Translate

Biak Raih Nilai Tertinggi Paduan Suara Etnik Inkulturatif Pesparawi XIII, Berikut Makna Setiap Lagu Kontingen

Bagikan Bagikan

Kontingen Biak Numfor foto bersama saat setelah tampil di kategori Paduan Suara Etnik Inkulturatif Pesparawi XIII se-Tanah Papua (Foto:Tangkapan layar)

SAPA (TIMIKA) - Kontingen Kabupaten Biak Numfor meraih Champion setelah meraih nilai tertinggi dan memperoleh medali emas untuk kategori lomba Paduan Suara Etnik Inkulturatif pada Pesparawi XIII se-Tanah Papua di Kabupaten Mimika yang digelar di GOR Futsal Timika, Papua, Kamis malam (4/11/2021).

Tampil pada urutan terakhir dengan nomor urut 28 Kontingen Biak Numfor mengenakan busana daerah dilengkapi berbagai aksesoris khas Papua dan menyanyikan lagu Wos Injirine dalam bahasa Biak sambil menari dipandu dirigen Everlius Laurens Wader.

Lagu ini menjelaskan tentang kekuatan Injil yang membuat manusia bertobat memasuki peradaban baru, menyambut Kristus Sang Bintang Timur yang gemilang.

Dalam tarian itu penari laki-laki menggunakan parang dan perisai yang terbuat dari kayu. 

Dari perpaduan penampilan musik lagu dan tarian yang indah itu, kontingen Biak Numfor akhirnya berhasil memukau juri dan berhasil menyabet emas dengan nilai 85,58.

Begitu nilai diumumkan langsung disambut tepuk tangan dan sorak sorai dari penonton. Bahkan sejumlah penonton masuk ke dalam tempat pentas dan ikut menari bersama peserta.

Dalam lomba paduan suara etnik itu semua kontingen membawa Salib dan Alkitab.

Bahkan hebatnya, semua kontingen yang menjadi peserta pada lomba Paduan Suara Etnik Inkulturatif ini mendapatkan medali emas.

Urutan kedua pada perlombaan tersebut diraih Kontingen Kabupaten Mimika dengan nilai 85,50. 

Tampil dengan nomor peserta 20, para penyanyi dan penari mengenakan pakaian adat perpaduan Suku Amungme dan Kamoro, yang merupakan dua suku asli Mimika, dengan menyanyikan lagu Weane dari Bahasa Amungme ciptaan Michael Beanal, serta lagu Narwawa dan Makiminamo Bahasa Kamoro, ciptaan Dominggus Kapiyau.

Lagu ini mengisahkan dua kelompok suku besar bertemu melakukan ritual penyembahan memuji dan memuliakan nama Tuhan, sebagai ucapan syukur atas segala kemurahan Tuhan yang masih memberi mereka kesempatan menikmati indahnya kehidupan.

Peserta bernyanyi sambil membawakan tarian etnik Amungme dan Kamoro dipandu dirigen Sampe Pangihutan Sianturi.

Sementara di urutan ketiga diraih Kontingen dari Merauke dengan perolehan nilai 84,50.

Mengenakan Busana khas Merauke, peserta tampil pada urutan kedua dengan nomor peserta 13 diiringi tifa dan alat-alat musik tradisional Papua seperti alat musik tiup Fu, Busek, serta kandara atau tifa besar khas Marind dan suling.

Tim Merauke membawakan lagu Nanggo Manggeman, ciptaan Florentina Gebze.

Lagu dan tarian ini mengisahkan kehidupan orang orang Marind yang telah menerima Injil Kristus sejak dulu kini dan masa yang akan datang.

Selanjutnya dari Kontingen Nabire meraih nilai 84,00. Tampil pada urutan keempat dengan nomor peserta 17, membawakan lagu Ugatame Miyobeu artinya Tuhan Allah luar biasa, ciptaan Edmar Ukago.

Diiriingi alat-alat musik tradisional Papua peserta yang mengenakan busana khas Nabire beserta aksesorisnya, lihai bernyanyi sambil menari. 

Dan kemudian dari Kabupaten Puncak dengan perolehan nilai 82,17.

Tampil pertama dengan nomor peserta 03, tim Kabupaten Puncak membawakan lagu Nitak Himie yang artinya menyembah Tuhan, ciptaan Pdt Don Gibbons dipandu dirigen Merry Tabuni.

Lagu itu merupakan lagu adat Suku Damal yang biasanya dalam acara adat seperti acara Injil Masuk Tanah Papua.

Mengenakan pakaian adat dan aksesoris khas Puncak peserta menari dan menyanyi memuji Tuhan.

Dalam tarian itu peserta laki-laki membawa busur dan panah sambil sesekali  busur dan panah dibunyikan dengan cara dipukul mengiringi lagu yang dinyanyikan. 

Di akhir setiap penampilan, setiap peserta mendapat souvenir dari panitia berupa Patung Mbitoro, ukiran khas Kamoro.

Di penghujung kegiatan ini yang juga merupakan perlombaan terakhir dari 12 kategori, Ketua Umum Panitia Pelaksana Pesparawi XIII se-Tanah Papua, Johannes Rettob,S.Sos,M.M dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada panitia, kontingen dan semua pihak yang turut berperanserta dalam menyukseskan pelaksanaan Pesparawi tersebut.

“Pesparawi telah selesai. Terimakasih banyak untuk semua dukungan dalam pelaksanaan Pesparawi 13 di Kabupaten Mimika. Besok (Jumat, Red) kita akan melaksanakan musyawarah daerah (Musda) Pesparawi ke-13 untuk memilih Kabupaten mana yang akan menjadi tuan rumah pada Pesparawi se-Tanah Papua ke-14. Nanti hari Sabtu kita akan gelar penutupan di GOR MSC dan dibuka untuk umum, akan banyak artis yang hadir di situ,” kata John. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar