Translate

Saat Salam Papua Bertemu Mahasiswa Papua di Amerika: Mengurai Semangat Studi dan Harapan Bagi Pemerintah

Bagikan Bagikan

Joe Manurung (sebelah kiri kedua dari belakang) bersama ke 2 rekannya saat bertemu mahasiswa-mahasiswi Papua di Corvallis, Oregon-USA (Foto:Istimewa)

SAPA (TIMIKA) – Joe Manurung, salah satu dari empat kakak-beradik, dikenal dengan julukan “Four Brothers”, yang lahir-besar di Tembagapura Timika, Papua, sebagai pemilik Media Salam Papua dalam kunjungannya ke United State of America (USA) berkesempatan bertemu dan berbincang-bincang dengan mahasiswa-mahasiswi Papua yang melanjutkan studi di negeri Paman Sam tersebut, Sabtu sore waktu setempat atau Minggu subuh waktu Papua (21/11/2021).

Joe yang didampingi 2 rekannya yakni Agee Diau dan Andez Diau, kakak beradik asal Indonesia yang kini telah menjadi warga negara Amerika Serikat dan berdomisili di Seattle Washington bersama keluarga mereka, melakukan perjalanan untuk bertemu dengan beberapa mahasiswa-mahasiswi Papua di Corvallis, Oregon.

Joe mengaku sangat senang dan bangga dapat berdiskusi ringan dengan beberapa mahasiswa-mahasiswi yang tergabung dalam komunitas Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) USA-Canada.

“Saya bangga melihat anak-anak Papua dapat melanjutkan studi di luar negeri seperti di Amerika ini, dan mereka begitu antusias,” ujar Joe kepada jurnalis Salam Papua melalui sambungan telepon whatsapp.

Hal senada pun disampaikan 2 rekannya kepada jurnalis Salam Papua.

Agee, yang sebelumnya pernah bekerja di AMAZON dan kini berprofesi di bidang Supply Chain Management (SCM), mengatakan sangat senang ketika bertemu mahasiswa-mahasiswi Papua ini dan berharap agar Pemerintah Indonesia dapat terus mendukung proses studi mereka hingga selesai.

“Saya senang bertemu mereka. Saya juga melihat keceriaan terpancar dari wajah mereka dan mereka begitu bersemangat dalam menempuh studinya di sini. Saya berharap Pemerintah Indonesia, khususnya Pemerintah Provinsi Papua selalu mendukung proses studinya, salah satunya agar tidak sering mengalami keterlambatan pengiriman biaya studi,” kata Agee.

Sedangkan Andez, seorang analyst dan researches di bidang pendidikan dan HR, mengungkapkan bahwa mahasiswa-mahasiswi Papua ini memiliki persekutuan yang sangat erat dan bersemangat dalam melanjutkan studinya. Bahkan dirinya melihat, ketika lulus nanti, anak-anak Papua ini bisa menjadi pemimpin yang berkompeten di daerahnya, dan dapat menjadi contoh bagi generasi-generasi berikutnya.

Andez juga berharap mahasiswa-mahasiswi Papua yang melanjutkan di luar negeri agar dapat membangun hubungan dengan banyak orang, termasuk orang-orang non Papua, untuk menimbah banyak pengalaman pekerjaan. Selain itu, ketika kembali dari studinya, dapat menciptakan lapangan pekerjaan secara mandiri untuk membangun tanah Papua.

“Saat bertemu mereka, saya melihat persaudaraannya sebagai anak-anak Papua begitu kuat. Dimana yang senior membantu yang baru datang, sehingga mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi tempat studi mereka di sini. Anak-anak Papua ini memiliki potensi di bidangnya masing-masing dan dapat bermanfaat di daerah asalnya ketika kembali nanti setelah menyelesaikan sekolahnya. Di antaranya, ada yang mengambil jurusan Pilot, bisnis internasional, pertanian, geologi, dan sebagainya,” tutur Andez.

Jurnalis Salam Papua juga berkesempatan mewawancarai melalui sambungan telepon whatsapp dengan 2 mahasiswa-mahasiswi Papua yang turut hadir dalam pertemuan tersebut bersama rekan-rekannya yang lain.

Joe Manurung (kiri) dan Manuel Heselo (kanan)

Manuel Heselo, yang merupakan Ketua IMAPA USA-Canada, memberi apresiasi kepada Gubernur Papua, Lukas Enembe dalam mengembangkan SDM Papua untuk dapat melanjutkan studi di luar negeri, seperti di Amerika, Canada, China, New Zealand, Jepang, dan negara-negara lainnya.

“Mewakili IMAPA, kami sangat mengapresiasi kebijakan Gubernur Papua yang mengembangkan SDM Papua sehingga kami disponsori untuk sekolah ke luar negeri,” ujarnya.

Menurut dia, ide terbentuknya IMAPA berasal dari para senior asal Papua yang menempuh pendidikan di Amerika dan Canada khususnya yang melihat semakin banyak anak-anak Papua yang datang menempuh studi di luar negeri, sehingga pada tahun 2017 dibentuklah perhimpunan ini untuk membantu adik-adik asal Papua yang baru datang dalam penyesuaian dengan berbagai hal termasuk budaya di luar negeri, di tempat studinya.

“Melalui IMAPA ini, mahasiswa-mahasiswi asal Papua bisa saling bertemu, saling mengenal dan saling sharing pada event-event yang dilakukan setiap 6 bulan atau 1 tahun di saat perayaan Natal,” ujarnya.

Pria asal Wamena, Papua yang mengambil studi bidang geologi di Oregon State University, Amerika dan akan lulus pada bulan Desember mendatang ini mengaku bahwa semangat untuk belajar dari anak-anak Papua di luar negeri sangat luar biasa.

Dia mengatakan, setelah menyelesaikan studinya, dirinya masih akan menetap di Amerika sekitar 2 tahun untuk mencari pengalaman kerja dan kemudian kembali ke Papua.

“Secara general, semangat anak-anak Papua untuk belajar sangat luar biasa. Karena bisa menempuh studi di luar negeri ini merupakan kesempatan yang sangat langka, jadi kami manfaatkan semaksimal mungkin. Dalam setiap sharing yang dilakukan di IMAPA ini, ada ide yang menyatakan bahwa ketika lulus nanti, kita tidak harus menambah masalah kepada pemerintah untuk memfasilitasi dengan cara memberikan pekerjaan saat pulang ke Papua, seperti halnya bekerja di perusahaan dan di pemerintahan. Tapi kita harus berinovasi membuka lapangan pekerjaan secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya alam di Papua serta sekaligus dapat mempekerjakan dan memberdayakan orang-orang asli Papua,” kata Manuel.

Cecilia Novani Mehue

Sementara Cecilia Novani Mehue, sebagai wakil ketua IMAPA mengatakan bahwa di IMAPA beranggotakan sekitar 350 orang, yang merupakan mahasiswa-mahasiswa Papua yang menempuh studi di Amerika dan Canada.

Dia mengungkapkan, IMAPA selalu membantu mengkomunikasikan ke pihak KBRI di Amerika ketika ada mahasiswa-mahasiswi Papua yang mengalami masalah keterlambatan biaya studi oleh Pemprov Papua.

“Saat Gubernur Papua, Lukas Enembe melakukan kunjungan di Amerika tahun 2019 lalu, kami fasilitasi mahasiswa-mahasiswi Papua untuk bertemu dan menggelar kegiatan bakar batu. Di tahun yang sama kami juga menggelar konferensi mahasiswa Papua. Di samping itu, IMAPA tahun lalu membantu teman-teman yang mengungsi di Nduga dan Wamena. Dan di tahun ini kami berencana akan melaksanakan konferensi perempuan Papua untuk pertama kalinya di Amerika,” ungkapnya.

Putri asal Sentani Jayapura, Papua, yang telah menyelesaikan studi S1nya pada bidang Human Development di Oregon State University, Amerika, dan saat ini sedang menempuh studi Master (S2) of Science in Business Focus in Marketing Insights and Analytics di kampus yang sama ini, mengaku masih akan mencari pengalaman pekerjaan di Amerika setelah lulus nanti.

“Sama juga situasinya seperti teman-teman yang lain, kalau misalnya ada tawaran pekerjaan di Papua, saya pasti balik ke Papua. Tapi kalau tidak ada, berarti saya memutuskan untuk mencari pekerjaan di sini (Amerika) dulu, nanti sudah dapat modal (kerja) baru saya balik untuk bisa berbisnis di Papua,” ujarnya.

Dirinya pun berharap pemerintah Provinsi Papua secara khusus dapat mengkolaborasikan program beasiswa anak-anak Papua untuk studi ke luar negeri dengan penyediaan lapangan pekerjaan di Papua, agar anak-anak Papua ini setelah lulus dapat langsung kembali ke Papua dan mengembangkan tanahnya sendiri sesuai bidang ilmu yang diperolehnya.

“Program beasiswa itu bagus tapi harus disertai dengan lapangan pekerjaan yang memang sudah tersedia di pemerintahan atau pun di tanah Papua itu sendiri, supaya anak-anak yang telah menyelesaikan studinya di luar negeri bisa memiliki peluang kerja dalam menerapkan ilmu yang telah dipelajari untuk mengembangkan Papua,” kata Cecilia. (Jimmy)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar