Translate

Isak Tangis Keluarga Iringi Pembakaran Potongan Tubuh 4 Korban Mutilasi

Bagikan Bagikan
Kobaran api saat proses kremasi empat potongan tubuh korban mutilasi (Foto:salampapua.com/Acik)

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Isak tangis keluarga dan ribuan warga Nduga serta orang Papua lainnya di Timika mengiringi prosesi pembakaran (kremasi) potongan tubuh Irian Nirigi, Atis Tini, Arnold Lokbere, dan Leman Nirigi yang menjadi korban penembakan disertai mutilasi, tanggal 22 Agustus 2022 lalu di Timika, Papua Tengah.

Pembakaran potongan 4 tubuh yang tidak dilengkapi Kepala, kedua kaki dan kedua tangan itu dilaksanakan di sekitar gapura masuk Kampung Kadun Jaya, Kilometer 11 Timika, Jumat (16/9/2022).

Pantauan salampapua.com, sebelum prosesi pembakaran, sekira pukul 11.30 WIT, ribuan warga berbondong-bondong ke RSUD Mimika untuk menjemput 4 potongan tubuh warga Nduga korban mutilasi. Potongan tubuh tersebut dilepas dengan ibadah bersama di halaman ruang jenazah RSUD Mimika. Selanjutnya, iring-iringan dilanjutkan ke KM 11.

“Empat potongan tubuh empat korban ini sudah berada di ruang jenazah selama dua Minggu lebih. Karena berdasarkan catatan masing-masing potongan tubuh itu diterima tanggal 26 Agustus, 27 Agustus, 29 Agustus dan tanggal 31 Agustus,” ungkap Humas RSUD Mimika, Luky Mahakena.

Saat tiba di KM 11, sekira pukul 14.35 WIT, satu persatu potongan tubuh korban kekejaman enam prajurit TNI AD Brigif 20 ini diturunkan dari masing-masing ambulance. Diletakan di atas tumpukan dan tumpahan kayu, kemudian dibakar hingga menjadi debu. 

Kremasi juga diwarnai dengan orasi dari pihak keluarga dan warga Nduga yang diwakili Pale Gwijangge.

Di hadapan Kapolres Mimika, AKBP I Gede Putra, Dandim 1710/Mimika, Letkol Inf Dedy Dwi Cahyadi, Pale menegaskan bahwa 4 korban yang dikremasi ini benar-benar merupakan warga sipil dan bukan bagian dari Kelompok Kriminal  Bersenjata (KKB).

“Kami menolak tudingan itu. Itu hanya informasi yang disebar para pelaku sebagai alasan untuk membela diri,” ungkapnya.

Warga Nduga tahu hukum yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, jika ada di antara empat korban yang dicurigai sebagai bagian dari KKB, maka kenapa tidak ditangkap?

Demikian juga dengan tudingan bahwa satu dari empat korban terlibat jual-beli senjata api. Hal itu tidak benar, maka keluarga besar Nduga meminta agar motif yang sebenarnya harus diungkapkan.

“Kalau memang mereka dicurigai, kenapa tidak ditindak sesuai hukum yang berlaku di negara ini” ujarnya.

Untuk diketahui, empat korban ini ditembak, dibunuh dengan keji dan dimutilasi sehingga masih ada bagian tubuh lain yang tidak ditemukan. Potongan tubuh para korban diisi dalam karung disertai batu pemberat, lalu dibuang di sungai.

“Ini pembunuhan yang terstruktur, dan direncanakan, sehingga ada upaya menghilangkan barang bukti,” tuturnya.

Kemudian, atas kuasa Tuhan dan melalui warga Kamoro, diberikan jalan penunjuk bagi keluarga, sehingga potongan tubuh empat korban bisa ditemukan.

“Potongan tubuh ini bukan jenazah. Ini hanya potongan tubuh saja yang dipisahkan dari anggota badan lainnya oleh pihak-pihak yang tidak berprikemanusiaan. Makanya tidak ada putus-putusnya kami minta kepada penegak hukum agar motif kasus ini bisa terbuka,” katanya.

Wartawan: Acik

Editor: Jimmy

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar