Translate

Tokoh Masyarakat Minta Berhenti Jadikan Mobil Freeport Untuk Bisnis dan Jalan Mile 50 Ke Banti Ditutup

Bagikan Bagikan

Beberapa tokoh penting dan kepala kampung dari Tembagapura saat menyampaikan aspirasinya kepada awak media di DPRD Mimika (Foto:salampapua.com)

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Tokoh Masyarakat, Kepala Kampung Banti I, Banti 2 dan Opitawak minta kepada aparat agar berhenti memakai mobil yang difasilitasi PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk berbisnis.

Tokoh masyarakat di Waa Banti, Distrik Tembagapura, Avengelis Yanes Natkime menyampaikan bahwa selama ini mobil-mobil tersebut dipakai untuk mengangkut masyarakat yang pulang dan pergi ke Tembagapura dengan bayaran hingga belasan juta rupiah. Untuk biaya perkepala biasanya Rp 1 juta, sehingga kalau berdesak-desakan hingga 10 orang, maka bayaran yang diterima sebesar Rp 10 juta.

“Aparat tidak boleh lagi ada bisnis. Mobil itu dipakai untuk mengangkut dengan bayaran yang mahal per-kepala untuk naik-turun ke Tembagapura. Kami minta itu hentikan,” ungkap Yanes mewakili Kepala Kampung Banti 1, Banti 2 dan Tokoh penting lainnya, Kamis (4/8/2022).

Dia mengungkapkan bahwa hal ini sebenarnya diketahui Pemkab dan DPRD Mimika, akan tetapi pura-pura tidak tahu dan tidak melihat. Sebagai tokoh masyarakat harus menegaskan hal ini, sehingga tidak menyusahkan masyarakat tiga kampung.

“Kami harusnya datang dan demo ke DPR, tapi karena kami merasa kami ini sebagai tuan rumah, maka kami datang secara hormat,” katanya.

Selain itu, pihaknya meminta agar bis PTFI berhenti mengangkut banyak orang dari Timika. Mereka menilai, bis yang dipakai masyarakat dari Banti ke Timika, bukan bis duka. Sebab, setiap bis itu turun dalam kondisi kosong, tapi saat naik kembali ke Tembagapura langsung penuh dengan mengangkut masyarakat banyak di Tembagapura.

“Lalu ke depannya kalau terjadi apa-apa, siapa yang mau bertanggung jawab? Itu tidak boleh lagi ada dan harus tutup,” ujarnya.

PTFI dan Pemkab juga diminta agar jalan dari mile 50 ke Banti segera dipalang, sehingga tidak ada lagi orang-orang yang berani melintas dan masuk ke Banti.

“Sekarang ini sudah banyak sekali orang di Banti, karena bebas jalan kaki dari mile 50 melalui sungai dan tembus ke Banti. Jadi kalau terjadi apa-apa, jangan menuduh OPM dan yang lainnya, karena memang sudah dikasih kesempatan,” katanya.

Hadir dalam menyampaikan aspirasi ini yaitu Kepala Kampung Waa Banti, Yohanes Kamang, Kepala Kampung Banti 2, Demon Natkime, Kepala Kampung Opitawak, Julianus Omabak dan tokoh Pemuda, Tokoh Suku dan beberapa tokoh lainnya. (Tim)

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar