SALAM PAPUA (NABIRE) – Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai yang tergabung dalam Ikatan Pelajar dan Mahasiswa-mahasiswi Dogiyai (Ipmado) Kota Studi Nabire, Papua Tengah, menggelar aksi demonstrasi damai di Pasar Karang, Nabire, Senin (28/9/2026).
Aksi tersebut digelar untuk menuntut transparansi dan pengungkapan fakta terkait peristiwa berdarah yang menewaskan lima warga sipil, termasuk Brigadir Juventus Edowai, pada 31 Maret hingga 2 April 2026.
Massa aksi menilai proses penanganan kasus tersebut oleh aparat penegak hukum belum memberikan kejelasan dan transparansi yang diharapkan masyarakat.
Pantauan Salam Papua, massa aksi mulai bergerak sekitar pukul 06.00 WIT dengan membawa salib berwarna merah serta sejumlah poster bertuliskan, “Dogiyai Butuh Keadilan”, “Save Dogiyai”, dan “Dogiyai Butuh Keadilan, Bukan Darah yang Terus Tumpah!”
Dalam aksi tersebut, Ipmado menyampaikan lima tuntutan utama, yakni: Pertama, menuntut kejelasan dan pengungkapan fakta terkait peristiwa Dogiyai Berdarah pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Kedua, mendorong proses hukum yang adil dan transparan terhadap dugaan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia (HAM).
Ketiga, menyerukan perlindungan terhadap masyarakat sipil serta penghormatan terhadap hak hidup dan keselamatan setiap manusia, keempat, mendorong perhatian pemerintah terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat Dogiyai dan mengajak seluruh pelajar dan mahasiswa menjaga persatuan, solidaritas, serta ketertiban dalam menyampaikan aspirasi.
Dalam orasinya, Koordinator Lapangan Berteb mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah, DPR Papua Tengah, Polda Papua Tengah, Polres Dogiyai, serta aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus yang menewaskan lima warga sipil, termasuk Brigadir Juventus Edowai.
“Mendesak kepada Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI dan jajarannya agar segera membuka mata terhadap kasus peristiwa berdarah di Tanah Papua. DPR Papua Tengah, stop jadikan lahan bisnis dalam pengungkapan kasus tragedi di Tanah Papua,” ujarnya.
Ia juga mendesak Kapolda Papua Tengah dan Kapolres Dogiyai segera mengungkap pelaku dalam kasus pembunuhan warga sipil tersebut.
“Demonstrasi ini kami lakukan untuk mengecek aspirasi yang kami sampaikan beberapa waktu lalu, karena dinilai pihak penegak hukum tidak transparan dalam penanganan kasus tersebut,” tegasnya.
Berteb mengajak seluruh masyarakat Dogiyai agar tidak diam terhadap berbagai persoalan yang dinilai mengancam keselamatan masyarakat asli Papua.
“Kami tidak akan tinggal diam jika pihak penegak hukum tidak menuntaskan tragedi Dogiyai terhadap lima warga sipil,” tegasnya.
Sebelumnya, Kapolda Papua Tengah Jermias Rontini bersama Gubernur Papua Tengah melakukan kunjungan ke Dogiyai dan bertemu masyarakat di Aula Digikotu, Senin (7/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Jermias Rontini mengatakan pihaknya memahami dan mencatat aspirasi serta keresahan yang disampaikan masyarakat Dogiyai.
“Terkait kasus pembunuhan saudara kita, Polisi Juventus Edowai, beserta delapan korban lainnya, kami memberikan kepastian: kasus ini akan terungkap sepenuhnya dan kebenaran akan terungkap secara keseluruhan sebelum bulan Desember tahun 2026,” kata Kapolda Papua Tengah.
Kapolda menjelaskan, tim penyelidik telah bekerja dan terus mengumpulkan berbagai informasi, keterangan saksi, serta bukti-bukti terkait peristiwa tersebut.
Menurutnya, hasil penyelidikan nantinya akan disampaikan secara terbuka kepada publik agar masyarakat mengetahui secara jelas pihak yang bertanggung jawab, kronologi kejadian, serta dasar hukum dalam penanganan kasus tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan sekitar pukul 09.40 WIT, massa aksi masih berkumpul dan berorasi di kawasan Pasar Karang, Nabire, sambil menunggu kedatangan massa aksi pelajar dan mahasiswa Dogiyai lainnya.
Penulis: Elias Douw
Editor: Sianturi