Januari-Agustus 2021, Ada 32 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Mimika

Bagikan Bagikan
Andarias Nauw (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Sebanyak 32 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Mimika terjadi pada Januari hingga Agustus 2021.

Hal ini disampaikan Koordinator Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Andarias Nauw kepada wartawan di salah satu hotel di Jalan Yos Sudarso, Timika, Papua, Kamis (8/9/2021).

Ia mengatakan, dari 32 kasus itu lebih banyak kasus pelecehan seksual terhadap anak.

“Sejak Januari sampai Agustus 2021 ini kami tangani 32 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang lebih banyak itu sekitar 20an kasus pelecehan seksual terhadap anak. Tahun-tahun sebelumnya kasus pelecehan seksual terhadap anak ini lebih banyak lagi,” ungkap Andarias.

Untuk itu ia mengimbau kepada orangtua yang memiliki anak di bawah umur terutama anak perempuan agar melakukan pengawasan yang lebih ketat. Pasalnya yang melakukan pelecehan seksual ini justru orang-orang terdekat dari anak.

“Seperti bapak tirinya, saudaranya, tetangganya, jadi anak tolong diawasi lebih ketat. Kalau tahun-tahun sebelumnya juga banyak kita tangani pelecehan seksual pada anak tapi pelakunya lebih banyak orang luar seperti anak yang dijemput di sekolah, orang menyamar jadi tukang ojek menjemput anak di sekolah kemudian lakukan pelecehan seksual terhadap anak,” ujarnya.

Selain kekerasan seksual terhadap anak, terjadi juga kasus penelantaran perempuan dan anak karena masalah perceraian yang disebabkan oleh faktor ekonomi, perselingkuhan dan lainnya.

Dikatakan, untuk penanganan kasus-kasus ini dilakukan beberapa pihak yang tergabung dalam P2TP2A.

Seperti proses hukum ditangani pihak berwajib dan psikolog yang melakukan trauma healing yaitu proses pemberian bantuan berupa penyembuhan untuk mengatasi gangguan psikologis seperti kecemasan, panik, dan gangguan lainnya karena lemahnya ketahanan fungsi-fungsi mental yang dimiliki korban.

 “Jadi dalam tim ini semua pihak yang terkait berupaya memberikan perlindungan dan memulihkan mental dan kondisi dari perempuan dan anak yang mengalami kekerasan,” pungkasnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar