Translate

Pesparawi XIII, Bupati Asmat Puas dengan Pelayanan di Mimika Namun Kecewa Dengan Juri

Bagikan Bagikan
Bupati Asmat, Elisa Kambu foto bersama peserta Pesparawi XIII se-Tanah Papua, kategori solo anak 7-9 tahun, Juasthin Bartoh Demetouw yang meraih medali emas di GKI Diaspora, SP2, Timika, Papua (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Bupati Kabupaten Asmat, Elisa Kambu mengaku puas dengan pelayanan di Mimika pada momen Pesparawi XIII se-Tanah Papua.

Akan tetapi ia kecewa dengan kinerja juri, pasalnya tindakan yang dilakukan juri saat menyodorkan hasil penjurian ke panitia dan nampak berbicara kepada panitia yang melakukan penginputan hasil sehingga menimbulkan kecurigaan.

“Kalau pelayanan di Timika, tempat penginapan, makan minum, tempat lomba semuanya sangat memuaskan tapi sikap juri ini buat kita curiga dan kecewa,” kata Elisa kepada Salam Papua di Wisma KPG, SP2, Timika, Papua, Senin malam (1/11/2021).

Menurutnya, juri seharusnya setelah menyodorkan hasil lomba ke panitia untuk diinput langsung kembali ke tempat duduknya tidak perlu lagi berdiri di tempat panitia saat penginputan, apalagi penginputan jadi lebih lama yang membuat peserta dan pendukung yang hadir semakin curiga.

Sehingga ia mengusulkan pada Pesparawi se-Tanah Papua berikutnya ada saksi dari setiap kontingen saat penginputan.

“Jadi ini kami tadi (Senin, 1/11/2021, Red) lihat langsung sikap juri seperti itu saat lomba Paduan Suara Pria dan Paduan Suara Anak,” ujarnya.

Ia mengatakan sangat mendukung hajatan kerohanian ini sehingga dari Asmat selalu mengirim peserta setiap kali Pesparawi.

Pemkab Asmat juga rutin menganggarkan dana untuk Pesparawi bahkan ia sendiri yang langsung memimpin kontingen.

“Yang pertama kami ada di sini karena memang  memberikan support untuk kegiatan ini anak-anak kami mengambil bagian dalam pesta paduan suara gerejawi di Mimika. Sejak Asmat jadi Kabupaten tiap event ini kita ikut. Kalau saya sendiri sudah tiga kali berturut-turut hadir dan memimpin langsung kontingen, tahun 2013 di Wamena, 2017 di Kaimana dan hari ini ada di kabupaten Mimika,” ujarnya.

Ia mengatakan, biasanya Asmat mengikuti semua kategori dalam Pesparawi sehingga peserta bisa sampai lebih dari 200  orang. Namun karena Pandemi Covid-19 ini sehingga hanya 65 orang yang ikut dan ini sudah termasuk official.

Ia pun memuji peserta Asmat yang setiap Pesparawi selalu menampilkan yang terbaik.

“Kami setiap Pesparawi penampilannya luar biasa, anak-anak kami selalu tampilkan yang terbaik karena memang tujuan kami datang mempersembahkan yang terbaik. Kalau bisa dapat medali atau mungkin champion itu urusan belakang, yang penting kita mempersembahkan yang terbaik. Kita datang untuk memuliakan Tuhan, karena anak-anak ini mereka sudah memiliki talenta,” ujar dia.

Ia menyebutkan pembukaan Pesparawi di Timika memang berlangsung meriah, tapi menurutnya lebih meriah lagi kalau dilakukan di lapangan seperti pada Pesparawi sebelum-sebelumnya.

“Karena di dalam ruangan jadi rasanya tidak semeriah seperti kita lakukan di lapangan. Kalau di lapangan terbuka itu lebih meriah, gaungnya itu luar biasa,” kata dia.

Kontingen Asmat akan kembali pada tanggal 5 November mendatang karena harus menyesuaikan dengan jadwal pesawat. 

“Jadi nanti kita tidak bisa ikut penutupan, tapi pengurus LPPD masih di sini untuk ikut Musda,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua 3 Panitia Pelaksana (Panpel) Pesparawi XIII se-Tanah Papua, Johan Ade Matulessy juga mengaku kecewa dengan sikap juri.

Ia mengatakan seharusnya setelah melakukan penilain dewan juri tetap duduk di tempat nanti petugas yang mengambil hasil penilaian dan memberikan kepada operator untuk diinput. Namun yang terjadi di beberapa kategori, juri membawa nilai ke operator dan saat operator memasukan data di komputer, juri tetap ada di situ dan berbicara dengan operator bahkan menunjuk ke komputer sehingga menimbulkan kecurigaan.

Sehingga ia memberi saran kepada juri agar lakukan sesuai aturan yang ada. 

“Juri cukup duduk di tempat nanti petugas yang ambil nilai dan kasih ke operator yang input, juri tidak perlu ke mejanya operator,” ucapnya.

Bahkan ia menyarankan bila perlu juri menulis nilainya di kertas lalu mengangkatnya dan menunjukan langsung kepada peserta dan penonton, barulah diambil oleh operator untuk dijumlahkan nilainya dan diinput.

“Seperti juri di ajang-ajang televisi itu biar semuanya lebih terbuka tidak saling curiga,” kata dia. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar