SALAM PAPUA (TIMIKA)– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggelar pertemuan evaluasi cakupan layanan ibu bersalin di seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas, Klinik Bersalin hingga Rumah Sakit, yang berlangsung di Ballroom Hotel Grand Tembaga lantai II, Jumat (29/5/2026).

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes Mimika, Godfried Maturbongs mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengevaluasi capaian pelayanan kesehatan ibu dan anak sekaligus memperkuat upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Mimika.

Menurutnya, fokus utama evaluasi adalah meningkatkan kualitas pelayanan persalinan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan ibu dan anak.

“Evaluasi ini digelar untuk meninjau capaian program, menganalisis data, serta menyusun tindak lanjut pelayanan ibu bersalin sesuai standar dan pedoman teknis yang berlaku,” ujar Godfried.

Ia menjelaskan, berdasarkan data tahun 2025, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Mimika mencapai 89 persen, sementara persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan mencapai 86 persen. Angka tersebut masih berada di bawah indikator nasional yang ditargetkan sebesar 88 persen.

Godfried menuturkan, kesehatan ibu dan anak menjadi perhatian penting karena ibu dan anak termasuk kelompok rentan yang memerlukan pelayanan kesehatan optimal, mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, menyusui hingga masa pertumbuhan anak.

Keberhasilan pelayanan kesehatan ibu dan anak, lanjutnya, dapat diukur melalui Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Ia menyebutkan, berdasarkan Long Form Sensus Penduduk tahun 2020, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 189 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi mencapai 16,85 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030, yakni AKI sebesar 70 dan AKB sebesar 12.

Sementara di Kabupaten Mimika tahun 2025, angka kematian ibu tercatat 304 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi berada pada angka 11 per 1.000 kelahiran hidup.

“Mengevaluasi standar pelayanan ibu bersalin, kelayakan fasilitas, dan kesigapan tenaga kesehatan dalam menolong persalinan juga penting dilakukan, termasuk memastikan sistem rujukan ibu bersalin risiko tinggi berjalan tepat waktu,” katanya.

Selain itu, evaluasi juga difokuskan pada peningkatan sistem pencatatan dan pelaporan berbasis aplikasi Location Based Service (LBS) guna mempermudah pemetaan fasilitas kesehatan, pelacakan kasus, hingga layanan darurat secara real-time.

Godfried berharap melalui evaluasi tersebut seluruh fasilitas kesehatan di Mimika dapat meningkatkan kualitas pelayanan ibu dan anak sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat terus ditekan.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi