Translate

Purwanto Sukses Jadi Petani Ikan Air Tawar Sejak Dibina Dinas Perikanan Mimika

Bagikan Bagikan
Purwanto, petani ikan air tawar (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) - Purwanto, petani ikan air tawar di Jalan Garuda, SP1, Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania, Mimika, Papua.

Sejak masuk menjadi binaan Dinas Perikanan Kabupaten Mimika dan terus mendapatkan dukungan dan bimbingan, serta usaha dan kerja kerasnya kini ia sudah memiliki 40 kolam ikan terdiri dari kolam permanen dan kolam tanah. 40 kolam untuk pembibitan ikan itu di atas lahan seluas 40×100 meter, yang sudah termasuk bangunan rumah tinggalnya.

Bahkan kini ia sedang membangun tujuh kolam permanen lagi dengan luas 2x4 meter.

“Saya jadi pembudidaya ikan air tawar ini sudah 20 tahun, selama 10 tahun saya jalan sendiri. Sejak 10 tahun lalu saya kenal dengan Dinas Perikanan dan masuk dalam binaan mereka, waktu itu saya hanya miliki empat kolam ikan. Tapi karena selalu dapat bantuan peralatan pakan dan bantuan lainnya usaha saya jadi berkembang sekarang saya sudah punya 40 kolam ikan dan sedang bangun lagi tujuh kolam ikan permanen,” ujar Purwanto saat ditemui Salam Papua ketika peresmian dan operasional instalasi produksi benih ikan dengan recirculating aquaculture sistem (RAS) di Balai Benih Ikan Lokal (BBIL), Kampung Bhintuka, SP13, Distrik Kuala Kencana, Mimika, Selasa (3/11/2021).

Menurutnya, sejak dua tahun terakhir dia tidak menerima bantuan dari Dinas Perikanan karena ia sudah mandiri dalam usahanya.

“Baru dua tahun saya tidak terima bantuan karena sudah mandiri, dinas punya banyak binaan baru jadi mungkin fokus ke petani-petani ikan yang baru merintis usahanya,” ujarnya.

Ia mengatakan ikan-ikan yang dibudidayakan merupakan bibit ikan konsumsi, awalnya hanya ikan nila, emas dan ikan lele, namun kini ia sudah mulai membudidayakan juga bibit ikan gurame dan ikan-ikan hias.

“Usaha saya ini pembibitan jadi 1 tahun bisa 1 juta lebih bibit, karena saya supplier ke pedalaman seperti di Agast dan beberapa kabupaten lain,” ungkapnya.

Selain budi daya bibit ikan ia juga membudidayakan ikan, yang mana untuk konsumsi sehari-hari yang dijual ke hotel-hotel, warung-warung dan banyak juga masyarakat yang langsung membeli di kolam. Akan tetapi jumlahnya tidak sebanyak bibit ikan.

“Kalau ikan konsumsi ada juga tapi tidak sebanyak bibit, terbatas sekali karena kita terbatas modal terutama pakan karena pakainya itu mahal sekali,” ujarnya.

Dia menceritakan 15 tahun lalu ia sempat membudidayakan ikan untuk langsung dikonsumsi bahkan sempat diproduksi ke PT Puncak Jaya Power (PJP) dan PT Petrosea di Timika, namun karena harga pakan yang terlalu mahal sehingga kerjasamanya dihentikan dan usahanya sempat mengalami kebangkrutan.

Namun dengan semangat dan kerja kerasnya ia kembali merintis usahanya dan lebih fokus pada pembibitan ikan.

Ia menyebutkan dari usaha pembibitan ikan ini dalam sebulan ia bisa berpenghasilan paling kecil Rp 15 juta, bahkan kadang bisa sampai Rp 70 juta. 

“Apalagi kalau ada proyek seperti Bulan Juli kemarin dari Kabupatem Agast membelo 160 ribu ekor bibit ikan itu nilanya sampai Rp 160 juta. Sekarang juga saya sedang lobi untuk kerja sama dengan kabupaten-kabupaten lain,” ujarnya.

Purwanto menjelaskan budidaya bibit ikan ini merupakan usaha yang gampang dilakukan, tantangannya hanya pada cuaca. Seperti musim-musim saat ini agak sulit untuk pengusaha-pengusaha pembibitan ikan.

“Kalau siang panas tiba-tiba hujan datang itu bibit banyak yang mati, solusinya harus ada, jadi sementara kita pakai atap plastik paranet,” tuturnya.

Dari usahanya yang cukup menjanjikan, saat ini ia sedang membiayai kuliah dua orang anaknya dari usaha budidaya bibit ikan ini.

“Saya biaya kebutuhan keluarga dan biayai kuliah dua anak sekarang ini di Yogyakarta dari usaha ikan ini,” tuturnya. (YOSEFINA)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar