SALAM PAPUA (TIMIKA) — Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas mengatakan kontribusi PTFI kepada negara berpotensi mencapai Rp120 triliun per tahun ketika produksi perusahaan kembali mencapai 100 persen.
Tony menjelaskan, sepanjang 2025 PTFI telah memberikan kontribusi sekitar Rp75 triliun kepada kas negara melalui pajak, royalti, dividen, dan berbagai pungutan lainnya. Sementara pada 2026, meski produksi masih dalam tahap pemulihan dan ditargetkan mencapai 65 persen, penerimaan negara dari PTFI diproyeksikan sekitar Rp47 triliun.
Hal itu disampaikan Tony kepada awak media seusai memimpin upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di Sport Hall Tembagapura, Senin (17/8/2026).
“Tahun ini kita rencanakan walaupun kita hanya bisa produksi 65 persen, tapi diproyeksikan penerimaan negara dari PT Freeport Indonesia bisa mencapai Rp47 triliun. Tahun depan tentu akan lebih tinggi lagi karena kita bisa mencapai semester pertama sebesar 75 persen dan akhir tahun menuju 100 persen,” ujar Tony.
Menurutnya, ketika produksi kembali 100 persen, kontribusi PTFI kepada negara dapat meningkat signifikan.
“Bisa lebih dari Rp100 triliun, mungkin bisa Rp120 triliun setiap tahunnya. Itulah kira-kira kontribusi Freeport kepada negara,” katanya.
Tony mengatakan proses pemulihan produksi terus dilakukan, termasuk modifikasi sejumlah peralatan tambang karena kondisi lokasi tambang saat ini lebih basah dibandingkan sebelumnya.
PTFI menargetkan produksi meningkat bertahap dari 65 persen pada 2026 menjadi 75 persen pada semester pertama 2027 dan menuju 100 persen pada semester kedua.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi, PTFI juga mengembangkan Tambang Bawah Tanah Kucing Liar di Tembagapura. Dari total rencana investasi Rp72 triliun, sekitar Rp24 triliun telah direalisasikan.
Tambang Kucing Liar ditargetkan mulai berproduksi pada 2029 dengan kapasitas pengolahan sekitar 130.000 ton bijih per hari, serta memiliki potensi cadangan sekitar 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas selama masa operasinya.
Tony menilai pengembangan Kucing Liar penting untuk menjaga stabilitas produksi ketika Grasberg Block Caving mulai mengalami penurunan produksi.
Ia juga menegaskan pentingnya perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) setelah 2041 untuk menjamin keberlanjutan investasi, tenaga kerja, penerimaan negara, dan program pengembangan masyarakat.
“Intinya adalah jika tambang itu berhenti di 2041, tidak ada yang diuntungkan. Pemerintah juga rugi karena tidak ada pemasukan lagi dari Freeport. Karyawan 30 ribu tidak ada lagi, demikian juga program pengembangan masyarakat tidak ada lagi. Namun kalau itu diperpanjang, maka semua pihak diuntungkan,” tegasnya.
Terkait perpanjangan IUPK, Tony mengatakan pembahasannya masih berlangsung secara teknis bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). PTFI juga mempersiapkan divestasi tambahan sebesar 12 persen yang akan berlaku mulai 2041.
Di sisi lain, PTFI tetap memprioritaskan hilirisasi dengan mengutamakan hasil produksi tembaga dan emas untuk kebutuhan industri dalam negeri.
“Emas kami akan sepenuhnya diserap seluruhnya oleh PT Antam. Katoda tembaga karena memang ada industri dalam negeri yang butuh, sudah tentu kita prioritaskan dalam negeri, dan jika masih ada baru kita ekspor,” tuturnya.
Penulis/Editor: Sianturi