Translate

Hoaks jadi Penyebab Cakupan Imunisasi dan Vaksinasi Covid-19 di Mimika Belum Maksimal

Bagikan Bagikan
Suasana diskusi antara pihak Dinkes Mimika, YP2KP dan wartawan pada salah satu cafe di Jalan Belibis, Timika, Papua. (Foto: SAPA/Jefri)
SAPA (TIMIKA)- Cakupan imunisasi dan vaksin Covid 19 di Kabupaten Mimika dan secara umum di Papua belum maksimal karena dipicu berbagai berita bohong atau hoks yang tersebar di masyarakat, seperti imunisasi dan vaksin bisa menyebabkan umur pendek, kegiatan anti Kristus, dapat membunuh orang Papua  dan hoaks lainnya.

Terlebih dengan adanya pandemi Covid-19, dimana kegiatan imunisasi kerap dikaitkan dengan vaksinasi Covid-19. “Padahal ini sangat berbeda sekali,” tegas Staff Seksi Imiumusasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Elsyani Desi K saat kegiatan diskusi antara pihak Yayasan Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan Papua (YP2KP), Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika dan sejumlah wartawan di Timika yang digelar di salah satu cafe di Jalan Belibis belum lama ini.

Untuk itu ia berharap setelah diskusi tersebut wartawan bisa membantu menyebarkan informasi positif agar dapat menangkal hoaks.

Informasi positif sangat penting karena kadang masyarakat pendidikan sudah tinggi, tapi masih gampang termakan hoaks,” ujarnya.

Desi mengungkapkan dari data Tahun 2021, ada 172 ribu lebih sasaran vaksin Covid-19 di Mimika, sementara 132 ribu diantaranya telah divaksin. Artinya persentase baru 70-an persen. Sementara target ada pada angka 80 persen demi tercapainya kekebalan kelompok.

Hingga 11 Maret 2022, persentase capaian vaksinasi Covid-19 di Mimika ada di angka 77 persen untuk dosis pertama, dan 61,24 persen untuk dosis kedua.

Sementara untuk imunisasi dasar yang masih terus dilakukan, dari cakupan sebanyak 5 ribu anak baru tercapai 60 persen dari target 95 persen.

Dalam diskusi tersebut, beberapa awak media selain memberikan pertanyaan-pertanyaan, juga memberikan masukan agar menjadi pertimbangan bagi Dinkes demi maksimalnya capaian imunisasi.

Beberapa diantara masukan tersebut antara lain, seputar kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Dimana jika ada KIPI, khususnya yang berat maka Dinkes diharapkan bisa lebih pro aktif untuk memberikan penanganan maupun penyebaran informasi yang benar, agar meminimalisir pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkannya sebagai bahan hoaks.

Mengenai hal itu, Desi menjelaskan bahwa sampai saat ini, di Kabupaten Mimika belum ada kejadian KIPI yang fatal. Jikapun ada KIPI yang berat, lanjut Desi, juga akan langsung ditangani rumah sakit yang memang ada kelompok kerjanya.

Desi juga menegaskan, bahwa KIPI merupakan hal yang wajar terjadi karena itu merupakan reaksi alami tubuh.

Masukan lain adalah harapan agar sosialisasi lebih dilakukan dengan massif. Termasuk juga menggandeng tokoh-tokoh masyarakat setempat dan memaksimalkan sinergitas lintas sektor pada jenjang dasar, seperti para tokoh di kampung, Babinsa, Bhabinkamtibmas, bidang promosi kesehatan di puskesmas untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat secara langsung.

Termasuk juga pertimbangan perlunya ada semacam duta imunisasi dari kalangan tokoh masyarakat di tingkat kampung yang suaranya didengar oleh masyarakat.

Sementara itu Program Manager YP2KP, Thomas Lamatapo mengatakan, diskusi dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk memaksimalkan capaian imunisasi. Baik itu imunisisasi rutin, maupun Bulan Imunisasi Anak Sekolah yang segera dilaksanakan, termasuk juga vaksinasi Covid-19.

Thomas menyebut, di Kabupaten Mimika, sebagaimana juga di berbagai kabupaten lain di Papua, rata-rata cakupan imunisasinya belum maksimal. Dari hasil analisis yang dilakukannya, hoaks menjadi penyebab utama belum maksimalnya capaian imunisasi. Karenanya, diskusi dengan para awak media ini digelar dengan tujuan untuk mendapatkan saran, masukan ataupun informasi hingga langkah-langkah yang bisa diambil untuk menekan hoaks.

“Sebab wartawan jangkauannya luas. Siapa tahu punya informasi, saran dan masukan yang sekiranya bisa kami gunakan untuk meredam hoaks demi meningkatnya cakupan imunisasi,” kata Thomas.

Pelaksanaan imunisasi di Mimika, menurut Thomas sudah dilaksanakan dengan maksimal oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika bersama stakeholder lain, seperti Polres Mimika dan jajaran, hingga TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara di Timika. 

Namun, kuatnya hoaks yang tersebar di media sosial maupun di kalangan internal komunitas tertentu, sangat mempengaruhi cakupan Imunisasi yang sudah dilaksanakan. “YP2KP juga bekerjasama untuk memberikan pendampingan kepada Dinkes terkait penguatan pelaksanaan program. Seperti penguatan kapasitas juru imunisasi dan penguatan komunikasi dengan para stakeholder dan para tokoh,” ujar Thomas.

Pendampingan untuk menyukseskan pelaksanaan program Imunisasi di Kabupaten Mimika ini, terselenggara atas kerjasama antara Dinkes Provinsi Papua, Unicef dan YP2KP serta didukung pemerintah Jepang. (YOSEFINA/JEFRI)

 

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar