Translate

Waspadai Varian Omicron, Tidak Perlu Takut

Bagikan Bagikan

Reynold Ubra. (Foto: SAPA Jefri)

SAPA (TIMIKA)- Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Reynold Ubra mengatakan  varian baru Covid-19 omicron belum terdeteksi di Mimika.

Untuk mewaspadai masuknya varian Omicron di Mimika pintu masuk Timika (penerbangan) diperketat karena Mimika belum memiliki alat mendeteksi omicron.

"Kita perketat di pintu masuk. Setiap penumpang yang masuk khususnya dari luar negeri wajib dilakukan pemeriksaan ulang dengan PCR, juga orang yang memiliki gejala dan pernah kontak dengan pasien wajib dilakukan pemeriksaan PCR. Bagi pelaku perjalanan yang ke luar masuk  Timika didalam negeri cukup antigen bagi yang sudah melakukan vaksinasi dosis kedua," kata Rey kepada Salam Papua, Kamis (6/1/2022) saat ditemui di ruang kerjanya.

Selain itu pihak kesehatan juga mewaspadai dengan mengecek setiap laporan hasil laboratorium dari rumah sakit. jika ditemukan kasus baru pihaknya segera melakukan testing, dan tracking untuk memastikan bukan varian baru.

Menurut Rey, varian baru omicron jauh lebih ringan dari delta hanya saja penularannya lebih cepat dan gejalanya ringan sehingga orang yang terpapar terkadang tidak merasakan gejalanya.  

"Ini tidak perlu ditakuti namun kita perlu waspadai, cukup dengan tetap mematuhi protokol kesehatan," ungkap Rey.

Sambung Rey, saat ini laboratorium pemeriksaan swab milik Pemerintah Kabupaten Mimika dan pihak swasta di Timika hanya melayani pasien yang bergejala dan pelaku perjalanan dari luar negeri.

"Dalam sehari rata- rata spesimen yang diperiksa mencapai 100, itupun sudah kumulatif antara RSUD bersama PTFI dan RSMM," kata Rey.

Pria kelahiran Fak-Fak itu menambahkan cara lain untuk mencegah varian baru Covid-19 omicron masuk Timika yakni dengan mempercepat vaksinasi secara meluas di Mimika.

Cakupan vaksinasi di Kabupaten Mimika dosis pertama telah 71 persen, sedangkan vaksinasi dosis kedua mencapai 56 persen.

Rey mengungkapkan yang menjadi tantangan tim vaksinator saat ini adalah semakin banyak penolakan untuk diberikan vaksin.

"Ketidakpercayaan diri dari masyarakat ini yang menjadi hambatan dan  tantangan bagi kami nakes untuk melakukan vaksinasi, sehingga kami harus bekerjasama dengan tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda membangun komunikasi untuk melakukan kampanye agar masyarakat mau membuka diri," ujarnya. (Jefri Manehat).

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar