SALAM PAPUA (BANDUNG) – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, Jawa Barat, sekelompok mahasiswa asal Kabupaten Mimika, Papua Tengah, tampil mengenakan busana adat Suku Amungme dan Kamoro. Penampilan mereka bukan sekadar atraksi budaya, tetapi menjadi simbol semangat, persatuan, dan perjuangan dalam menggalang dana untuk menyukseskan Seminar, Perayaan Natal, dan Tahun Baru Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) Se-Jawa Bali 2026–2027.
Melalui pentas seni yang berlangsung dengan tertib dan penuh antusiasme, para mahasiswa memperkenalkan kekayaan budaya Mimika kepada masyarakat Kota Bandung. Beragam pertunjukan, mulai dari tarian tradisional hingga busana adat khas Papua, berhasil menarik perhatian warga yang melintas.
Koordinator Lapangan, Perianus Kum, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud kebersamaan mahasiswa Mimika yang sedang menempuh pendidikan di Bandung.
Koordinator Lapangan, Perianus Kum (Salampapua.com/IPMAMI) "Kami ingin menunjukkan bahwa budaya Mimika adalah identitas yang harus terus dijaga. Di tanah rantau kami tidak hanya belajar di bangku kuliah, tetapi juga membawa nama baik daerah, memperkenalkan budaya, serta menjaga persaudaraan di antara sesama mahasiswa," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Panitia Natal, Seminar dan Tahun Baru IPMAMI Se-Jawa Bali, Melian Magal, mengungkapkan bahwa masyarakat Kota Bandung memberikan respons yang sangat positif terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, banyak warga yang berhenti untuk menyaksikan pertunjukan, mengenal lebih dekat budaya Suku Amungme dan Kamoro, memberikan donasi secara sukarela, hingga berfoto bersama sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap perjuangan mahasiswa asal Mimika.
Selain menggalang dana melalui pentas seni, panitia juga masih menunggu tindak lanjut atas sejumlah proposal bantuan yang telah diajukan kepada berbagai pihak, di antaranya PT Freeport Indonesia, Pemerintah Kabupaten Mimika yang saat ini masih dalam proses disposisi di Bappeda, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta sejumlah mitra dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam pelaksanaannya, panitia membagi peserta ke dalam beberapa kelompok penampilan, yakni kelompok busana adat Suku Amungme dan Kamoro, kelompok Tari Yospan dan Pangkur Sagu, kelompok Wisis dan Aster, serta kelompok Tari Waitak yang merupakan tarian adat Suku Amungme.
Melalui kegiatan tersebut, IPMAMI Se-Jawa Bali berharap pemerintah, dunia usaha, lembaga adat, alumni, orang tua, dan seluruh masyarakat dapat memberikan dukungan nyata agar rangkaian Seminar, Perayaan Natal, dan Tahun Baru IPMAMI Se-Jawa Bali 2026–2027 dapat terselenggara dengan baik.
Bagi para mahasiswa, busana adat yang dikenakan bukan sekadar pakaian, melainkan simbol identitas yang terus dijaga. Setiap tarian yang dipentaskan mengandung nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, sementara setiap langkah perjuangan di tanah rantau menjadi bukti kecintaan mereka terhadap Kabupaten Mimika.
Dengan semangat persaudaraan dan gotong royong, mahasiswa asal Mimika terus berupaya mengharumkan nama daerah, mempererat solidaritas antarmahasiswa, serta berkontribusi membangun masa depan Papua Tengah yang lebih baik.
"Satu budaya, satu persaudaraan, satu perjuangan." Semangat itulah yang terus dihidupi IPMAMI Se-Jawa Bali dalam mewujudkan Seminar, Perayaan Natal, dan Tahun Baru 2026–2027 yang sukses, bermakna, dan menjadi ruang mempererat persatuan mahasiswa Mimika di tanah rantau. (Sumber: IPMAMI)
Editor: Sianturi