Translate

Nuri, Kakatua dan dan Kura-Kura Moncong Babi Paling Banyak Dijual Ilegal Keluar Papua

Bagikan Bagikan
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika pada Bidang KSDA Wilayah I Merauke, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua, Bambang Hartanto Lakuy (Foto:salampapua.com/Jefri)

SALAM PAPUA (TIMIKA) - Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika pada Bidang KSDA Wilayah I Merauke, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua, Bambang Hartanto Lakuy, Rabu (7/9/2022), mengungkapkan bahwa masih banyak satwa liar yang dilindungi dari Papua yang sering dibawa keluar secara ilegal.

"Yang paling sering dibawa keluar secara ilegal adalah Burung Nuri, Burung Kakatua dan Kura-Kura Moncong Babi (KMB)," kata Bambang.

Ia menambahkan, kebanyakan burung Nuri dan Kakatua dibawa keluar secara pribadi, namun ada juga oknum-oknum tertentu yang membawa dalam jumlah yang banyak untuk diperjual-belikan.

"Sumber daya manusia (SDM) kita sangat terbatas sehingga banyak satwa liar yang lolos di bawa keluar Papua. Makanya kita sangat mengharapkan adanya sinergi dan peran semua instansi baik itu penegak hukum, instansi vertikal serta OPD teknis untuk sama-sama mengawasi peredaran satwa liar keluar Papua," terangnya.

Sementara itu, pada tahun 2019 sebanyak 5.100 Kura-Kura Moncong Babi yang akan diperdagangkan secara ilegal namun berhasil digagalkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua bersama pihak Polda Papua.

Selain itu, pada bulan Maret 2022 lalu pihak BKSDA Sumatera Barat bersama Polda Sumatera Barat berhasil menggagalkan perdagangan ilegal Kura-Kura Moncong Babi sebanyak 472 ekor dari Papua, dan 6 ekor kura-kura baning cokelat, selanjutnya diserahkan kepada BKSDA Papua untuk dilepas-liarkan pada habitatnya di Mimika-Papua.

"Untuk meminimalisir banyaknya perdagangan ilegal tersebut, sekarang kita membuka pemanfaatan telur Kura-Kura Moncong Babi untuk diambil oleh penangkar. Dengan ketentuan ketika sudah menetas 50 persen yang diperoleh harus dirilis dan 50 persen untuk dijadikan sebagai penangkar. Misalnya penangkar ambil 100 maka ketika sudah menetas 50 harus dirilis atau dilepas liar pada habitatnya, sedangkan 50 diambil untuk dimanfaatkan. Cara ini sangat efektif untuk menutup jalur-jalur ilegal," ujarnya.

Wartawan: Jefri Manehat

Editor: Jimmy

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar