Translate

Dua Putri Asli Papua, Agnes dan Catrin Jaring Atlet Olahraga Piring Terbang untuk Berlaga di Bali Tahun Depan

Bagikan Bagikan

 

Dari kiri Catrin, Jael Lorenzen, Rachel Lorensen, Novan Agnes Tarin foto bersama  pada Event Nusatara Cup di Bali.
(Foto: Istimewa)
SALAM PAPUA (TIMIKA) - Dua putri asli Papua bernama Novan Agnes Tarin dan Catrin  yang merupakan atlet piring terbang sedang menjaring atlet piring terbang di Kabupaten Mimika untuk bertanding di Bali pada event Nusantara Cup  saat liburan Paskah Tahun 2023 nanti.

Kegiatan penjaringan atlet ini didampingi Rachel Lorenzen,  seorang pensiunan atlet piring terbang khusus ultimate (permainan dalam tim-red)  yang pernah pertanding di tingkat internasional dan Bryce Barnes, asal Amerika Serikat. Rachel Lorenzen dan Bryce Barnes saat ini bekerja  di PT Freeport Indonesia (PTFI).

Ditemui saat latihan di Lapangan Bola Kaki SP3, Distrik Kuala Kencana Kabupaten Mimika pada Sabtu (17/9/2022), Rachel Lorenzen mengatakan kesempatan bergabung dalam tim olahraga piring terbang Timika ini dibuka untuk umum dengan batasan usia 15 tahun ke atas. 

“Siapa saja yang mau bergabung dengan kami silahkan kita latihan bersama, nanti kita lihat pemain terbaik ikut bertanding di Bali tahun depan. Yang berminat bisa gabung di https://chat.whatsapp.com/JtNsku2l5mi6ZVW3ro2b4F. Pendaftarannya gratis. Hanya butuh sepatu yang cocok. Kalau alat olahraga nanti saya bisa bawa saat latihan,” kata perempuan cantik asal Swiss yang sudah 4 tahun berdomisili di Papua ini.

Ia menyebutkan olahraga ini baru dia perkenalkan di Timika pada April 2022. Ia sudah mengajak sejumlah anak Papua untuk bergabung dan sudah beberapa kali mereka latihan di Lapangan Futsal Kuala Kencana. Namun karena lapangan futsal ukurannya tidak sesuai standar dari lapangan olahraga piring terbang sehingga latihan dipindahkan di lapangan bola kaki SP3.

“Jadi ukuran lapangan olahraga piring terbang, panjangnya harus sepanjang lapangan bola kaki dan lebarnya setengah dari lapangan bola kaki,” kata Rachel yang sudah 20 tahun tinggal di Indonesia ini.

Novan Agnes Tarin dan Catrin saat bergabung dengan Club Lovehandlers pada event Nusantara Cup di Bali awal September 2022.
(Foto: Istimewa)
Dikatakan untuk olahraga piring terbang khusus ultimate, setiap kelompok anggotanya tujuh orang. “Jadi pertandingannya itu tujuh lawan tujuh,” ujarnya. 

Di tingkat internasional ada tiga kategori, ‘open’, putri, dan ‘mixed’. Di Indonesia, saat ini hanya main mixed dengan tiga atau empat dari tujuh pemain adalah putri/putra.

Rachel yang sudah berusia 54 tahun ini mulai mengikuti olahraga piring terbang sejak Tahun 1990an saat ia masih tinggal di Swiss. 

Ia pernah bersama Tim  Nasional Swiss ikut bertanding dalam piala dunia Tahun 1996 dan Tahun 2000 lalu.

Kemudian ia pindah ke Australia dan bergabung dengan Club Women di Sydney untuk bertanding di piala dunia Tahun 2006.

Tahun 2011 ia pindah ke Indonesia dan pada Tahun 2017 lalu ia ikut bersama salah satu tim mewakili Indonesia pada Federasi Cakram Terbang Dunia (WFDF) 2017 Asia Oceanic Ultimate and Guts Club Championships (AOUGCC) di Manila, Filipina.

Ia menyebutkan untuk di Indonesia club olahraga piring terbang ini sudah ada sejak 20 tahun lalu. Meskipun jumlah club hanya sedikit tapi sudah ada di Surabaya, Jakarta dan Bali.

Sebelum pandemi Covid-19 setiap tahun tiap liburan Paskah diadakan pertandingan di Bali dalam event Nusantara Cup. Pertandingan biasanya selama dua hari diikuti sekitar delapan sampai 12 tim dan selama ini biasanya diikuti club-club Indonesia, Malaysia, Singapura, India, Filipina dan club lain dari seluruh dunia.

Dalam dua tahun terkahir event Nusantara Cup tidak dilaksanakan kemudian tahun ini pertandingan diundur pada awal September.

“Untuk Nusantara Cup 2023 kami berencana tim di Timika untuk ikut bertanding,” kata Rachel.

Dia menjelaskan yang spesial dari olah raga ini adalah non-kontak dan tidak ada wasit (Spirit of the Game - Semangat Ultimate), sehingga yang menjadi landasan utama yakni kejujuran, saling menghormati dan menghargai dalam pertandingan.

“Tidak ada wasit. Ketika terjadi perselisihan, pemain yang terlibat langsung menyelesaikannya melalui diskusi yang tenang. Mereka bisa dibantu oleh pemain lain yang memiliki sudut pandang yang lebih jelas atau pengetahuan peraturan yang lebih lengkap. Yang ditegaskan adalah kejujuran, sportifitas dan semangat. Ultimate memiliki level persaingan tinggi tapi selalu hormati permainan, ketahui dan patuhi peraturan dan pastikan permainan tetap menyenangkan,” terangnya.

Sementara itu, Novan Agnes Tarin yang terlibat pada olahraga piring terbang enam  bulan lalu mengatakan olahraga ini sangat menyenangkan. Awalnya ia mau bergabung karena ingin mencoba hal baru namun setelah menggelutinya ia menjadi sangat suka. “Ternyata sangat menyenangkan,” ujar gadis kelahiran 1991 di Maybrat, Papua Barat yang sekarang bekerja sebagai planer di LIP, PT Freeport Indonesia ini.

Pada awal September lalu perempuan yang biasa disapa Agnes itu bergabung pada sebuah club bernama Lovehandlers dan bertanding pada event Nusantara Cup 2022 awal September Tahun 2022 di Pulau Bali. Ia mengaku sangat senang bisa punya kesempatan itu. 

“Kita sangat excited bisa join dengan tim resmi, bertemu  dengan teman-teman baru dari berbagai negara. Kita baru pertama kali gabung tapi teman-teman pemain lama mereka sabar mengajari kami. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Catrin, gadis kelahiran Tahun 2003, tamatan SMA Santa Agnes Surabaya.

Ia juga punya kesempatan yang sama seperti Agnes, bergabung pada  club Lovehandlers dan bertanding pada event Nusantara Cup 2022. 

“Setelah saya bergabung, olahraga ini ternyata sangat menyenangkan. Apalagi berkesempatan join dengan club resmi dan bertemu dengan atlet dari berbagai negara,” ujarnya.

Jael Lorenzen, yang merupakan anak kandung dari Rachel Lorenzen mengikuti olah raga piring terbang sejak 2014.

Sudah ratusan event baik antar kota dalam satu negara dan antar negara sudah dia ikuti.

Gadis 24 tahun yang berkuliah di Belanda dan saat ini sedang  menghabiskan masa liburannya di Papua mengaku sangat menggemari olah raga ini karena dalam permainan sangat menjunjung tinggi semangat kejujuran dan saling menghargai.

“Ini olahraga istimewa karena kita harus jujur dan harus sopan, saling menghargai dan menghormati dalam permainan,” ujarnya.

Jael mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Papua, ia sangat menyukai alam Papua terlebih di wilayah pesisir.

“Saya sempat ikut ke wilayah pesisir di Mimika,  saya juga pernah ikut pesta adat karapau di Nayaro,” ujarnya.

Wartawan/Editor: Yosefina

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar