SALAM PAPUA (TIMIKA) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Kabupaten Mimika mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 4,31 persen pada Februari 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,45.

Sementara secara month to month (m-to-m), Timika juga mengalami inflasi sebesar 0,32 persen. Kepala BPS Kabupaten Mimika, Ouceu Satyadipura, mengatakan secara umum perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2026 menunjukkan tren kenaikan.

Inflasi y-on-y terjadi akibat meningkatnya sejumlah kelompok pengeluaran, terutama kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 16,55 persen. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,41 persen, kesehatan sebesar 0,26 persen, serta transportasi sebesar 2,84 persen.

Kenaikan juga tercatat pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 4,04 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,08 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat signifikan hingga 29,39 persen.

“Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,37 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 1,12 persen, serta pendidikan sebesar 0,15 persen. Sedangkan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tidak mengalami perubahan indeks harga konsumen secara y-on-y,” ujar Ouceu dalam rilis yang diterima salampapua.com, Jumat (6/3/2026).

Untuk inflasi m-to-m, beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain emas perhiasan, jeruk nipis/limau, bawang putih, ikan kembung, tauge, kangkung, terong, gula pasir, ketimun, daging ayam ras, mobil, sabun mandi, sepeda motor, dan pembalut wanita.

Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi m-to-m pada Februari 2026 antara lain tomat, daging babi, bawang merah, cabai rawit, wortel, bensin, kol putih/kubis, daun bawang, angkutan udara, serta baju anak stelan.

Ouceu menjelaskan, jika dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi y-on-y Februari 2026 sebesar 4,31 persen lebih tinggi dibanding Februari 2025 yang sebesar 2,65 persen dan Februari 2024 yang sebesar 3,54 persen.

Selain itu, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) hingga Februari 2026 tercatat 0,60 persen, berbanding terbalik dengan Februari 2025 yang masih mengalami deflasi 1,60 persen serta Februari 2024 yang deflasi 0,32 persen.

“Tekanan inflasi Timika pada Februari 2026 terutama dipicu oleh kenaikan tarif listrik dan harga emas perhiasan. Meski demikian, sejumlah komoditas pangan masih mencatatkan deflasi dan membantu menahan laju inflasi agar tidak lebih tinggi,” pungkasnya.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi