Translate

Warga Tembagpura Gelar Bakar Batu, Syukuran Satu Tahun Pengungsi Kembali ke Kampung Halaman

Bagikan Bagikan

Acara bakar batu yang digelar Warga Distrik Tembagapura di halama SD Waa-Banti. (Foto-Istimewa)

SAPA (TIMIKA)
- Warga Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika menggelar bakar batu dengan memotong tujuh ekor babi, pada acara syukuran satu tahun pengungsi kembali ke kampung halamannya.

Dalam rilis yang diterima Salam Papua, Rabu (2/3/2022) acara tersebut digelar di halaman SD Waa-Banti  pada Selasa (22/2/2022) lalu.

Gedung SD Waa-Banti itu  dalam kondisi rusak karena terbakar saat konflik bersenjata 2020 lalu.

Dalam acara syukuran  yang di pimpin Mama Martina  Natkime, dilakukan juga doa bersama.

Kegiatan tersebut dihadiri warga dari semua kampung di wilayah  Distrik Tembagapura yakni  Kampung Banti I , Banti II, Tagabera, Opitawak, Kimbeli, Utikini, Kali kabur, Aroanop, Kampung Tsinga dan  Kampung Pertanian.

Semua warga yang hadir nampak antusias mengikuti acara tersebut.

Hal ini  sebagai  ungkapan syukur kepada  Tuhan karena setelah meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengungsi di Timika akibat konflik bersenjata pada 2020 lalu, kini mereka sudah kembali ke kampung halamannya tepat satu tahun yang lalu.

Pada Selasa (22/2/2022), sekira Pukul 04.00 WIT warga mulai memotong tujuh ekor babi dan melakukan berbagai persiapan untuk acara bakar batu.

Pemotongan tujuh ekor babi itu dilakukan oleh laki-laki dari Kampung Banti, Kimbeli dan Kampung Opitawak.

Sementara mama-mama bertugas membersihkan keladi, sayur-sayuran dan  menyiapkan daun-daunan untuk mengalas daging babi saat proses masak dengan cara bakar batu.

Sambil menyiapkan segala sesuatunya untuk bakar batu sejumlah warga menyanyi dan menari yang dalam bahasa Amungme, Damal  dan Dani di sebut wesisi.

Kemudian sekira Pukul 08.40 WIT, mulai bergabung  Pasukan  Gabungan TNI, Polri, Brimob, Kopasus dan  Satgas setempat  untuk menjaga keamanan saat kegiatan berlangsung.

Pada  Pukul 10. 00 WIT  Anggota Brimob mendatangkan bantuan Sembako sementara TNI dan Polri membantu air mineral.

Selanjutnya Pukul 11. 00 WIT, warga mulai bakar batu sambil membahas beberapa  persoalan seperti kondisi sekolah dan rumah sakit di Kampung Waa-Banti yang rusak parah dan perlu ada pembangunan yang baru.

ntuk masalah ini warga berharap bisa ada perhatian dari pemerintah dan PT Freeport  Indonesia.

Dalam satu tahun pengungsi kembali, kampung halaman mereka belum pulih total. 

Kemudian pada Pukul 12. 00  WIT acara syukuran dimulai  yang dipandu oleh Dessy Pinimet dan Hengky Omabak.

Sambutan selamat datang disampaikan oleh  Ketua Panitia, Mama Martina Natkime.

Ia menyampaikan dalam acara sykuran ini juga sebagai kesempatan menyampaikan aspirasi bahwa kampung halaman mereka butuh perhatian serius, seperti perbaikan rumah-rumah warga, sekolah dan rumah sakit yang rusak akibat konflik dan juga masalah penerangan di kampung kampung-kampung tersebut.

Perhatian itu diharapkan dari PT Freeport Indonesia melalui Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK)  dengan berkoordinasi bersama pemerintah dan lembaga adat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang diawali dengan nyanyian dalam bahasa daerah setempat oleh mahasiswa dan masyarakat  dari Timika.

Doa pembukaan  dipimpinan Pdt. Sem Magal, nyanyian pengantar Injil yang juga dibawakan dalam bahasa daerah  oleh   mahasiswa dan masyarakat  dari Timika.

Setelah itu dilanjutkan dengan  pembacaan Firman Tuhan  oleh Pdt. Hengky Magal.

Kemudian doa penutup oleh Hose Dwitau.

Setelah itu pada Pukul 12.30 WIT dilanjukan dengan sambutan-sambutan yang diawali oleh Mama Martina Natkime.

Dia mengucap syukur kepada Tuhan karena telah memampukannya dan semua pihak yang terlibat dalam mengurus acara sykuran itu sehingga berjalan dengan baik.

“Saya bukan kaki-laki saya ini perempuan tapi saya bisa melakukan semua ini karena kuasa Tuhan. banyak  yang  tidak  suka dengan  saya  karena budaya patriarki yang masih kental di masyarakat, karena saya perempuan baru buat begini ada yang bilang karena Mama Martina punya kepentingan tapi  tidak masalah itu proses kehidupan.  Saya lakukan semua ini untuk  kepentingan masyarakat saya,” ujarnya.

Berikut, sambutan disampaikan Hengky Omabak, yang juga terlibat sebagai panitia kegiatan.

Selanjutnya Kepala Distrik Tembagapura, Tobias Jawame, kemudian perwakilan dari TNI dan Polri,  dan perwakilan PT Freeport Indonesia, Martinus Badi.

Kesempatan selanjutnya diberikan kedapa Pdt. Hengky Magal, kemudian  Adolfina Kum mewakili Mahasiswa  dan masyarakat dari Timika.

Berikutnya sambutan dari perwakilan Koramil 1710-04/Tembagapura,  Babinsa, Serka Anton Alom sebagai putera asli suku Amungme yang sempat  Membantu Mama  Martina Natkime dalam   menangani korban pengungsian.

Setelah  sambutan-sambutan dilanjutkan dengan pembacaan dan penyerahan surat rekomendasi  oleh  panitia  kepada perwakilan Manajemen PT Freeport Indonesia dalam hal ini diwakili pihak  Community Liaision Officer (CLO), Martinus Badi.

Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.

Kegiatan pengucapan syukur itu selesai tepat Pukul 14.00 WIT. (Yosefina)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar