Translate

Marselus Kelanangame, Putra Asli Amungme Masuk Daftar Wasit Futsal Nasional

Bagikan Bagikan

Marselus Kelanangame. (Foto-SAPA-Acik)

SAPA (TIMIKA)
- Baik hati, rajin, pekerja keras, rendah hati, itulah karakter yang melekat dalam diri Marselus Kelanangame, putra asli Amungme yang pernah berjualan kertas bekas di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah saat masa SMA.  

Kini ia sudah sukses dalam pendidikannya dan dalam bakatnya dibidang olahraga futsal telah mengantarnya menjadi wasit yang terdaftar dalam wasit futsal nasional. 

Marselus merasa beruntung karena berkesempatan mendapat beasiswa dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), untuk melanjutkan pendidikan SMA di Kota Semarang. 

Meskipun mendapat beasiswa, untuk memenuhi kebutuhannya yang lain dalam tahun pertama ia di Semarang, Marselus berjualan kertas bekas. 

Anak dari pasangan Petrus Kelanangame dan Kalrina Tsenawatin (Alm) yang  lahir di Agimuga 11 Desember 1998 ini  menceritakan bahwa setalah lulus SMP tahun 2013, ia mulai menginjakan kaki di Kota Semarang guna melanjutkan pendidikan ditingkat SMA. 

Tahun pertama di Semarang sambil menunggu masuknya uang beasiswa dari YPMAK ia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan. 

Dalam masa itu ia bekerja mengumpulkan kertas bekas guna dijual kepengepul yang mendaur ulang kertas bekas. 

Tiap lembar kertas yang ditemukan langsung  dikumpul dan dikemas lalu ditimbang ke pengepul dengan harga Rp 1.500 per kilogram. 

Uang hasil jualan kertas bekas itu ditabungnya untuk membeli sepatu sekolah dan sepatu olahraga. 

Setalah memiliki sepatu olahraga, iapun beranikan diri berbaur bersama pelajar di Semarang dan beberapa pelajar dari daerah lainnya untuk berolahraga. 

“Uang itu saya kumpul untuk beli sepatu sekolah, sepatu olahraga dan kebutuhan lainnya. Saya kumpul kertas-kertas bekas kurang lebih selama satu tahun saat awal masuk SMA. Kertas yang saya kumpulkan itu ada kertas double folio, HVS dan yang lainnya. Pokoknya kertas bekas yang sudah ditulis,” ujarnya kepada Salam Papua di Timika, Kamis (3/2/2022). 

Pria yang sejak kecil bercita-cita jadi guru olahraga ini mengisahkan saat beberapa temannya mengetahui ia mengumpulkan kertas bekas dan menjualnya,  sebagian temannya merasa risih berteman dengannya. Namun ada juga  yang salut dan menyemangati dia. 

Setelah tamat SMA, niatnya menjadi guru olahraga semakin matang. 

Iapun bertanya kepada teman-temanya kampus yang cocok untuk melanjutkan cita-citanya. 

Teman-temannya kemudian  memperkenalkan Universitas PGRI kepadanya, yang mana di kampus tersebut untuk unit kegiatan mahasiswa (UKM) ada sepak bola, futsal dan latihan menjadi wasit. 

Setelah tamat SMA ia memutuskan melanjutkan kuliah di Universitas PGRI Semarang. 

Iapun langsung bergabung di UKM olahraga, dan akhirnya pada tahun 2017 pihak kampus memilihnya mengikuti kursus pendidikan wasit level 3. 

Iapun mengikuti kursus itu hingga meraih level 1, sehingga pihak kampus langsung memberinya penghargaan, uang saku  dan membebaskan dia dari biaya perkuliahan. 

“Memang kalau mau dipikir, kami anak Amungme ini tinggal menjalani kuliah saja dan belajar karena YPMAK yang biaya. Akan tetapi kalau kita tidak kreatif maka kita tidak akan bisa  apa-apa,” tuturnya. 

Setalah mendapatkan lisensi wasit level 1, pria santun inipun masuk dalam daftar wasit futsal nasional. 

Saat PON XX Papua tahun 2021 lalu, dia ikut ambil bagian dalam perangkat cabang olahraga futsal mewakili Mimika sekaligus Papua. 

Marselus berpesan kepada generasi muda Mimika harus memiliki komitme dalam mengejar cita-cita.   

Menurutnya bercita-cita dibidang apapun bisa terwujud jika tekun dan bekerja keras. 

“Kalau kita hanya mengharapkan bantuan maka kita akan malas. Kita semua punya kemampuan di segala bidang yang penting kita kerja keras dan tekun, Kalau orang lain bisa, kita juga pasti bisa” katanya memberi motivasi. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar