Translate

10 Tahun Terakhir Pengurus LEMASA Dinilai Berjalan Tidak Sesuai Tujuan, Tokoh Amungme Gelar Rapat Konsolidasi

Bagikan Bagikan
Suasana rapat konsolidasi sejumlah Tokoh Amungme di salah satu hotel di Jalan Yos Sudarso, Timika, Papua.
(Foto: SAPA/Acik)
SAPA (TIMIKA) - Dalam 10 tahun terakhir pengurus Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) dinilai berjalan tidak sesuai tujuan sehingga tokoh-tokoh dari 12 wilayah adat Suku Amungme menggelar rapat konsolidasi.

Rapat yang digelar di salah satu hotel di Jalan Yos Sudarso Timika, Timika, Papua pada Selasa (5/4/2022) oleh Torei Negel atau Ketua Dewan Pendiri LEMASA demi masa depan rakyat dan Negeri Amungsa  ini mengusung tema, 'persatuan dan kesatuan kita adalah kekuatan kita untuk bangkit dan memajukan diri dalam upaya menghadapi tantangan masa kini dan masa yang akan datang'.

Mandataris Torei Negel LEMASA,  Menuel Jhon Magal mengatakan pertemuan tersebut untuk konsolidasi atau pemulihan kembali LEMASA, sebab perjalanan pengurus lembaga adat tersebut selama lebih dari satu dekade terakhir tidak lagi sesuai dengan tujuannya.

Sehingga masyarakat Amungme dan masalah-masalah adat juga tidak terurus dengan baik.

Pertemuan ini juga merupakan keinginan dari semua tokoh yang ikut hadir untuk mengembalikan LEMASA menjadi seperti keadaan dan tujuan awal  saat didirikan. 

"Hal ini dilakukan agar pengurus LEMASA bisa fokus mengurus masyarakat Amungme dan suku-suku kerabat di sekitarnya," kata Menuel.

Menurutnya semua tokoh dan tetua adat Amungme sama-sama menginginkan adanya pertemuan konsolidasi agar bisa meleburkan semua kelompok atas nama LEMASA menjadi satu di dalam satu honai. Jika telah disatukan dalam satu honai, selanjutnya bisa bersama-sama merumuskan gagasan dari  tokoh-tokoh  termasuk semua masyarakat Amunge.

“Rapat ini merupakan keinginan dari semua tokoh penting, baik tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan maupun pemuda supaya kita hidupkan lagi satu honai kita. Jadi dalam satu honai itu nantinya kita olah bersama, masak bersama dan selanjutnya melayani,” ucap Menuel.

Dia menyebutkan dalam pertemuan ini tidak ada pihak yang dirugikan dan ditinggalkan. Justru tokoh-tokoh penting Amungme mengajak setiap kelompok  untuk bersama-sama terlibat dalam tim ini. 

Pihak-pihak selama ini mendirikan kelompok-kelompok sendiri harus dileburkan dalam satu wadah LEMASA yang sesungguhnya untuk satu tujuan dalam memajukan masyarakat Amungme, serta menyatakan diri siap menghadapi masa kini dan  masa yang akan datang supaya sanggup berkompetisi bersama masyarakat yang lainnya yang datang ke Timika.  

"Selama ini  kita dengar lembaga adat ini milik masyarakat Amungme tapi kegiatannya hanya dipusatkan  di Timika, maka itu tidak bisa lagi seperti itu kedepannya. Kegiatan itu harus dilakukan sampai ke pelosok-pelosok supaya masyarkat bisa merasakan adanya lembaga mereka. Masyarakat bisa merasa hak-hak dasar  mereka dibela dan diperjuangkan, harus seperti itu. Selama ini hal-hal seperti itu tidak dilakukan,” jelasnya.

Sebagai mandataris, ia mengaku Tom Beanal memberi mandat kepadanya agar jika ada masalah harus diselesaikan secara bersama. Sebab Lemasa hampir mati sehingga harus dibantu agar  bisa hidup kembali.

Dia juga menilai LEMASA memang sedang diambang kehancuran sehingga ia mengambil peran untuk  menyatukan semuanya. "Dalam hal ini pikiran semua masyarakat Amungme akan disatukan," ucapnya.

Dia mengatakan LEMASA terbentuk karena adanya masyarat sehingga harus bermanfaat bagi seluruh masyarakat Amungme.

Untuk itu diharapkan keputusan yang dihasilkan dalam rapat konsolidasi ini menjadi solusi permanen bagi  anak dan cucu suku Amungme ke depannya dan selanjutnya mereka yang akan terus mengembangkan LEMASA.

“Mandat dari Pak Tom Beanal seperti itu. Pak Tom tahu LEMASA  hampir mati dan harus dihidupkan kembali. Rapat ini bukan hanya pikiran saya dan Pak Yopi Kilangin tapi murni merupakan pikiran dari semua peserta  yang merupakan tokoh-tokoh penting. Kita mau lahirkan pikiran yang sehat di sini,” ujarnya. 

Selanjutnya Komisaris LEMASA, Yosep Yopi Kilangin menyampaikan upaya yang  dilakukan saat ini adalah langkah maju untuk orang Amungme di saat harapan terputus.

Masyarakat Amungme saat ini sedang mengalami satu kondisi yang perlu kekuatan baru. Sehingga melalui rapat tersebut diharapkan membawa satu kesimpulan yang baik dan kelak menjadi keputusan yang baik pula.

"Ini saatnya untuk bangkit, mandat dari Pak Tom Beanal merupakan kekuatan baru. Melalui pertemuan ini kita harus satukan yang selama ini terpisah,” ungkap Yopi.  

Dikatakan rapat tersebut adalah  bagian dari hasil rapat  yang pernah dilaksanakan pada Tahun 2019 lalu, yang mana pada tahun tersebut dilakukan pemberhentian Odesius Beanal dan mengangkat Johnny Tsingal Beanal sebagai Direktur  Eksekutif LEMASA. 

Pemberhentian dan pengangkatan  pimpinan saat itu bertujuan untuk mengurus dan menata kembali lembaga adat tersebut, namun faktanya sampai saat ini tidak ada gebrakan. 

Dikatakan juga bahwa jabatan  Johnny Tsingal Beanal sebagai Direktur Eksekutif LEMASA telah berakhir pada 14 November 2021. 

“Jabatan Eksekutif yang dijabat saudara Johnny Tsingal Beanal sudah berakhir tanggal 14 November 2021. SK itu saya yang buat dan saya juga yang tandatangan. Saat ini tidak ada lagi yang mengisi jabatan itu, karena tidak ada pengangkatan yang baru. Meskipun dimikian kami tetap menganggap Johnny sebagai putra terbaik Amungme dan diharapkan harus bergabung bersama tim yang kami buat pada hari ini,” jelasnya. 

Wartawan: Acik
Editor: Yosefina 


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar