pon xx papua
badan pendapatan daerah
info grafis pesparawi xiii se tanah papua

Andri Abdul Rohman, Mengaku Cinta Papua dan Buktikan Sumbang Emas Untuk Papua

Bagikan Bagikan
Andri Abdul Rohman (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Andri Abdul Rohman, lelaki asal Subang Jawa Barat ini mengaku mencintai Tanah Papua, dan bukan hanya sebuah pengakuan ia sungguh-sungguh membuktikannya. Pada PON XX Papua ini, Andri dengan bangga menyumbangkan medali emas untuk Papua dan merupakan medali emas pertama di Klaster Mimika. Mengenal lebih dekat sosok yang biasa disapa Ablay di dunia terbang layang ini, berikut laporan Wartawan Salam Papua.

Pria kelahiran Subang, Jawa Barat, 9 April 1991 ini masuk dalam Kontingen Papua untuk cabang olahraga (Cabor) terbang layang sudah sejak PON IX tahun 2016 lalu di Jawa Barat. Saat itu ia mengikuti nomor Precision Landing Single Seater Putra dan ada pada urutan kelima.

Ia merasa bersyukur karena pada PON XX Papua ini sesuai dengan cita-citanya menyumbangkan medali emas untuk Papua dan berhasil ia wujudkan hari ini, Minggu (26/9/2021).

Menurutnya, ini merupakan emas pertama dari sejumlah ‘event’ yang ia ikuti yakni PON IX Jawa Barat tahun 2016 di Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang dan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Terbang Layang Tahun 2017 Jawa Barat yang dilaksanakan di tempat yang sama serta Kejurnas Tahun 2018 di Bandara Notohadinegoro, Jember, Jawa Timur. Pada dua Kerjunas itu ia menyabet medali perunggu.

“Dan alhamdulilah di tahun 2021 ini, sebagai tuan rumah saya bisa mendapatkan medali emas untuk Tanah Papua tercinta,” ujar pria yang pertama kali mengenal olahraga terbang layang saat duduk di kelas 2 SMK Angkasa 2 Kalijati, Subang Jawa Barat dalam ekstrakurikuler terbang layang.

Ia mengaku sangat bangga bisa mempersembahkan medali ini untuk Papua dan juga buat ibunya yang telah dipanggil Tuhan yang memang sangat berharap anaknya bisa mendapatkan medali  emas.

“Dari dulu ibu selalu berharap saya bisa dapat medali emas, tapi sekarang ibu sudah pergi meninggalkan saya. Ibu saya pasti berbahagia melihat saya saat ini,” ujar Ablay yang menamatkan sekolah di SD Negeri Karya Winaya Cikaum, Subang Jawa barat pada tahun 2003 lalu dan SMP Negeri Cikaum, Subang, Jawa Barat pada tahun 2006 lalu.

Momen ini juga menjadi anugerah terindah untuknya karena di saat ia begitu bahagia mendapatkan medali emas, pada Rabu (29/9/2021) ia akan dianugerahi anak ketiga dari Hani, istri tercintanya.

“Perasaan haru, bangga campur-aduk, saya tidak bisa ucapkan satu per satu. Ini mungkin anugerah terindah dalam hidup saya tidak akan pernah saya lupakan. Saya dapat medali emas dan Hari Rabu besok saya akan mempunyai anak ketiga. Sebenarnya anak keempat tapi anak sulung saya sudah meninggal,” kata dia.

Anak dari Ade Supriatna dan Almh. Ahyati ini awalnya dia sudah merasa optimis bisa meraih medali emas untuk PON XX Papua bahkan ia berani berjanji kepada salah satu pelatih asli Papua, Paul Graham Mnusefer, yang sudah dianggap sebagai orangtuanya, dan membawanya masuk dalam tim Papua ini.

“Saya pernah bilang pada Ketua Pelatih, Bapak Paul Graham Mnusefer, saya minta kelas precision landing single seater. Saya akan buktikan, saya akan kasih emas untuk Papua dan alhamdulilah Allah menjawab doa saya,” ujar dia.

Ablay yang selain sebagai atlet penerbang juga sebagai wirausahawan ini dulu sebelum bergabung dengan tim Papua, ia pernah bergabung juga dengan tim Sulawesi Utara tahun 2008 namun tidak lolos kualifikasi. Kemudian tahun 2012 gabung ke tim Banten, keberuntungan belum juga memihak kepadanya, ia masih tidak lolos kualifikasi.

Keburuntungan memihak padanya saat dia bergabung dengan tim Papua pada tahun 2016 lalu meksipun saat itu dalam PON IX ia belum mendapat medali sama sekali.

Dia menceritakan mengenai pelatih terbang layang tim Papua, Paul Graham Mnusefer sejak tahun 2007 lalu di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Saat itu KONI Papua mengirimkan atlet untuk dilatih di Kalijati dan pada tahun 2012 lalu Paul mengajaknya masuk dalam tim Papua, namun ia baru bergabung pada pada tahun 2016.

“Beliau sangat berjasa banyak membantu saya, saya juga berteman dekat dengan atlet penerbang lain dari Papua, ada Charles, Samuel dan Yance. Yang masih aktif sekarang Samuel dan Charles,” pungkasnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar