Translate

Imam Projo Keuskupan Timika Serukan Hentikan Saling Tembak di Intan Jaya, Berikut Isi Seruan Lengkapnya

Bagikan Bagikan
Dari kiri ke kanan, Ketua SKP Keuskupan Timika, Saul Wanimbo, Pastor Paroki Kristus Jaya Komopa Paniai, Pastor Gusti Elmas, Pr, Ketua Unio Imam Projo Keuskupan Timika, Pastor Domi Hodo, Pr dan Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, Pastor Amandus Rahadat, Pr saat jumpa pers di Aula Keuskupan Timika, Jalan Cenderawasih, SP2, Timika Papua (Foto:SAPA/Yosefina)

SAPA (TIMIKA) - Imam-imam projo di wilayah Keuskupan Timika menyeruhkan kepada pihak Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dan TNI/Polri untuk menghentikan saling tembak di wilayah Kabupaten Intan Jaya, karena aksi itu membuat sejumlah masyarakat sipil menjadi korban.

Ketua Unio Imam Projo Keuskupan Timika, Pastor Domi Hodo,Pr dalam jumpa pers di Aula Keuskupan Timika, Minggu (31/10/2021), mengatakan bahwa pada tanggal 10 desember 2020 lalu telah melakukan jumpa pers untuk menyampaikan seruan moral demi keadilan dan kebenaran.

Seruan moral waktu itu dilakukan oleh 147 imam Katolik se-Tanah Papua.

Sementara sekarang sedang digagas seruan moral berikutnya oleh pastor se-Tanah Papua, namun sambil menunggu itu para pastor/imam projo Keuskupan Timika sepakat hari ini menyeruhkan masalah yang sedang terjadi di Intan Jaya yang termasuk dalam wilayah Keuskupan Timika.

“Kami imam di wilayah Keuskupan Timika merasa harus bicara karena situasi urgent,” ujarnya. 

Ia menceritakan pada tanggal 11 Oktober 2021 lalu, rombongan Uskup Keuskupan Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC dan Administrator Diosesan di Keuskupan Timika Pastor Marthen Ekowaibi Kuayo,Pr, tiba di Belogai, Intan Jaya untuk penahbisan 3 imam baru yang dilakukan pada keesokan harinya 12 Oktober.

Acara penahbisan saat itu berlangsung khidmat dan khusyuk, semua orang yang hadir saat itu baik itu masyarakat biasa maupun aparat keamanan terlibat langsung dalam pesta iman itu.

“Terlihat ada damai saat itu tapi sangat disayangkan pasca kegiatan itu Intan Jaya kembali bergejolak, ketenteraman dan damai sekejab hilang. Terjadi baku tembak antara TNPB OPM dan TNI/Polri di tengah kota. Situasi itu menuntut kami para imam projo Keuskupan Timika harus buka suara,” katanya.

Pada kesempatan itu, Pastor Hodo menugaskan Pastor Paroki Kristus Jaya Komopa Paniai, Pastor Gusti Elmas, Pr membacakan seruan tersebut.

Dikatakan, mengingat konflik bersenjata di Kabupaten Intan Jaya wilayah Keuskupan Timika dan beberapa tempat lain di Papua menyebabkan begitu banyak korban termasuk anak kecil, dan juga berakibat pada pengungsian masyarakat sipil dalam skala besar maka para pastor projo menyerukan agar segera dilakukan dialog yang mendatangkan perdamaian.

“Demi kewajiban kami untuk praktikan hak asasi manusia, berseru kepada kedua belah pihak, TPNPB OPM dan TNI/Polri agar segera menghentikan saling tembak dan memulai dialog untuk mendatangkan damai sejahtera yang lestari,” baca Pastor Gusti.

Sementara itu Ketua Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika, Saul Wanimbo mengatakan, peristiwa yang terjadi di Intan Jaya ini penyebab utamanya pemerintah berupaya membuka penambangan emas di Intan Jaya.

Hal ini menurutnya akan mengorbankan masyarakat sipil yang punya hak ulayat di atas tanah Intan Jaya. 

Pasalnya daerah itu tidak luas sehingga jika ada perusahaan yang dibuka otomatis orang asli di situ akan kehilangan ruang untuk hidup.

Menurutnya, Gereja Katolik punya sikap jelas dalam surat beberapa waktu lalu, gereja menolak hadirnya perusahaan tambang emas.

“Saya pikir masyarakat juga kebanyakan umat kita di sana mereka juga menolak itu mengikuti suara gereja,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika ada perusahaan tambang emas di Intan Jaya maka otomatis banyak pos militer ada di tengah-tengah pemukiman warga, sehingga ketika terjadi saling tembak antara TNI/Polri dan TPNPB OPM maka tidak bisa dihindari bahwa orang sipil menjadi korban.

Seperti yang terjadi pada Selasa 26 Oktober, dua orang anak tertembak. Aprianus Sondegau (2 tahun) meninggal dunia dan Yoakim Majau (6 tahun) terkena serpihan peluru yang mana saat ini sedang menjalani perawatan.

Kemudian, pada Jumat petang (29/10/2021), terjadi kontak tembak antara TNI/Polri dengan TPNPB di dekat Bandara Bilogai. Saat itu pula Kantor Airnav unit Bilorai dibakar.

Saat itu Pastor Yance Yogi dan Pastor Frans Sondegau menyelamatkan enam orang warga yang terjebak dalam rumah yang dibakar di Bandara Bilogai. Mereka kemudian dibawa berkumpul bersama warga lainnya yang mengungsi ke gereja. 

Pihaknya menerima laporan terakhir pada hari Jumat, sebanyak 1.955 warga telah mengungsi ke kompleks pastoran Paroki Bilogai. Para pengungsi terbagi di tiga titik, yaitu kompleks Pastoran Gereja Katolik Bilogai dan dua gereja stasi lain di sekitarnya.

“Pengungsi cukup banyak kelihatannya butuh bantuan pangan, saat ini mereka beristirahat di kompleks pastoran, membuat tenda-tenda di sekitar sekolah dan lapangan sepak bola,” ujarnya.

Sementara itu Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, Amandus Rahadat,Pr mengatakan, untuk mengantisipasi jangan sampai orang yang tidak memahami persoalan lalu memberi tanggapan yang keliru bahwa pastor mencampur urusan politik, ia menegaskan bahwa sebagai Imam Projo Imam punya tiga fungsi tugas yang diberikan oleh Yesus di gereja.

Tugas pertama adalah imam dan seorang imam tugasnya melayani kegiatan doa-doa dan kegiatan liturgi bersama umat.

Yang kedua Imam itu adalah raja yang tugasnya mengatur kondisi umatnya, mengatur semua yang perlu agar umatnya bisa hidup baik atau disebut tugas manajerial.

Kemudian yang ketiga adalah tugas Nabi yang memperhatikan semua yang terjadi di masyarakat dan bilamana unsur keadilan, kebenaran dan kejujuran diinjak oleh siapapun, seorang imam tidak boleh diam.

“Dia harus bicara Ketua Unio Imam Projo Keuskupan Timika mengangkat ini dalam kapasitas sebagai seorang nabi dan di sinilah kami bicara itu hal yang perlu saya jelaskan supaya jelas,” ungkapnya.

Ia mengatakan, imam projo tidak mencampuri urusan politik apapun, seruan yang disampaikan itu kepada TPNPB OPM dan TNI/Polri untuk duduk bersama dan berdialog.

“Jangan membiarkan ini berlarut-larut lalu rakyat yang tidak berdosa menjadi korban,” tegasnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar