Translate

Misa Malam Natal di Katedral Tiga Raja Timika, Umat Diajak Hidup Sederhana

Bagikan Bagikan
Misa malam natal di Katedral Tiga Raja Timika (Foto:SAPA/Acik) 

SAPA (TIMIKA) – Pelaksanaan misa malam Natal umat Katolik di Katedral Tiga Raja Timika berlangsung khidmat dipimpin oleh Pastor Eduardus Sriyanto,SCY dan Pastor Paulus Driyan Suwandi.

Pastor Eduardus Sriyanto,SCY dalam khotbahnya menyampaikan pesan atau makna natal adalah bahwa Tuhan Yesus mengajarkan tentang sebuah kesederhanaan. Maka setiap perayaan natal mengundang umat untuk menjadi seseorang yang sederhana.

“Tuhan Yesus saja yang adalah Allah tidak lahir di tempat yang bagus atau RS mewah. Tuhan Yesus lahir di kandang domba. Sederhana itu tidak harus compang-camping. Sederhana tidak harus makan seadanya. Namun, sederhana dalam hidup adalah seperti Yesus menempatkan dirinya sebagaimana porsinya. Makanya kalau hari ini Yesus lahir di tengah-tengah kandang domba membuktikan bahwa apa yang kita miliki di dunia ini, tidak akan pernah dibawa pulang ketika nantinya kita pulang ke pangkuan Tuhan, tapi semuanya akan tinggalkan,” ungkapnya.

Umat diajak agar mengarahkan pandangan kepada buah atau khasiat natal tentang beberapa hal yang sangat luar biasa.

Perayaan Natal bukan soal indahnya, bagusnya, bukan soal kerlap-kerlip lampu-lampunya. Namun, perayaan natal dengan kandang natalnya mengartikan bahwa Tuhan Yesus mengajak kita semua tentang beberapa hal yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam diri sendiri, keluarga ataupun bermasyarakat.

“Baik itu perayaan natal pagi, natal sore, dan natal malam hari itu semuanya mengajari kita sesuatu yang sangat istimewa dari Tuhan Yesus. Kalau Bapak dan Ibu pernah pergi di mana Yesus dilahirkan, maka bisa melihat Yesus dilahirkan dalam palungan di kandang Betlehem,” katanya.

Pesan kedua ialah persis yang hari ini diserukan oleh Paus Fransiskus. Dimana semua umat Katolik diajak untuk menjadi pribadi yang penuh damai. Hal ini, dikarenakan Yesus datang ke dunia untuk membawa damai, sukacita, kegembiraan dan persatuan.

Dengan pesan itu, hendaklah di dalam keluarga semua umat harus menerapkannya. Dalam kehidupan keluarga, Istri harus memaafkan suami dan begitupun sebaliknya. Orang tua harus memaafkan anak-anak dan juga sebaliknya.

“Kalau itu diterapkan dalam keluarga, maka betapa damainya keluarga Bapak dan Ibu semua,” ujarnya.

Pasan ketiga, setiap umat diajak agar harus menjadi orang yang bersukacita, bergembira dan bahagia di dalam hidup.

“Untuk menciptakan sukacita dan kegembiraan dalam hidup adalah menjaga bibir kita. Bibir tidak boleh selalu mencibir sesama. Bibir kalau selalu tersenyum, maka sukacita akan memenuhi hidup kita,” katanya.

Pantauan Salam Papua, perayaan malam natal ini tetap menerapkan protokol kesehatan. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar