Perempuan Papua Pertama Kantongi Lisensi Airbus A320, Marlina Chlara Sesa Buktikan Kegagalan Bukan Akhir Perjalanan Marlina Sesa, perempuan yang pernah tidak lolos seleksi pramugari, kini kantongi sertifikasi Type Rating Airbus A320 bersama para pilot dari Filipina beberapa waktu lalu (Salampapua.com/Goodnewsfromindonesia)

Perempuan Papua Pertama Kantongi Lisensi Airbus A320, Marlina Chlara Sesa Buktikan Kegagalan Bukan Akhir Perjalanan

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Sepuluh tahun lalu, Marlina Chlara Sesa harus menerima kenyataan pahit. Mimpi perempuan asal Papua itu untuk berkarier di dunia penerbangan sempat kandas setelah gagal lolos seleksi pramugari. Penolakan tersebut menjadi pukulan dalam hidupnya, namun tidak membuatnya menyerah.

Sebaliknya, kegagalan itu justru menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya. Jika tidak bisa berada di kabin sebagai pramugari, Marlina memutuskan untuk mengejar mimpi yang lebih besar, yakni duduk di kokpit sebagai pilot pesawat komersial.

Pilihan itu kini membawanya mencatat sejarah sebagai perempuan asli Papua pertama yang mengantongi lisensi Type Rating Airbus A320 dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan. Sertifikasi tersebut merupakan syarat wajib bagi seorang pilot sebelum diperbolehkan menerbangkan pesawat Airbus A320, salah satu pesawat penumpang berbadan sempit (narrow-body aircraft) yang paling banyak dioperasikan maskapai penerbangan di Indonesia maupun dunia.

Prestasi tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga tonggak penting bagi kemajuan sumber daya manusia Papua di sektor penerbangan. Di tengah masih minimnya keterwakilan perempuan, khususnya perempuan asli Papua, di dunia aviasi, Marlina membuktikan bahwa kerja keras, pendidikan, dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang menembus batas-batas yang selama ini dianggap sulit dicapai.

Perjalanan Marlina dimulai di Papua. Perempuan asal Suku Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, itu menghabiskan masa kecilnya dengan menempuh pendidikan dasar hingga sekolah menengah pertama di tanah kelahirannya. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di Yogyakarta.

Tumbuh di Papua, wilayah yang sebagian besar daerahnya masih bergantung pada transportasi udara untuk menghubungkan kota-kota maupun kawasan pedalaman, membuat pesawat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ketertarikannya terhadap dunia penerbangan pun tumbuh sejak usia muda dan perlahan berubah menjadi cita-cita.

Setelah lulus sekolah, Marlina mencoba mewujudkan mimpinya dengan mengikuti seleksi pramugari. Namun, ia dinyatakan tidak lolos karena belum memenuhi sejumlah persyaratan. Pengalaman tersebut sempat mengecewakan, tetapi tidak mematahkan semangatnya untuk tetap berkarier di dunia penerbangan.

Bagi sebagian orang, kegagalan mungkin menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Namun bagi Marlina, penolakan itu justru menjadi motivasi untuk mengambil tantangan yang lebih besar. Ia memutuskan menempuh pendidikan sebagai pilot, profesi yang selama ini masih didominasi laki-laki.

Langkah besar itu dimulai pada 2015 ketika Marlina berangkat ke Filipina untuk menempuh pendidikan di Asian Institute of Aviation. Di sekolah penerbangan tersebut, ia menjalani pendidikan dan pelatihan intensif yang menuntut disiplin tinggi, mulai dari mempelajari aerodinamika, meteorologi, navigasi penerbangan, komunikasi radio, sistem pesawat, hingga berbagai prosedur keselamatan penerbangan.

Selain pembelajaran teori, Marlina juga mengikuti latihan terbang menggunakan pesawat latih, simulasi penerbangan, serta berbagai ujian kompetensi yang memiliki standar tinggi. Seorang calon pilot juga dituntut memiliki kondisi kesehatan yang prima, kemampuan mengambil keputusan dalam situasi darurat, serta ketelitian dalam setiap prosedur penerbangan.

Berkat kerja keras dan kedisiplinannya, Marlina berhasil memperoleh tiga lisensi dasar penerbangan, yakni Private Pilot License (PPL), Commercial Pilot License (CPL), dan Instrument Rating (IR).

Ketiga lisensi tersebut merupakan tahapan penting dalam jenjang karier seorang pilot profesional. PPL memberikan kewenangan menerbangkan pesawat secara pribadi, CPL menjadi syarat untuk bekerja sebagai pilot komersial, sedangkan IR membekali kemampuan menerbangkan pesawat dengan mengandalkan instrumen navigasi dalam berbagai kondisi cuaca.

Meski telah mengantongi ketiga lisensi tersebut, perjalanan Marlina belum selesai. Untuk memenuhi syarat menjadi pilot maskapai penerbangan, ia masih harus memperoleh Multi-Engine Rating (MER), yakni sertifikasi yang memberikan kewenangan menerbangkan pesawat bermesin ganda sekaligus menambah jam terbang.

Kesempatan itu datang melalui dukungan hibah Pemerintah Provinsi Papua Barat yang membiayai pelatihan MER beserta penambahan jam terbangnya. Dukungan tersebut menjadi modal penting bagi Marlina untuk melangkah menuju dunia penerbangan komersial.

Perjuangan kembali berlanjut pada Januari hingga April 2026. Melalui dukungan pembiayaan dana Otonomi Khusus Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, Marlina mengikuti pelatihan Type Rating Airbus A320 di Global Training Aviation, Tangerang.

Pelatihan tersebut merupakan salah satu tahapan paling penting dalam karier seorang pilot. Dalam dunia penerbangan, setiap jenis pesawat memiliki karakteristik, sistem navigasi, konfigurasi kokpit, prosedur operasional, hingga penanganan kondisi darurat yang berbeda. Karena itu, seorang pilot, sekalipun telah memiliki ribuan jam terbang, tetap diwajibkan mengikuti pelatihan khusus sebelum memperoleh izin menerbangkan tipe pesawat tertentu.

Selama pelatihan, Marlina mempelajari seluruh sistem Airbus A320 secara mendalam, menjalani latihan menggunakan simulator penerbangan berteknologi tinggi, mempraktikkan prosedur operasi normal maupun darurat, hingga mengikuti evaluasi kompetensi sesuai standar keselamatan penerbangan internasional.

Setelah berhasil menyelesaikan seluruh tahapan tersebut, Marlina resmi mengantongi sertifikasi Type Rating Airbus A320 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Pencapaian itu menjadikannya sebagai perempuan asli Papua pertama yang berhasil memperoleh lisensi untuk menerbangkan Airbus A320. Keberhasilannya menjadi tonggak penting dalam sejarah dunia penerbangan Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa putra-putri Papua mampu bersaing di bidang yang membutuhkan kompetensi tinggi, disiplin, dan standar internasional.

Airbus A320 sendiri dikenal sebagai salah satu pesawat penumpang paling populer di dunia. Pesawat ini mengusung teknologi fly-by-wire, yaitu sistem kendali elektronik yang menuntut kemampuan teknis, ketelitian, serta tanggung jawab besar dari seorang pilot. Keberhasilan Marlina menguasai teknologi tersebut menjadi bukti bahwa sumber daya manusia Papua mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi penerbangan modern.

Lebih dari sekadar prestasi pribadi, perjalanan Marlina menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua. Ia membuktikan bahwa keterbatasan geografis, stereotip, maupun kegagalan tidak menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Di tengah masih minimnya jumlah pilot perempuan di Indonesia, kehadirannya menjadi simbol bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menembus profesi yang selama ini didominasi laki-laki.

Bagi Marlina, lisensi Airbus A320 bukanlah garis akhir perjuangan. Sertifikasi tersebut menjadi pintu untuk mewujudkan impian berikutnya, yakni bergabung dengan salah satu maskapai penerbangan nasional sebagai pilot pesawat komersial.

Kisah Marlina Chlara Sesa menghadirkan narasi optimistis tentang potensi sumber daya manusia Papua. Dari seorang pelamar pramugari yang pernah gagal lolos seleksi, kini ia berdiri sebagai perempuan Papua pertama yang mengantongi lisensi Airbus A320. Perjalanannya menjadi bukti bahwa kerja keras, pendidikan, disiplin, dan keberanian untuk bangkit setelah gagal mampu mengubah keterbatasan menjadi prestasi yang membanggakan.

Kini, nama Marlina Chlara Sesa tidak hanya dikenal sebagai seorang pilot, tetapi juga sebagai simbol harapan bagi generasi muda Papua. Keberhasilannya menjadi penanda bahwa langit bukan lagi batas bagi anak-anak Papua untuk bermimpi, melainkan awal dari perjalanan menuju masa depan yang lebih luas. (Sumber: Goodnewsfromindonesia dan Sumber Lainnya)

Editor: Sianturi