pon xx papua
info grafis pesparawi xiii se tanah papua

Kembali Dari Meliput di "Neraka Kecil" Oleh Key Tokan A. Asis

Bagikan Bagikan

Suasana kebakaran di Kompleks Borobudur Kelurahan Padarmi, Distrik Manokwari Barat. (Foto-Antara)

SAPA (MANOKWARI) - "Catatan pengalaman para jurnalis di Manokwari"
 

Kamis 30 September 2021, terik matahari pagi di hari pamungkas bulan September "membakar" wilayah Manokwari dan sekitarnya. Cuaca panas ditingkahi angin adalah gejala alam biasa, warga pun beraktivitas mencari nafkah demi hidup yang lebih layak. Demikian pula para jurnalis yang saban waktu mewartakan kabar kehidupan beserta segala nilai kepada khayalak. 

Siapa sangka, suhu panas bikin gerah sejak pagi itu, membawa 600 kepala keluarga (KK) atau 1.800 lebih warga di Kompleks Borobudur Kelurahan Padarmi, Distrik Manokwari Barat, ke hari paling kelam dalam hidup. Malapetaka datang dalam bentuk api yang diduga bersumber dari kompor minyak tanah, mengubah kawasan itu seketika jadi "neraka kecil". 

Segera setelah asap hitam mengepul tinggi, menjulang menjangkau langit, disusul lidah apa menyala-nyala, berkobar menjalar ke setiap bangunan yang sebagian besar berbahan kayu, berhimpit-himpit pula, jagat maya pun mulai heboh. Platform media sosial seperti Facebook, WA grup, mulai ramai memosting dan menyiarkan kebakaran hebat itu. 

Ketika api baru dalam bentuk asap hitam pekat yang membubung tinggi, grup WA jurnalis di Manokwari saling membagi informasi dan bergegas menuju kawasan Borobudur. Liputan bencana kebakaran itu dimulai dengan resistensi tinggi. 

"Saya coba mendekat sambil  melihat mungkin ada yang bisa saya bantu, tetapi tidak bisa. Panas luar biasa. Panas sampai jarak puluhan meter pun kita seperti mau terbakar," kata Matias Reyaan, wartawan Nokennews.com, sekaligus Sekretaris PWI Provinsi Papua Barat. 

Tias mundur, mengambil jarak aman, dengan tetap memantau  arah api yang kian meluas dan terutama menyaksikan ribuan warga yang panik, berteriak histeris. Ada ibu-ibu yang meratapi rumahnya tersambar api, anak-anak menangis sejadi-jadinya mencari orangtua, sebagian besar mereka menyelamatkan diri dengan hanya pakaian yang melekat di badan. 

Pilu rasanya merasuk hingga dasar jiwa, melihat orang-orang tua berderai air mata, meratapi nasib. Harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun  lenyap seketika. Bayangkan, Kamis pagi, rumah-rumah di dua RW Kelurahan Padarmi masih kokoh berdiri menghiasi Teluk Sawah Ibu yang lumayan eksotik, kemudian pada siang hingga jelang petang, semuanya berubah. 

Rumah-rumah di darat tinggal abu dan arang; batas antara rumah yang satu dengan tetangga pun sudah sulit dikenali batas. Sementara rumah-rumah panggung di laut hanya tersisa bagian tiang yang terendam laut. Selebihnya, hanya tampak bekas material kebakaran yang mengapung di permukaan laut. 

Cerita lain datang dari wartawan Radar Sorong, La Ode Mursidin. Dia mengaku, konsentrasinya sempat terganggu karena banyak keluarga dekatnya menjadi korban. Juga, karena beredar informasi seorang anak kecil lepas dari gendongan ibunya yang panik. Namun kemudian, atas kuasa Tuhan anak tersebut ditemukan selamat. 

Informasi lain menyebutkan, seorang warga yang sudah lama lumpuh ditinggal pergi keluarganya untuk mencari nafkah. Beruntung, api membakar adrenalinnya untuk berjuang menyelamatkan diri. Dia berusaha berguling-guling hingga akhirnya jatuh ke laut dan ditolong warga. 

Tetapi, kata Mursidin, ketika mencoba mendekat ke lokasi kebakaran yang kian meluas akibat tiupan angin kencang dengan arah berubah-ubah, menyulitkan para jurnalis untuk merekam detail fakta dari jarak dekat. 

"Panas sekali sampai saya mandi keringat, kulit terasa panas seperti terbakar," katanya. 

Pengakuan senada juga disampaikan Ike Obinaru dari Ringpapua.com. "Saya ikut rombongan Gubernur Dominggus Mandacan. Saya coba mendekat dari jarak puluhan meter tetapi tidak kuat menahan panas, jadi saya mundur," aku Ike. 

Naluri Kemanusiaan 

Dari testimoni tiga jurnalis yang dijumpai  sehari sesudah peristiwa naas itu, mereka mengaku, selain meliput berita juga memperhatikan apa yang bisa diperbuat demi membantu para korban. Oleh karena tak berbuat saat suasana mengharu-biru pada Kamis (30/9) siang, malam hari berlangsung diskusi intensif di WAG untuk menghimpun bantuan bagi korban kebakaran. 

Maka, pada Jumat (1/10), sejak pagi komunitas jurnalis di Manokwari turun ke jalan, menghimpun bantuan untuk para korban. Segera setelah aksi kemanusiaan itu, siang hingga sore terbelanjalah puluhan sarung, tikar, susu bayi, pembalut, minyak kayu putih, minyak telon, air mineral dan belasan karton pakaian layak pakai diserahkan Ketua PWI Provinsi Papua Barat Bustam dan para jurnalis peduli kemanusiaan korban kebakaran Borobudur. 

Sehati setelah kejadian, tersaji  begitu banyak angle berita dan foto yang bisa menjadi makanan empuk para jurnalis. Misalnya, ada ayah dan anak bayi tidur berselimutkan sehelai koran,  anak kecil yang menangis kelaparan, orangtua yang terus berderai airmata tak henti karena tak ada harta benda yang selamat. 

"Saya menghindar, tidak mau foto bapak dan anak yang tidur beralaskan koran saja. Saya tidak kuat melihat itu, kata Tias Reyaan. 

Peristiwa akhir September kelabu yang kemudian memantil naluri kemanusiaan para jurnalis, setelah sebelumnya berjibaku di lokasi kebakaran mengingatkan kita pada cerita salah satu peraih penghargaan Pulitzer paling berkesan. 

Adalah Kevin Carter; fotografer asal Afrika Selatan yang meraih penghargaan Pulitzer atas hasil bidikannya pada 1993 terhadap seorang bocah lemah tak berdaya, berjuang menjangkau salah satu pusat bantuan PBB di Sudan yang tengah menghadapi bencana kelaparan. Kevin melihat sang anak diintai burung pemangsa bangkai dan berhasil memotretnya, namun kemudian dia harus menghadapi cemoohan khayalak dunia karena lebih memilih memotret dan bukan membantu si anak. 

Kevin yang mengalami depresi berat menghadapi cemoohan akhirnya mati bunuh diri. 

Apa yang dilakukan rekan-rekan jurnalis di Manokwari, betapapun kecil nilainya, sejak dari meliput di lokasi kebakaran sambil melihat kemungkinan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk menolong korban, diikuti aksi mengumpulkan bantuan adalah bagian dari sikap menjunjung tinggi kemanusiaan universal. 

Dalam bentuk dan jubah yang berbeda, para jurnalis di Manokwari mencoba merawat keseimbangan antara tugas- tugas pewartaan dan kewajiban moral. Kemanusiaan, sejatinya adalah satu dari dua ideologi utama yang menjadi roh tugas-tugas pewartaan (selain kebenaran) fan inilah yang memperteguh mengapa para jurnalis dibutuhkan di segala zaman dan suasana. (Antara)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar