Wakil Bupati Minta BNN Berantas Pengedar Narkoba di Mimika Sampai ke Akar-Akarnya

Bagikan Bagikan
Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,MM (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob,S.Sos,MM meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Mimika untuk memberantas pengedar narkotika dan obat-obatan (Narkoba) sampai ke akar-akarnya.

Mengingat di Timika pengguna Narkoba lebih banyak di kalangan pelajar yang merupakan generasi bangsa dan daerah ini.

“Saya dapat laporan banyak pelajar di Timika pakai narkoba dan yang paling banyak digunakan itu jenis sinte atau yang jenis cairan yang disemprotkan ke tembakau. Ini sudah sangat rawan, jadi saya minta BNN untuk berantas pengedaran Narkoba ini sampai ke akar-akarnya,” kata Wabup John di Bilangan Yos Sudarso, Kamis (9/9/2021).

Ia mengatakan, orangtua harus lebih ketat mengawasi anak-anaknya yang sudah mulai memiliki kebiasaan merokok, terlebih rokok linting.

“Karena jenis narkotika yang banyak dipakai pelajar itu sinte yang disemprotkan ke tembakau linting, menurut BNN ini lebih berbahaya dari ganja. Jadi orangtua harus lebih waspada dan bisa laporkan ke BNN jika melihat gelagat anaknya menjurus ke pengguna narkoba agar bisa ditangani lebih awal,” pesan John.

Menurutnya, pengguna narkotika jenis sinte ini juga lebih banyak di kalangan pelajar Orang Asli Papua (OAP), sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk melindungi dan menyelamatkan generasi Papua.

“Orang Papua ini sudah sedikit jangan dihancurkan oleh hal-hal semacam ini. Tugas kita semua jangan masa bodoh, kita semua bekerja dengan hati kita, lihat anak-anak kita ini, jangan ada uang dulu baru kerja,” ujar John.

Dikatakan, selain melindungi dari Narkoba, anak-anak juga perlu dilindungi dari kekerasan fisik, psikis, kekerasan seksual dan penelantaran anak.

Menurutnya, penelantaran anak di Timika sudah terjadi di antaranya dengan dibiarkan anak-anak menjadi ‘anak karton’ dan ‘anak aibon’.

‘Anak karton’ itu maksudnya anak-anak yang biasa menutup setiap kendaraan yang parkir di depan sejumlah toko menggunakan karton kemudian meminta uang pada pemilik kendaraan. Padahal anak-anak itu masih kecil dalam usia sekolah.

Sementara anak aibon merupakan anak-anak yang menghisap lem aibon sehingga membuatnya mabuk.

Hal ini membuat Wabup John mengajak semua pihak menyatukan hati dan pikiran untuk membantu Pemkab agar masyarakat Mimika terbebas dari kekerasan perempuan dan anak serta penelantaran anak.

“Kemudian kita bersama-sama mencari solusi, proses hukumnya seperti apa, bagaimana pusat pelayanan terpadu bisa bekerja maksimal supaya Mimika bisa terbebas dari kekerasan perempuan dan anak serta penelantaran anak,” sebutnya.

Ia mengungkapkan, sebenarnya Mimika memilili fasilitas yang memadai untuk penanganan anak-anak yang ditelantarkan, hanya saja perhatian terhadap persoalan ini yang masih kurang.

Fasilitas yang ia maksudkan ialah Panti Rehabilitasi di Kilometer 7, Kampung Kadun Jaya. Ia menjelaskan, Panti Rehabilitasi itu untuk anak-anak di bawah umur yang melakulan pelanggaran hukum namun karena anak-anak di bawa umur tidak bisa diproses secara hukum, sehingga panti itu seharusnya menjadi tempat merehabilitasi anak-anak tersebut.

“Di Gedung itu ada asramanya tetapi memang belum dioperasikan secara maksimal karena mungkin kita belum memberikan perhatian penuh terhadap hal-hal itu, padahal kita punya gedung yang bagus-bagus. Gedung itu pernah digunakan beberapa tahun, sekarang sudah tidak berfungsi dengan baik karena kurang ada perhatian,” ujarnya.

Ia kembali menekankan bahwa anak-anak menjadi pusat masa depan bangsa sehingga mereka harus diperhatikan dengan baik.

“Kita memulihkan pikiran mereka, kepribadian mereka, untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Jadi masalah anak-anak ini menjadi tanggungjawab kita bersama,” ungkap John. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar