Translate

Butuh Konsistensi Pemkab dan Kepolisian Membasmi Bisnis Ilegal Miras di Mimika

Bagikan Bagikan

MENGONSUMSI minuman beralkohol atau biasa disebut minuman keras (Miras) terasa bagaikan surga dan bahkan menjadi candu bagi para penikmatnya.

Hal ini pun dimanfaatkan oleh para pengusaha penjual Miras dengan keuntungan yang cukup gemilang diperoleh dari bisnis minuman tersebut.

Apalagi pada setiap penghujung tahun menjelang Natal dan Tahun Baru, bisnis menjual Miras ini menjadi sangat menggiurkan karena peningkatan penjualan secara kuantitas yang cukup signifikan berbarengan dengan euforia yang dirasakan di tengah-tengah masyarakat.

Seperti diketahui, berdasarkan peraturan menteri perdagangan RI nomor 20/M-Dag/Per/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol pada pasal 2 disebutkan bahwa minumal beralkohol dikelompokkan menjadi 3 golongan, yakni Minuman beralkohol golongan A adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar sampai 5 persen, Minuman beralkohol golongan B adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar lebih dari 5 persen sampai dengan 20 persen, dan Minuman beralkohol golongan C adalah minuman yang mengandung etil alkohol atau etanol (C2H5OH) dengan kadar lebih dari 20 persen sampai 55 persen.

Masih hangat diingatan kita terkait Peraturan Presiden nomor 10 tahun 2021 tentang bidang usaha penanaman modal, yakni bidang usaha industri Miras dan industri minuman mengandung alkohol anggur. Di dalam Perpres itu disebutkan bahwa investasi Miras masih diperbolehkan secara terbuka di empat Provinsi, yakni Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua.

Pertanyaan mendasarnya, kenapa 4 Provinsi itu menjadi alamat diperbolehkannya secara terbuka penjualan Miras? Entahlah!

Namun yang jelas dan pasti, 4 Provinsi itu bukan seperti beberapa negara di Eropa, Amerika dan negara-negara lainnya yang notabene cuacanya sangat dingin sehingga mengonsumsi Miras merupakan hal yang lumrah dan bahkan suatu keniscayaan. Walaupun diizinkan, tapi setiap orang di negara-negara tersebut sebagian besar masih wajar dan terkontrol porsi dalam mengonsumsi Miras.

Sebab, dalam berbagai penelitian ilmiah yang telah dilakukan, mengonsumsi Miras dalam porsi yang wajar, yakni satu atau maksimal dua gelas dalam sehari, dapat bermanfaat bagi kesehatan.

Misalnya seperti dilansir dari hellosehat.com, lebih dari 100 penelitian Harvard School of Public Health menyatakan bahwa dalam porsi wajar, BIR dan Anggur Merah (Red Wine) dapat menurunkan resiko penyakit jantung hingga 40%. Sebab minuman tersebut dapat meningkatkan kolesterol baik (HDL), menurunkan kolesterol jahat (LDL), dan mengurangi resiko penggumpalan darah. Dalam sebuah studi yang diterbitkan Journal Agriculture and Food Chemistry melaporkan bahwa senyawa aktif dalam Hops (yang terkandung dalam minuman BIR) dapat melindungi seseorang dari resiko penyakit parkinson. BIR dan Wine juga dapat menurunkan resiko pembentukan batu ginjal hingga sekitar 41%, mencegah flu dan masuk angin.

Di samping itu, berdasarkan penelitian dari Loyola University, mengonsumsi Miras dalam golongan apapun dengan porsi yang wajar dapat membantu mencegah penurunan fungsi kognitif otak sebanyak 23%, termasuk mencegah penyakit Alzheimer dan demensia (masalah daya ingat, perilaku dan kemampuan berpikir).

Nah, muncul pertanyaan berikutnya, di Indonesia khususnya di Papua dan termasuk di Mimika, apakah para pecandu Miras dapat mengontrol dalam mengonsumsi Miras tersebut untuk porsi yang wajar?

Mungkin jawabannya, 99% diragukan dan 1% tidak dapat dipercaya.

Fakta menunjukkan, secara khusus di Mimika, sesuai pengakuan pihak kepolisian bahwa tindakan-tindakan kriminal dan berbagai kecelakaan yang banyak terjadi, mayoritas faktor penyebab utamanya karena dipengaruhi oleh Miras.

Untuk itu, menutup peredaran Miras secara bebas di masyarakat adalah langkah yang sangat tepat.

Syukurlah, Presiden Jokowidodo mencabut Perpres yang kontroversial di atas dan kemudian mengeluarkan Perpres nomor 49 tahun 2021 yang di dalamnya menyatakan bahwa industri Miras sebagai bidang usaha yang tertutup untuk investasi dan berlaku sejak 25 Mei 2021 lalu.

Pada pasal 2 ayat 2b disebutkan bahwa bidang usaha yang dinyatakan tertutup adalah industri minuman keras mengandung alkohol (KBLI 11010), Industri Minuman Mengandung Alkohol Anggur (KBLI 11020), dan Industri Mengandung Malt (KBLI 11031). Sedangkan dalam pasal 6 ayat 1d disebutkan bahwa persyaratan Penanaman Modal lainnya yaitu bidang usaha yang dibatasi dan diawasi secara ketat serta diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri di bidang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol.

Artinya, produksi Miras dan peredaran Miras oleh distributor harus memiliki izin resmi dari Badan POM dan Pemerintah Daerah setempat.

Mengacu pada Perpres di atas, secara khusus untuk konteks di Mimika, Pemkab Mimika dan pihak kepolisian harus konsisten menegakkan aturan, tanpa pandang bulu dan tidak terpengaruh sogokan segepok uang, untuk membatasi dan mengawasi secara ketat penjualan Miras di Kabupaten Mimika. Termasuk di dalamnya, membasmi bisnis ilegal Miras yakni memutus rantai peredasan Miras atau Miras lokal ilegal dan menindak tegas toko-toko minuman dingin yang menjual Miras tanpa mengantongi izin.

Fokus utama dan terpenting adalah capaian yang bermartabat dalam meminimalisir dan bahkan mengeliminasi tindakan kriminal dan kecelakaan karena pengaruh Miras demi membentuk peradaban di Kabupaten Mimika, di tanah Amungsa bumi Kamoro ini.

 

Amolongo… Nimao Witimi

Salam! (JIRU)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar