Translate

Banyak Murid SD di Pesisir Mimika Belum Bisa Membaca

Bagikan Bagikan

Anak- Anak di Wilayah Pesisir Mimika. (Foto-SAPA/Jefri)

SAPA (TIMIKA)
- Siswa kelas 3  SD di  wilayah pesisir Kabupaten Mimika belum bisa membaca. 

Hal itu diketahui saat Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob  melakukan kunjungan kerja di wilayah pesisir beberapa waktu lalu. 

Ia mengaku sangat menyayangkan hal itu karena murid kelas 3 SD baru bisa mengeja huruf tapi belum bisa membaca. 

“Saya kasih contoh ada tulisan kaos, saya suruh mereka mengeja satu persatu huruf  dan mereka bisa mengeja tetapi setelah diminta untuk baca menggabungkan huruf yang dieja itu mereka bilang baju. Ini terjadi pada siswa kelas tiga SD," kata Wabup di Timika, Rabu (9/2/2022). 

Bukan hanya itu, murid-murid di sana juga kebanyakan belum bisa menghitung. 

Wabup menilai hal itu terjadi karena  guru sering meninggalkan tempat tugas. 

"Ada guru tetapi tidak pernah mengajar dan lebih banyak ada ditempat lain. Kasian dengan generasi kita terutama generasi Papua yang ada di di pesisir,” ujarnya. 

Wabup berharap, Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika bisa fokus menyelesaika persoalan itu. 

Menanggapi persoalan tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Jeni Ohestina Usmany menjelaskan bahwa tidak semua murid di pesisir tidak bisa membaca. Bahkan Dinas Pendidikan juga memiliki data murid-murid yang belum bisa membaca. 

"Kita ada nama- nama anak yang belum bisa membaca. Berdasarkan hasil penilaian ternyata anak- anak yang belum bisa membaca karena karena anak tersebut masuk sekolahnya tidak intens. Bagaimana mau tahu membaca kalau anak masuk sekolah satu kali hilang sampai ujian baru masuk sekolah dan ini kita tidak bisa salahkan guru," terang Jeni kepada Salam Papua melalui sambungan telepon seluler, Jumat (11/2/2022). 

Bahkan, menurut Jeni Dinas Pendidikan telah melakukan upaya untuk merangsang anak agar bisa nyaman bersekolah dengan memberikan tambahan makanan di sekolah. 

"Pemerintah sudah bekerja maksimal khususnya di wilayah pedalaman. Kita telah melakukan upaya untuk merangsang murid di sekolah agar belajar tenang, tapi kalau mereka tidak masuk sekolah kita mau bagaimana? Sekarang tergantung kesadaran orang tua untuk memotivasi anak," ucapnya. 

Dia mengatakan orang tua harus paham bahwa pendidikan yang paling utama adalah dari keluarga sehingga orangtua harus punya kesadaran dan ikut andil dalam pendidikan anak. “Tanggung jawab yang paling besar terkait masa depan anak adalah dari orang tua,” ujarnya. 

Terkait kekurangan guru, Jeni mengakui di wilayah pedalaman saat ini memang mengalami kekurangan guru. 

Namun pihaknya sudah melakukan pemetaan  untuk nanti diusulkan dalam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di sekolah negeri. 

Meskipun demikian, menurutnya kekurangan guru tidak menggangu kegiatan belajar mengajar (KBM) di wilayah pesisir. 

"KBM saat ini tidak terganggu dengan adanya kekurangan guru karena kita sudah petakan, misalnya jumlah murid 70 itu bisa dengan tiga guru karena pembelajaran kelas rangkap," sebut Jeni. 

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebagain guru masih berada di kota karena gelombang laut yang tinggi sehingga mereka belum bisa ke wilayah pesisir. Sementra sebagiannya lagi  masih menyelesaikan berkas PPPK. 

"Mungkin pekan depan guru- guru sudah kembali ke tempat tugas karena saat ini  sebagian mereka masih menyelesaikan berkas PPPK. Sehingga saat kembali ke tempat tugas tidak ada libur pada Bulan Juni dan Juli, mereka di sana sampai Desember baru kembali," pungkasnya. (Jefri Manehat)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar