Translate

Pasca Kenaikan BBM, Berikut Harga Sejumlah Bahan Pokok di Pasar Sentral Timika

Bagikan Bagikan
Salah satu kios yang menjual bahan pokok di Pasar Sentral Timika (Foto:salampapua.com/Yosefina)

SALAM PAPUA (TIMIKA) - Pemerintah resmi menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 3 September 2022 lalu melalui pengumuman yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Kepresidenan.

Harga BBM jenis pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000, Pertamax naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 dan solar naik dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800untuk setiap liternya.

Dampak kenaikan harga BBM bersubsidi biasanya langsung berpengaruh pada kenaikan harga bahan pokok karena berdampak pada biaya pengiriman bahan pokok dari produser sampai ke disributor dan penjual eceran.

Namun di Mimika tidak semua bahan pokok mengalami kenaikan harga, ada yang stabil malahan ada yang turun harga.

Seperti hasil wawancara Salam Papua dengan sejumlah pegadang di Pasar Sentral Timika di Jalan Hasanuddin, Rabu (14/9/2022), sayuran, bumbu, minyak goreng dan daging ayam mengalami penurunan harga, kecuali cabai rawit mengalami kenaikan harga.

Selain cabai rawit, bahan pokok lainnya yang mengalami kenaikan harga yakni daging sapi, beras dan mie instan.

Kemudian harga daging babi stabil namun karena harga pakan mengalami kenaikan yang cukup tinggi sehingga potongan daging babi yang dijul sedikit lebih kecil.

Seperti di kios Haji Ima, harga beras merek tawon 20 kilogram sebelum kenaikan BBM dijual seharga Rp 258 ribu, setelah kenaikan BBM menjadi Rp 268 ribu. Beras merk mawar merah kemasan 15 kilogram sebelumnya dijual Rp 180ribu kini menjadi Rp 185 ribu.

Sementara merk sinar Sulawesi Papua masih stock lama sehingga harganya masih sama untuk kemasan 15 kilogram Rp 180ribu, begitu juga merek mawar Sulawesi kemasa 20 kilogram masih dengan harga yang sama Rp 225 ribu.

Harga mie instan merk mie sedapp juga mengalami kenaikan. Satu karton mie sedaapp, untuk mie rebus sebelumnya seharga Rp 100.500 menjadi Rp 112.000, sementara mie goreng sebelumnya Rp 105.000 per karton sudah menjadi Rp 116.000 per karton.

Harga minyak goreng justru mengalami penurunan. Minyak bimoli kemasan jerigen lima liter  sebelumnya seharga Rp 160 ribu sekarang Rp 150 ribu. Bimoli kemasan plastik dua liter sebelumnya Rp 65 ribu sekarang Rp 55 ribu. Minyak goreng merk sania kemasan dirigen lima liter sebelumnya Rp 159 ribu sekarang Rp 120 ribu. Sania kemasan plastik dua liter sebelumhya Rp 55 ribu sekarang menjadi Rp 45 ribu. Minyak goreng merk kunci mas sebelumnya kemasan plastik dua liter seharga Rp 55 ribu sekarang seharga Rp 45 ribu, kemudian merk fortune kemasan dua liter sebelumnya dijual seharga Rp 55 ribu sekarang menjadi Rp 40 ribu.

Harga gula dan produk Sembako lainnya di kios milik Haji Ima masih stabil setelah kenaikan BBM.

Di lapak sayur dan bumbuk milik Atika, harga sayur sawi  sebelumnya dari petani Rp20 ribu per kilogram kini menjadi Rp8000 per kilogram. Sementara kangkung masih satu ikat Rp10 ribu namun ikatannya jauh lebih besar dari sebelumnya.

Bawang merah juga turun harga jual dari 80 per kilogram menjadi 50 per kilogram. Bawang putih masih diharga normal Rp40 per kilogram. Kemudian tomat per kilogram saat ini Rp25 ribu dari sebelumnya 40 per kilogram.

Kalau cabai rawit mengalami kenaikan harga, sebelumnya harga jual sekitar Rp90 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp115 ribu per kilogram.

Sementara harga daging ayam juga mengalami penurunan. Hamzah pemilik lapak penjualan daging ayam dan sapi menjelaskan pembelian dari distibutor seharga Rp35 ribu per kilogram dan ia menjual dengan harga Rp37 ribu per kilogram dari harga sebelumnya pembelian di distributor Rp38 ribu per kilogram dan dijual eceran Rp40 ribu per kilogram.

Sementara daging sapi mengalami kenaikan sehingga ia tidak memiliki persediaan di lapak jualannya.

“Sudah hampir sebulan ini hampir semua penjual daging tidak punya persediaan daging sapi di pasar karena harga daging sapi mahal sekali. Sebelumnya harga jual perkilo Rp130,  sekarang Rp150 ribu smpai Rp160 ribu. Tapi persediaa  di distributor selalu jadi kalau ada yang mau beli banyak baru kita ambil di distributor. Tapi kalau untuk persediaan di pasar kita tidak berani,” ujarnya.

Kemudian untuk daging babi harganya tetap Rp100.000 per potong namun ukurannya lebih kecik dari sebelumnya karena harga pakan sudah naik.

Menurut Andreas, penjual daging babi di Pasar Sentral, tahun lalu harga pakan Rp 480 ribu untuk kemasan satu karung 50 kilogram, tahun ini harga pakan naik menjadi Rp575 ribu.

Kalau kita jual satu ekor babi itu keuntungan bersih Rp300 ribu. Sehari itu kadang kita potong satu ekor juga tidak habis. Sepi pembeli, ramai kalau hari Sabtu. Tapi itu juga kadang-kadang saja,” katanya.

Wartawan: Yosefina

Editor: Jimmy

Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Posting Komentar