya dari segala macam penyakit. Saya sampaikan seperti itu. Setelah itu saya kasih kesempatan juga kepada Ketua KKR, Pendeta Giluk Tabuni untuk sampaikan hal yang sama,” katanya.

Ia menyebutkan hal yang dilakukan itu sama sekali tidak memiliki maksud untuk memprovokasi. Tapi sebelummya ia dan hamba Tuhan lainnya bersama jemaat di Kwamki Narama memang tidak mempercayai adanya Covid-19.

Selama ini mereka tidak pakai masker, tidak divaksin, tidak pernah tutup gereja, ibadah raya tetap dilakukan dan tidak ada satupun warga di Kwamki Narama yang terpapar Covid-19.

“Itu murni desakan jemaat dan warga yang jumlahnya hampir 2.500 orang bukan ide dari Tim KKR. Sama sekali kami tidak ada niat untuk provokasi,” ujarnya.

Akibat video yang berdedar itu ia pun didatangi Anggota Polres Mimika dan ia pun sempat merasa takut karena hal itu.

“Saya sudah jelaskan juga ke Anggota Polres yang datang ada beberapa mobil dari Polres yang antre di rumah saya. Polisi menjelaskan bahwa penyakit ini ada bukan tidak ada, karena buktinya bahwa ada banyak orang dirawat di rumah-rumah sakit. Setiap hari di Timika dan di daerah lain banyak  yang meninggal. Kuburan orang yang meninggal karena Covid ini digali pakai alat berat, jenazah juga dikubur pakai alat berat. Jadi Covid ini benar-benar ada,” Yolemal menceritakan kembali apa yang disampaikan Anggota Polres Mimika.

Ia mengatakan, menurut keterangan dari Anggota Polisi yang datang, mereka merasa keberatan karena dalam video itu dikatakan kirim penyakit ini ke Jakarta, ke Amerika ke daerah lain.

“Itu yang Kapolres juga tidak setuju kenapa penyakit ini dari Timika kirim ke sana, tapi itu tidak ada niat memprovokasi. Saya juga takut lagi karena ada beberapa polisi pangkat besar-besar juga datang, ada beberapa mobil yang parkir di depan rumah saya. Aduh saya tidak bisa tidur lagi, saya takut lagi,” katanya sambil tersenyum.

Ia juga mengaku tidak hanya didatangi pihak Polres Mimika tapi juga dari pihak Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mimika untuk meminta keterangan terkait  berderarnya video tersebut. Namun ia tidak bersedia memberikan keterangan karena sudah memberikan keterangan kepada polisi.

“Saya tidak mau berikan keterangan lagi karena saya sudah sampaikan di polisi,” ujarnya.

Setelah mendapat penjelasan dari pihak Polres Mimika mengenai Covid itu benar-benar ada, ia mengatakan mempercayai hal tersebut. Dan pada ibadah penutupan KKR tanggal 8 Agustus nanti ia akan menjelaskan hal ini pada jemaat.

 “Saya sudah mendapat penjelasan dari Kapolres dan sudah memahami, saya sudah percaya kalau Covid ini benar-benar ada dan nanti saya menjelaskan lagi ke Jemaat pada penutupan KKR tanggal 8 nanti. Mudah-mudahan Tuhan terus menjaga dan menjamah kami supaya virus corona dan penyakit menular apapun tidak masuk ke Kwamki Narama,” pungkasnya.

Sebelumnya, viral di media sosial sebuah video aksi bakar masker dan botol vaksin melalui aplikasi Tiktok.

Dalam video itu sejumlah tokoh agama mengenakan jas hitam sambil memegang botol vaksin, dan jemaat memegang masker kemudian dibakar di halaman GKII Samaria, Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua.

“Kami tidak pernah menutup tempat ibadah-ibadah raya. Kemudian hari ini kami tim KKR mulai dari Yudea, Samaria, Galilea, kemudian Bukit Sion, Tiberias sampai dengan Matoa, Petra, Silo sampai dengan Anugrah, serta ada 23 gereja ini kami menjalani KKR. Maka atas nama daerah Kwamki Narama, atas nama tim, kami tidak percaya vaksin dengan corona, karena dalam nama Yesus, darah Kristus dikalahkan oleh (maksudnya mengalahkan, Red) kuasa setan, seperti Covid-19 maupun vaksin. Di kwamki lama ini sejak dulu, hari ini sampai Yesus datang kami tidak percaya,” ucap Pendeta Hosea Yolemal dalam video tersebut.

Kemudian, dalam video itu Ketua KKR, Pendeta Gilus Tabuni menyampaikan terima kasih kepada peserta KKR.

“Terima kasih bapak/ibu peserta KKR, dari Jakarta, Amerika sampai di Papua, sekarang vaksin dan corona hari ini kitong bakar,” ucapnya sambil melempar masker dan botol vaksin ke arah api yang sedang menyala.

Video yang direkam oleh jemaat yang hadir itu kemudian disebarkan oleh pemilik akun tiktok yakni @kalkinalowen. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar