Translate

Provinsi Papua Tengah, Bupati Paniai: No Way Ibu Kota di Timika!

Bagikan Bagikan

Bupati Paniai Meki Nawipa (kanan) saat bersama Jurnalis Salam Papua (Dok:SAPA)

SAPA (TIMIKA) – Bupati Paniai, Meki Fritz Nawipa membantah pernyataan Bupati Mimika, Eltinus Omaleng yang menyatakan bahwa Ibu Kota Provinsi Papua Tengah adalah di Timika.

Dia menegaskan, jika Provinsi Papua Tengah itu terbentuk, maka harusnya Ibu Kotanya di Nabire. 

“Isu pemekaran Provinsi Papua Tengah ini kan semakin memanas. Ada banyak yang menolak, tetapi Jakarta (Pemerintah Pusat) berharap ini harus jalan. Kita sebagai pemimpin daerah harus dapat mengamankan seluruh sisi. Pada kesempatan ini, saya mau membantah pernyataan Bupati Mimika, Eltinus Omaleng,S.E,M.H yang menyatakan bahwa Ibu Kota Provinsi Papua Tengah dan juga Kotamadya di Timika,” tegasnya, saat diwawancarai Salam Papua di Timika, Jumat malam (11/2/2022).

Menurut mantan pilot pesawat komersial dengan mengantongi sertifikasi CPL - ME/IR ini, dirinya sebagai Bupati Paniai, Bupati Nabire, Bupati Dogiyai, Bupati Deiyai, Bupati Intan Jaya dan juga Bupati Puncak Jaya yang mau bergabung, telah bersepakat bahwa Ibu Kota Provinsi Papua Tengah adalah di Nabire.

Kalau pemekaran itu bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat Papua, tambahnya, berarti Ibu Kota Provinsi Papua Tengah harus di Nabire. Tapi jika tujuannya supaya teman-teman dari pendatang bisa menikmati ini, berarti di Timika.

Bahkan dia mengungkapkan bahwa sebenarnya dalam pertemuan yang pernah dilakukan di Jayapura beberapa waktu lalu, 6 Bupati sepakatnya Ibu Kota Provinsi Papua Tengah di Nabire, tapi Bupati Mimika sendiri maunya di Timika, dan pihaknya tidak mau.

 “Jadi, kita sudah sepakat dan akan melakukan jumpa pers dalam waktu dekat ini, bahwa “No Way (tidak mungkin dan sama sekali tidak), Ibu Kota di Timika.” Kalau Papua Tengah jadi, kita siap menerima itu tapi Ibu Kotanya harus di Nabire. Karena kita mayoritas. Tidak bisa pak Eltinus, Bupati Mimika, mengambil kebijakan sendiri yang mau Ibu Kota Provinsi Papua Tengah di Timika. Kalau dia mau gabung dengan Bomberai, silahkan dia gabung. Kita Meepago, kalau Ibu Kota tidak bisa di Nabire maka kita tetap ke (Provinsi Papua dengan Ibu Kota) Jayapura,” ungkapnya.

Lulusan sekolah Pilot di salah satu akademi di Australia ini menuturkan pihaknya bersikeras agar Ibu Kota Provinsi Papua Tengah di Nabire karena adanya alasan historis dimana saat Nabire masih merupakan Ibu Kota Kabupaten Paniai dan Mimika saat itu masih menjadi bagian dari Kabupaten Fak-Fak.

“Kita bicara itu alasannya, dahulu saat Kabupaten Paniai yang Ibu Kotanya di Nabire dan Mimika masih bergabung dengan Kabupaten Fak-Fak, sebenarnya kita (Kabupaten Paniai) telah mengusulkan adanya pemekaran Provinsi Irian Jaya Tengah dengan Ibu Kotanya di Nabire, yang mana Mimika tidak termasuk karena bagian dari Kabupaten Fak-Fak,” ujarnya. (Tim) 

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar