Translate

Tokoh Amungme Minta Sebelum Kunjungi Tambang Freeport, Presiden Bertemu Dulu Pemilik Hak Ulayat

Bagikan Bagikan
Tokoh-tokoh Amungme, dari kanan Agus Natkime, Yulianus Omabak, Yanes Natkime, Jemy Natkime, Yunus Omabak dan Kristina Natkime foto bersama usai usai menyampaikan pernyataan terkait kedatangan Presiden Republik Indonesia kepada wartawan Salam Papua di Mile 32, Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika.
(Foto: Salam Papua/Yosefina)
SALAM PAPUA (TIMIKA)-Tokoh-tokoh Amungme meminta kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang akan mengunjungi Kabupaten Mimika pada Rabu (31/8/2022) besok untuk terlebih dahulu bertemu dengan pemilik hak ulayat sebelum berkunjung ke wilayah operasional PT Freeport Indonesia.

Tokoh-tokoh Amungme yang menyampaikan aspirasi tersebut adalah Yanes Natkime, Yulianus Omabak, Yunus Omabak, Jemy Natkime, Agus Natkime sebagai Kepala Suku Amungme dan Kristina Natkime.

Menurut Yanes Natkime, PT Freeport Indonesia dibawa kepemimpinan Richard Adkerson yang menggantikan James Moffett dan  PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang merupakan milik Negara Indonesia yang mengambil ahli saham Freepport sebanyak 51,2 persen sudah sejajar, sementara pemilik hal ulayat tidak disejajarkan dengan kedua perusahaan ini.

Yanes merasa pemilik hak ulayat ditinggalkan, dilupakan oleh karena itu  sebagai pemegang hak ulayat ia bersama sejumlah tokoh Amungme menyampaikan beberapa permintaan kepada Presiden Republik Indonesia.

Dalam kesempatan kunjungan ke Mimika, Yanes meminta Presiden terlebihdahulu bertemu dengan pemilik hak ulayat barulah ke lokasi tambang PT Freeport Indonesia.

 “Perlu kami sampaikan kepada presiden kalau mau  lanjutkan kontrak karya berarti harus menyelesaikan masalah dengan pemilik hak ulayat. Selesaikan, tuntaskan dulu kemudian baru bisa,” ungkap Yanes di Mile 32, Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Senin (29/8/2022).

Menurutnya Pemerintah Negara Indonesia, PT Freeport Indonesia dan pemilik hak ulayat perlu duduk bersama untuk membahas masalah-masalah yang dihadapi dan hak pemilk hak ulayat setelah itu baru melanjutkan kontrak karya berikutnya.

“Saham yang menjadi bagian masyarakat seperti apa tolong atur dengan baik dan sosialisasi kepada pemilik hak ulayat,” ujarnya.

Sementara itu Agus Natkime mengatakan presiden jangan hanya fokus ke perusahaan tambang emas tapi harus juga perhatikan pemilik hak ulayat.

“Pemilik hak ulayat harus diutamakan, jangan hanya ambil semua hasil kami baru kami diabaikan,” ujarnya.

Kemudian Jemy Natkime mengatakan pemilik hak ulayat hanya merasakan dampak negatif dari operasi tambang tersebut.

Untuk itu kedatangan Presiden Joko Widodo  besok diharapkan tidak hanya untuk kepentingan mengunjungi Freeport tapi mau duduk bersama dan mendengar aspirasi pemilik hak ulayat.

Berikut, Yunus Omabak sangat berharap kedatangan presiden memiliki niat baik memperhatikan pemilik hak ulayat.

“Jangan hanya tambang emas, bukan hanya kekayaan saja yang menjadi tujuan kunjungan presiden tapi kami pemilik hak ulayat harus diperhatikan. Kami sudah jadi korban berulang kali, korban nyawa, rumah kami dibakar, sekolah tempat anak-anak kami bersekolah juga dibakar. Kami sudah tidak bebas berburu, berkebun kami susah mencari nafkah. Kami orang Mimika hanya menjadi korban. Kami ingin ada perhatian terkait ini agar anak-anak kami nantinya mempunyai masa depan yang lebih baik,” ujar Yunus.

Kemudian Yulianus omabak sangat berharap presiden datang dengan hati yang murni mau mempedulikan pemilik hak ulayat. 

“Pemilik hak ulayat sudah jadi korban puluhan tahun jadi tolong presiden bertemu dengan kami karena kami mau sampaikan semua persoalan yang kami hadapi selama ini,” ujarnya.

Terakhir Kristina Natkime juga menyampaikan hal yang sama. Ia ingin kedatangan presiden tidak hanya mengunjungi tambang Freeport tapi juga mau bertemu dengan pemilik hak ulayat.

“Kami berterima kasih karena presiden mau ke Mimika tapi tolong sebelum ke Freeport bertemua dulu dengan kami pemilik hak ulayat,” ucapnya.


Wartawan: Tim

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar