Translate

Selamat Jalan Anis Natkime: Sosok Religius, Tokoh Panutan dan Sang Pejuang Damai di Mimika

Bagikan Bagikan
Situasi pemakaman Alm. Anis Natkime (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Selamat Jalan Kepala Suku Besar Anis Natkime, sosok religius, tokoh panutan dan sang pejuang damai di Mimika.

Almarhum Anis Natkime meninggal dunia sekitar jam 11.00 WIT di RSUD Mimika, tanggal 9 November 2021.

Jenazah Tokoh panutan ini dimakamkan di sebelah makam Alm. Jack Omaleng dan Alm. Silas Natkime  yang berdekatan dengan rumah kediaman almarhum dan Gereja Kingmi Jemaat Rehobot Jalan Amungme mile 32, Kamis (11/11/2021).

Almarhum Anis meninggalkan pesan damai bagi anak, cucu, adik, keluarga besar Natkime serta suku Amungme dan suku kerabat lain pada umumnya termasuk warga pendatang di Timika.

Maroni Natkime yang merupakan anak sulung almarhum mengatakan bahwa dirinya sangat bersyukur dan bangga terlahir sebagai anak dari almarhum Anis.

Kepada Salam Papua, Maroni menuturkan bahwa almarhum ayahnya merupakan sosok yang selalu mengutamakan ibadah kepada Tuhan. Selalu mengingatkan agar anak-anaknya tidak boleh mengatasi suatu masalah dengan pikiran negatif, tapi harus menyelesaikannya dengan hati yang tenang dan pikiran positif . Selalu mendorong anak-anaknya agar berjuang dan bekerja tekun demi pemenuhan kebutuhan rumah tangga, keluarga dan semua orang.

Berjuang dan bekerja harus di jalan yang baik tanpa mengikuti yang tidak baik dan merugikan orang lain.

Bagi almarhum, menurut Maroni, bekerja adalah kewajiban agar bisa hidup menafkahi istri, anak, keluarga dan sesama manusia lainnya selama hidup.

“Kami ada enam bersaudara dan dibesarkan oleh almarhum dengan pola asuh yang sangat luar biasa. Dia selalu ingatkan agar apapun yang kami lakukan, jangan sampai lupa beribadah. Kalaupun banyak masalah, tapi almarhum selalu sampaikan bahwa harus dihadapi dengan pikiran positif, karena menurut dia, sebagai manusia hidup pasti akan ada masalah, tapi kalau diselesaikan dengan baik, maka masalah itu akan menjadi sesuatu yang baik juga. Pokoknya dia selalu sampaikan bahwa jangan memikirkan sesuatu itu negatif, tapi harus mengatasinya dengan cara positif,” kata Maroni usai pemakaman Ayahndanya.

Maroni mengisahkan, selain baik kepada anak-anak dan keluarga besarnya, almarhum selalu merangkul semua tokoh lainnya termasuk menjalin kerjasama dengan TNI-Polri, baik dalam persoalan keamanan, pengembangan ekonomi maupun SDM di tanah Amungsa.

Demikian juga almarhum selalu membangun kerjasama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) dan menyampaikan pesan-pesan yang baik agar PTFI selalu memperhatikan masyarakat pemilik hak ulayat serta warga Amungme dan Kamoro di Mimika. Almarhum banyak berkarya dan berpartisipasi di semua bidang termasuk membantu SPSI yang merangkul semua pekerja se-Indonesia di Timika. Ikut mendorong mendapatkan kesejahteraan bagi karyawan dan masyarakat dari PTFI.

“Saya punya Bapak ini benar-benar sebagai contoh yang baik. Dia sangat dikenal oleh banyak orang, baik yang asli Amungme maupun orang yang merupakan perantau di Timika. Ke mana-mana itu selalu ada yang datang salami dan beri hormat. Itu memang sesuai dengan kebaikan yang dia lakukan di dalam keluarga kami,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Selinus Natkime. Ia mengatakan bahwa almarhum merupakan sosok bapak yang menyayangi semua orang tanpa memandang hubungan. Almarhum merangkul semua orang dari berbagai latar belakang suku.

Selama hidup, ketika bersama dalam satu momen, almarhum mengingatkan agar sebagai generasi muda harus ikut berjuang dan tetap dekat dengan Tuhan.

Diingatkan, jika ingin hidup baik, maka harus melepas segala sesuatu yang tidak baik termasuk Miras. Kalau semua yang tidak baik dilepas dan mendekatkan diri dengan Tuhan, maka semua kebaikan atau kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya.

“Almarhum itu selalu ingatkan bahwa kita tidak boleh terlalu banyak menuntut ke sana dan menuntut ke sini hanya untuk kesenangan semata. Namun, kalau tidak dekatkan diri dengan Tuhan, maka jawaban yang kita tuntut itu tidak akan ada. Contohnya almarhum sendiri tidak pernah menuntut atas dia punya tanah ataupun kekayaannya. Itu karena almarhum berpikir bahwa hidup itu lebih penting dengan mensyukuri apa yang sudah Tuhan beri, daripada harus menuntut yang lebih dan lebihnya lagi,” kata Selinus.

Seli juga mengaku, almarhum merangkul semua tujuh suku yang ada dengan tidak hanya melihat keluarganya sendiri. Almarhum selalu menerima siapapun yang datang ke rumah, baik yang sekedar bertamu biasa maupun yang ingin berdiskusi bersamanya.

“Dia tokoh masyarakat dan orang tua untuk semua orang. Bukan hanya di suku Amungme saja,” ungkapnya.

Kebaikan almarhum sangat sulit dilupakan oleh seluruh keluarga besar Natkime dan orang Amungme.

Banyak anak dan adik-adik almarhum yang menjadi sukses dengan memegang teguh wejangan-wejangan dari almarhum Anis.

Hal itu disampaikan Titus Natkime. Dimana menurut dia, selama hidup, almarhum tidak pernah bermasalah dengan siapapun, karena sejak muda, almarhum menaati ajaran yang diwariskan oleh orangtuanya. Ajaran dari orangtuanya diterapkan almarhum Anis kepada anak-anaknya, keluarga besar Natkime maupun masyarakat umum di Timika yang ia jumpai.

“Apa yang almarhum tinggalkan adalah kebaikan yang tentunya kami sebagai adik-adiknya dan anak-anaknya harus selalu mengikuti,” tutur Titus.

Menurut dia, di setiap momen bersama, almarhum Anis selalu mengingatkan agar selalu menjalani hidup dengan rukun dan damai. Jika menghadapi masalah dalam keluarga ataupun dengan masyarakat umumnya, maka harus duduk bersama-sama dan berdiskusi dengan tenang untuk kemudian menyelesaikannya.

“Itu yang selalu almarhum ingatkan dan harus kembali kepada Tuhan, karena kita hidup sementara di dunia. Intinya itu pesan baik mulai dari orang tua Alamarhum Anis. Almarhum Anis juga teruskan pesan kebaikan itu kepada anak cucu dan keluarganya,” tuturnya.

Kebaikan almarhum juga diakui oleh keluarga Manurung.

Ray Gutafson Manurung, mengatakan bahwa almarhum merupakan teladan bagi semua. Sebab setiap kali bertemu, almarhum saling mengingatkan agar selalu berdoa. Hal itulah yang menjadikan perjuangan almarhum adalah perjuangan damai dan bukan perjuangan yang diwarnai dengan sesuatu yang tidak baik.

Dengan demikian, diharapkan generasi Natkime harus mengikuti perbuatan baik almarhum. Generasi Natkime bukan hanya berjuang, akan tetapi harus memiliki kompetensi di segala bidang dengan tetap takut akan Tuhan.

“Almarhum sangat baik dan merupakan sosok yang bisa diteladani. Semasa hidupnya, tiap kali ketemu pasti selalu berpesan untuk giat berdoa dan berbuat kebaikan. Apa yang disampaikan anak dan adik-adiknya itu memang benar, karena memang Almarhum selalu mau yang terbaik dan damai,” kata Ray mewakili Keluarga besar Pdt. Abraham A.D. Manurung. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar