Translate

Polisikan Tiga Pemain Futsal di Timika, Marselus: Itu Bukan Dendam, Tapi Sebagai Pelajaran

Bagikan Bagikan
Pertemuan antar pihak korban dan pelaku di Polsek Miru (Foto:SAPA/Acik)

SAPA (TIMIKA) – Wasit Futsal asli suku Amungme, Marselus Klanangame tetap melaporkan tiga pemain futsal dari Tim Nusantara Timika lantaran telah mengeroyoknya di lapangan Futsal Irfan di Nawaripi Timika sekira pukul 15.00 WIT, Sabtu (29/1/2022) lalu.

Ditemui di Polsek Mimika Baru (Miru), Marselus mengaku niatnya melapor bukan lantaran dendam tapi sebagai pelajaran bagi tiga pelaku ataupun anak muda lainnya  di Timika.

“Saya buat laporan hari ini dan itu bukan karena saya dendam. Memang saya merasa rugi tapi saya tidak sakit hati apalagi dendam,” ungkapnya kepada Salam Papua, Rabu (2/2/2022).

Penuh santun, Marselus menyampaikan kronologis pengeroyokan yang menimpanya. Menurut dia, saat Tim Nusantara dan Tim Amor bertanding, sebagai wasit dirinya telah mengarahkan agar bermain sportif dan hindari benturan.

“Sebelum-sebelumnya saya sudah membaca karakter atau sifat-sifat pemain dari dua tim ini. Makanya di awal pertandingan saya sampaikan supaya bermain secara sportif. Yang namanya pertandingan itu berarti harus siap jadi pemenang dan kalah,” ujarnya.

Saat mulai kick off babak pertama, ada beberapa pemain dari tim Nusantara yang diberikan peringatan kartu kuning. Saat kartu kuning diberi, salah satu pemain mendekatinya dan protes, sehingga kepada pemain itupun diberikan kartu kuning. Melihat satu pemain itu diberikan kartu kuning, kemudian seorang kapten datang menyentuhnya. Pertandingan selanjutnya pun terlihat keras, tapi dirinya berusaha profesional dan terus memimpin pertandingan hingga selesai.

Usai babak pertama, sebelum babak kedua, beberapa pemain ke meja panitia dan mendekatinya serta meminta agar wasit diganti. Namun, dirinya bertahan dengan alasan bahwa harusnya dirinya diganti jika mengalami cedera ataupun sakit. Panitia pun mempertahankan dirinya mengingat sebagai wasit berlisensi nasional.

“Mereka sempat sentuh saya saat saya keluarkan kartu kuning. Padahal dalam aturannya, seorang pemain tidak boleh menyentuh wasit dengan tujuan tertentu. Mereka juga sempat ke meja panitia supaya saya diganti tapi panitia tetap pertahankan saya. Sayapun merasa kalau memang saya diganti, itu kalau kondisi saya sedang sakit,” katanya.

Sebelum memulai babak kedua, dirinya juga mengingatkan kembali kepada kedua tim agar bermain lebih sportif. Kejadian di babak pertama tidak boleh terulang.

Saat babak kedua, skor Tim Nusantara ketinggalan dan Tim Amor yang unggul yaitu 3-2. Nusantara berupaya mengejar ketertinggalan 1 poin, tapi hingga menit terakhir pertandingan mencetak poin. Adapun 1 poin balasan yang dicetak tim Nusantara, akan tetapi waktu pertandingan telah berakhir dan peluit panjang telah ditiup. Karena itu sebagai wasit ia menyampaikan bahwa gol tersebut tidak sah, karena peluit tanda pertandingan berakhir telah ditiup.

“Mereka tidak terima dengan putusan saya dan langsung datang memukul saya. Saya tidak balas pukulan mereka, karena saya masih mengenakan kostum saya sebagai wasit. Apalagi wasit itu ada aturannya dari PSSI ataupun FIFA. Jadi selagi kami mengenakan pakaian wasit, apapun situasinya tidak boleh main hakim sendiri. Di mana-mana di liga besar sekalipun, yang namanya wasit itu tidak diperbolehkan membalas aksi kasat pemain. Jadi saat itu saya hanya bisa menerimanya dan berpikir karena saya dikeroyok, maka saya serahkan ke penegak hukum. Saya melaporkan ke Polsek Miru didampingi KONI, AFK dan OKIA. Meski terkesan sangat melanggar, tapi ini murni menjadi pelajaran,” ujarnya.

Berdasarkan aturan dan pengalaman selama menjalani profesi sebagai wasit, ia mengaku bahwa setiap pemain yang melakukan pelanggaran kategori besar, maka tim atau pemainnya akan didiskualifikasi.

“Biasanya tim dan pemainnya akan didiskualifikasi. Biasanya semacam skorsing tidak bisa mengikuti pertandingan selama beberapa turnamen. Begitupun pemainnya berarti tidak akan diterima di tim lain. Namun, itu sangat tidak kita inginkan karena bagaimanapun mereka bibit pemain terbaik kita di Timika,” tambahnya.

Pantauan Salam Papua, atas  kasus ini, Polsek Miru telah mengundang tiga pelaku dan korban. Dimana, Kanit Reskrim Polsek Miru, Ipda Yusran menjelaskan bahwa tiga pelaku dan club Nusantara serta korban telah dimintai keterangan.

Menurut Ipda Yusran, tiga pelaku telah mengakui perbuatan mereka yang telah memukul wasit, tapi dari pihak korban tetap ingin agar diproses secara hukum.

“Kami dari kepolisian menerima laporan korban, tapi akan ada penyelidikan apakah betul wasit ini ada izin. Begitupun kita selidiki apakah memang turnamen ini benar dilakukan atau bagaimana,” tuturnya.

Pasal yang disangkakan, karena pelaku lebih dari satu orang maka berkaitan dengan pasal 170 KUHP. Korban telah diarahkan agar divisum dan hasil visum langsung kita ambil di RSUD.

“Sementara ini pelaku yang dimintai keterangan ada tiga orang saja. Sementara ini juga hanya saksi korban yang dimintai keterangan. Namun, dari keterangan juga ada saksi berupa wasit pembantu dua yang sempat melerai saat aksi pengeroyokan itu. Barang bukti berupa video yang telah beredar. Untuk barang bukti berikutnya berupa hasil visum korban. Kalau nanti semua saksi dimintai keterangan, selanjutnya penahanan para pelaku dan terbitkan status tersangka,” ujarnya. (Acik)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar